Pengalaman Magang di Jepang, Tantangan dan Kesempatan bagi Mahasiswa STIE Malangkucecwara
Mercidominick Fidelius Conrad Menachem Purba, atau yang akrab dipanggil Merci, merupakan salah satu mahasiswa STIE Malangkucecwara yang berhasil meraih kesempatan langka untuk magang selama satu tahun di Jepang. Keberangkatan ini menjadi momen penting bagi keluarganya, sekaligus menghadirkan rasa bangga dan haru.
Perjalanan Merci menuju Jepang tidak berjalan instan. Awalnya, ia memiliki keinginan kuat untuk mencari pengalaman kerja di luar negeri. Dengan tekad yang kuat, ia mengikuti serangkaian seleksi hingga akhirnya dinyatakan lolos. Namun, keberangkatan sempat tertunda karena belum tersedianya posisi magang khusus untuk peserta laki-laki.
Ibu dari Merci, Evita Liasari, menjelaskan bahwa kesempatan tersebut sudah ada sejak setahun lalu. Namun, pada saat itu belum ada posisi yang tersedia. Baru pada Januari 2026, kabar baik datang dan Merci akhirnya bisa berangkat.
“Ya pasti kangen, apalagi anak tunggal. Tapi kami melihat ini sebagai bagian dari proses pembelajaran,” ujar Evita. Ia juga menilai, kesempatan magang di luar negeri tidak datang kepada semua orang, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Persiapan yang Matang
Merci, mahasiswa jurusan manajemen angkatan 2022, akan menjalani program magang selama satu tahun. Program ini membuat masa studinya mundur hingga semester delapan. Ia akan ditempatkan di bagian kitchen atau dapur dengan jam kerja sekitar delapan jam per hari.
Meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan bidang studinya, Merci menilai pengalaman ini tetap memiliki keterkaitan, terutama dalam hal manajemen kehidupan. “Di sana kita belajar bukan hanya bekerja, tapi bagaimana mengelola kehidupan, keuangan, dan tanggung jawab. Apalagi ini juga membawa nama kampus dan Indonesia,” jelasnya.
Untuk mempersiapkan diri, Merci telah melakukan berbagai persiapan. Mulai dari mengikuti kursus bahasa Jepang hingga menyiapkan kebutuhan sesuai musim di Jepang. “Saya berangkat pas musim semi, jadi menyesuaikan barang bawaan. Selain itu yang penting juga persiapan mental,” ujarnya.
Kekhawatiran dan Harapan
Di balik semangat dan antusiasme, Merci mengaku memiliki kekhawatiran, terutama dalam hal adaptasi di negara dengan empat musim. “Yang dikhawatirkan itu di awal, mungkin satu sampai satu setengah bulan pertama. Adaptasi bahasa, lingkungan, dan musim. Tapi saya yakin bisa dilewati,” tandasnya.
Pengalaman magang di Jepang ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi Merci, serta meningkatkan kemampuan dirinya secara mandiri. Dengan pengalaman ini, ia berharap dapat kembali ke Indonesia dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas, serta siap menghadapi tantangan di masa depan.





