Siapa Kombes Kevin Leleury? Jago Tembak yang Tangkap Bandar Narkoba Koh Erwin

Aa1xjk0g 2
Aa1xjk0g 2

Profil Kombes Kevin Leleury, Perwira Elite dengan Kemampuan Menembak Presisi Tinggi

Kombes Kevin Leleury dikenal sebagai perwira polisi yang memiliki kemampuan menembak presisi tinggi. Keahlian taktisnya teruji saat memimpin operasi penangkapan Ko Erwin di perairan Sumatera Utara. Operasi gabungan berhasil menggagalkan pelarian bandar narkoba lintas negara ke Malaysia. Sosok Kevin Leleury mencerminkan polisi profesional, berintegritas, dan tak bisa dibeli oleh jaringan narkoba.

Nama Kombes Kevin Leleury mendadak mencuri perhatian publik. Bukan karena pernyataan di balik podium atau manuver administratif di kantor, melainkan aksinya langsung di garis depan saat menggagalkan pelarian bandar narkoba lintas wilayah, Erwin Iskandar alias Ko Erwin.

Di balik seragam perwira menengah Polri itu, tersimpan rekam jejak panjang sebagai personel pasukan elite, seorang penembak jitu yang terbiasa mengambil keputusan hidup-mati dalam sepersekian detik.

Operasi penangkapan Ko Erwin di perairan Sumatera Utara menjadi panggung nyata bahwa perang melawan narkoba bukan sekadar urusan dokumen dan rapat, melainkan medan berisiko tinggi yang membutuhkan kemampuan taktis tingkat atas.

Rekam Jejak Pasukan Elite

Sebagai Kepala Satgas NIC Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Kevin Leleury bukan figur yang lahir dari jalur karier biasa. Ia ditempa dari kultur satuan elite kepolisian yang menuntut disiplin ekstrem, ketenangan absolut, serta kemampuan teknis tingkat lanjut, termasuk keahlian menembak presisi.

Dalam dunia pasukan khusus, menembak bukan perkara menarik pelatuk. Itu adalah seni mengendalikan napas, membaca arah angin, menghitung jarak, dan menguasai emosi. Satu kesalahan kecil bisa berujung kegagalan operasi atau korban jiwa.

Kemampuan inilah yang menjadikan perwira seperti Kevin Leleury sebagai aset langka dalam operasi berisiko tinggi, terutama saat menghadapi bandar narkoba yang kerap dilindungi jaringan kuat, uang besar, dan rencana pelarian lintas negara.

Operasi Penangkapan Ko Erwin

Licinnya Ko Erwin bukan cerita baru. Buronan narkotika yang disebut-sebut menjadi aktor kunci jaringan narkoba di Bima itu nyaris lolos ke luar negeri. Namun, pelariannya kandas di perairan Pematang Silo, Kecamatan Silo Laut, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Kamis (26/2/2026) sekitar pukul 13.30 WIB.

Operasi ini dipimpin langsung oleh Kasubdit IV Dittipidnarkoba Bareskrim Polri Kombes Pol Handik Zusen, bersama Satgas NIC yang dikomandoi Kevin Leleury. Tim bergerak cepat ketika target hampir memasuki wilayah Malaysia.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso menegaskan keberhasilan tersebut. “Benar bahwa DPO Erwin telah ditangkap oleh Tim Gabungan Subdit IV dan Satgas NIC Dittipidnarkoba Bareskrim Polri. Untuk lebih detailnya akan disampaikan pada saat konferensi pers,” ujar Eko dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

Kevin Leleury kemudian mengungkapkan situasi penangkapan yang berlangsung di laut terbuka. “Tersangka sedang melakukan penyebaran menggunakan kapal kemudian kami melakukan penangkapan yang diduga akan menuju ke Malaysia,” ujar Kevin saat ditemui di Terminal 1C Kedatangan, Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Jumat.

Meski sempat melakukan perlawanan, upaya Ko Erwin tak berlangsung lama. “Ada, tapi sedikit, tidak terlalu,” kata Kevin.

Kontras terlihat jelas: kekuatan modal dan jaringan bandar narkoba berhadapan langsung dengan disiplin, ketepatan, dan kerja senyap tim elite.

