Siapa Dwi Sasetyaningtyas? 3 Bisnis Alumnus LPDP yang Viral Soal Paspor Inggris

Klanhartono 1
Klanhartono 1

Profil Dwi Sasetyaningtyas: Pengusaha Muda yang Berkomitmen pada Lingkungan

Dwi Sasetyaningtyas, seorang pengusaha muda Indonesia, kini menjadi sorotan di media sosial karena status kewarganegaraan anaknya. Meski ada polemik yang muncul, Tyas tetap dikenal sebagai sosok yang vokal dalam mengampanyekan gaya hidup berkelanjutan (sustainable living). Selain itu, ia juga memiliki tiga bisnis utama yang menjadi sumber pundi-pundi keuangannya sekaligus wadah edukasi lingkungan bagi masyarakat Indonesia.

1. Sustaination: Platform Edukasi Lingkungan dan Bisnis Ramah Lingkungan

Sustaination adalah bisnis utama yang dikelola oleh Dwi Sasetyaningtyas. Platform ini bergerak di bidang gaya hidup berkelanjutan, dengan fokus pada edukasi masyarakat untuk mengurangi jejak kerusakan lingkungan. Kegiatan utama Sustaination mencakup memberikan informasi tentang pilihan konsumsi yang lebih bijak, tips praktis pengelolaan sampah rumah tangga, serta memahami isu-isu lingkungan terkini dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Selain menjadi wadah informasi, Sustaination juga memiliki toko online yang menjual produk ramah lingkungan. Tyas bekerja sama dengan pengrajin dan UMKM lokal untuk memproduksi barang-barang reusable sesuai dengan konsep sustainable living. Tujuan dari konsep ini adalah agar produsen tetap bertanggung jawab terhadap kelestarian alam, sekaligus bisa mendulang rupiah dari produk-produk ramah lingkungan.

Produk yang dijual oleh Sustaination memiliki kriteria tertentu, seperti:
* Bebas plastik atau minim kemasan.
* Dapat digunakan berulang kali (reusable).
* Terbuat dari bahan alami yang mudah terurai (biodegradable).
* Diproduksi secara etis oleh produsen lokal.

2. Cerita Kompos: Edukasi Produksi Kompos Mandiri

Cerita Kompos merupakan perpanjangan tangan dari Sustaination. Kegiatan utama Cerita Kompos adalah mengedukasi masyarakat untuk memproduksi kompos secara mandiri. Kompos-kompos yang dihasilkan nantinya akan dijual, sehingga bermanfaat bagi ekonomi sekaligus ekosistem.

Beberapa program andalan Cerita Kompos antara lain memproduksi pupuk organik seperti metode Takakura, komposter aerob, dan pembuatan biopori. Selain kompos, bisnis Tyas ini juga menyediakan alat-alat pendukung lainnya.

3. Bisnis Baik: Wadah UMKM yang Berprinsip Etis

Bisnis Baik adalah bisnis lain yang dikelola oleh Dwi Sasetyaningtyas. Bisnis ini fokus pada pemilik usaha (produsen) yang ingin menjalankan bisnisnya dengan prinsip etis dan ramah lingkungan. BisnisBaikClub menjadi wadah para UMKM untuk belajar tentang bisnis, mulai dari membangun bisnis untuk mencari keuntungan hingga memberikan dampak positif bagi bumi dan sesama manusia.

Terdapat pertemuan para pengusaha UMKM untuk bertukar ide. Dengan pertemuan ini, diharapkan para pemilik UMKM bisa memperkuat pasar produk mereka, sehingga mampu bersaing di kancah nasional melalui BisnisBaikClub.

Konsep Sustainable Living

Sustainable (berkelanjutan) adalah konsep pengelolaan sumber daya yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ini mencakup keseimbangan tiga pilar utama, yaitu lingkungan, sosial, dan ekonomi, untuk menjaga keberlangsungan bumi, mengurangi limbah, dan memastikan pertumbuhan jangka panjang yang bertanggung jawab.

Viral di Media Sosial

Sebelumnya, Dwi Sasetyaningtyas memicu polemik di media sosial karena unggahan video yang menyinggung status kewarganegaraan anaknya. Dalam video tersebut, ia memperlihatkan surat dari otoritas Inggris terkait kewarganegaraan anak keduanya yang resmi menjadi British citizen. Pernyataannya, “I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” membuat banyak netizen merespons keras.

Menyadari kegaduhan yang timbul, DS kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial. Ia mengakui bahwa pernyataannya tidak tepat dan menyinggung banyak pihak. Namun, permintaan maaf tersebut belum mampu meredakan desakan publik. Diskusi di media sosial justru bergeser pada tuntutan agar sistem pengawasan alumni LPDP dievaluasi secara menyeluruh, sehingga kasus serupa tidak terulang di masa mendatang.

Pos terkait