Masalah Menu Makanan Bergizi Gratis di SMPN 2 Tarakan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Tarakan, Kalimantan Utara, mengalami gangguan selama lima hari akibat keluhan yang muncul dari orang tua siswa. Keluhan ini berawal dari penyebaran informasi di media sosial yang menyebutkan bahwa menu MBG Ramadan 2026 tidak sesuai dengan harapan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Permasalahan Awal dan Respons Sekolah
Kepala SMPN 2 Tarakan, Abdul Rahman, menjelaskan bahwa keluhan tersebut muncul setelah ada postingan viral di media sosial yang menyebutkan ketidakpuasan siswa terhadap menu MBG. Menurutnya, masalah ini disebabkan oleh kendala operasional dan keterbatasan bahan baku di pihak SPPG (Sekolah Pengadaan Pangan).
“Alasan pertama adalah kesulitan dalam mengatur menu MBG. Selain itu, ketersediaan bahan baku juga tidak cukup,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RPD) di Kantor DPRD Tarakan, Senin (2/3/2026). Ia menambahkan bahwa permasalahan yang dilaporkan pada hari pertama telah ditangani dan diperbaiki pada hari Selasa.
Namun, masalah terus berlanjut hingga hari Rabu, sehingga pihak sekolah memutuskan untuk tidak menerima distribusi MBG selama lima hari. Hal ini membuat siswa kehilangan akses terhadap program yang biasanya memberikan semangat belajar.
Penyebab Penutupan Sementara
Menurut Abdul Rahman, alasan utama penutupan sementara adalah karena menu MBG dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi. Meskipun pihak SPPG telah melakukan evaluasi dan perbaikan, keluhan yang muncul dari orang tua siswa membuat situasi menjadi lebih rumit.
“Kami mempertanyakan mengapa penutupan dilakukan. Kami berharap agar MBG segera kembali didistribusikan,” katanya. Ia juga mengungkapkan bahwa pihak sekolah sedang berupaya untuk memperbaiki Standar Operasional Prosedur (SOP) serta alur pengaduan agar distribusi MBG dapat berjalan lebih baik di masa depan.
Dampak Terhadap Siswa dan Orang Tua
Pihak SPPG yang melayani SMPN 2 Tarakan juga memberikan layanan kepada beberapa sekolah lain seperti SMAN 1 Tarakan, SDN 024, dan TK Handayani. Menurut Abdul Rahman, SPPG sedang melakukan evaluasi dan pembenahan untuk memastikan kualitas menu MBG meningkat.
“Kami berharap MBG segera kembali normal karena program ini sangat penting bagi siswa,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sejak Agustus 2025, MBG resmi diberikan kepada siswa. Namun, saat ini siswa terpaksa tidak menerima MBG selama lima hari, yang menjadi pukulan berat bagi mereka.
Komentar tentang Viral di Media Sosial
Abdul Rahman mengatakan bahwa meskipun viral di media sosial bisa menjadi cara untuk mendapatkan respons cepat, ia menilai tidak semua masalah perlu dibuat viral. “Tapi tidak serta merta semua harus diviralkan karena ada dampak ya. Sebetulnya hari itu sudah selesai tapi karena diviralkan, sampai hari ini anak-anak lima hari tak dapat MBG,” tukasnya.
Ia menegaskan bahwa orang tua siswa sebaiknya menyampaikan keluhan langsung ke sekolah agar dapat segera dikomunikasikan ke SPPG untuk diperbaiki. “Kami harapkan orangtua ketika ada permasalahan disampaikan ke sekolah dan cepat segera koordinasi ke SPPG untuk diganti,” jelasnya.
Evaluasi awal terhadap distribusi MBG Ramadan telah dilakukan, dan pihaknya telah membuat laporan ke SPPG. Namun, masalah tetap terjadi karena makanan tersebut sampai di rumah dan dilihat oleh orang tua siswa yang mungkin menilai tidak sesuai ekspektasi. Ia berharap agar masalah ini dapat segera diselesaikan dan MBG kembali berjalan normal.