Mengapa Indonesia Butuh Lebih Banyak “Kevin Leleury”?

Kejahatan narkoba di Indonesia kian terorganisir, bergerak lintas provinsi hingga lintas negara, menggunakan jalur laut, teknologi, dan jejaring keuangan gelap. Menghadapi pola semacam ini, negara tak cukup mengandalkan pendekatan administratif semata. Dibutuhkan sosok polisi dengan kemampuan nyaris militeristik, namun tetap humanis dan patuh prosedur hukum.

Figur seperti Kevin Leleury merepresentasikan keseimbangan itu: tegas di lapangan, presisi dalam tindakan, namun terikat penuh pada hukum. Integritas juga menjadi faktor kunci. Dalam kasus Ko Erwin, polisi turut mengamankan dua orang yang diduga membantu pelarian, masing-masing berinisial A alias G di Riau dan R alias K di Tanjungbalai.

“Yang diamankan sementara ada tiga. Pertama inisial A alias G diamankan di Riau. Kemudian yang kedua inisial R alias K diamankan di Tanjungbalai,” jelas Kevin. “Peranannya mengatur agar DPO ini untuk kabur ke Malaysia. Membantu DPO kabur,” kata dia.

Nama Ko Erwin sendiri disebut-sebut pernah menyetor dana Rp 2,8 miliar kepada mantan Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro, sebuah fakta yang memperlihatkan betapa mahalnya integritas aparat penegak hukum yang tak bisa dibeli.

Sosok Kombes Kevin Leleury

Kombes Kevin Leleury bukan nama baru di lingkungan Korps Bhayangkara. Ia dikenal sebagai perwira dengan latar belakang satuan elite dan pengalaman mumpuni di berbagai bidang operasional kepolisian. Ia sebelumnya menjabat sebagai Kapolres OKU Timur. Kemudian dimutasi ke Bareskrim Polri.

Selain itu, ia juga sebelumnya menjabat sebagai Komandan Batalyon C Satuan Brimob Polda Metro Jaya sejak 19 April 2021. Jabatan itu ia emban selama lebih dari tiga tahun.

Kevin Leleury lahir di Ambon pada 10 Januari 1984. Karier kepolisiannya dimulai saat ia lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2004. Ia kemudian, melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) dan lulus pada 2012.

Komitmennya terhadap peningkatan kapasitas pribadi dibuktikan dengan kelanjutan pendidikannya ke Sespimen Polri pada tahun 2019. Di bidang akademik, ia juga mengenyam pendidikan S2 di Universitas Indonesia.

Sejak mengawali tugas sebagai Perwira Pertama (Pama) di Korps Brimob Polri pada 16 April 2004, Kevin menunjukkan dedikasi yang tinggi. Berbagai penugasan strategis pernah ia emban, mulai dari Dan Unit Subden Sat Wanteror Gegana, Kasiops Paspelopor Korbrimob, hingga Wakil Komandan Batalyon dan Komandan Batalyon C Satbrimob Polda Metro Jaya.

Selain jabatan struktural, Kombes Kevin juga aktif mengikuti berbagai pelatihan kepolisian, baik di dalam maupun luar negeri. Ia tercatat pernah mengikuti kursus Hostile to Terrorist Operations in Urban Region tahun 2022, pelatihan Advanced Security Detail Briefing tahun 2010, hingga Strategic Commanders and JESIP Preparation pada 2017.

Deretan pelatihan tersebut memperkuat keahliannya di bidang taktis dan strategis kepolisian, khususnya dalam pengendalian massa dan kontra terorisme. Tak hanya itu, prestasi membanggakan juga pernah ia raih di tingkat internasional.

Pada tahun 2018, Kevin berhasil meraih juara ketiga dalam ajang bergengsi World Police Gun Shooting Championship, sebuah kejuaraan tembak reaksi tingkat dunia yang diikuti oleh perwakilan kepolisian dari berbagai negara. Untuk pengabdiannya, Kevin telah menerima sejumlah tanda kehormatan, di antaranya Satyalancana Bhakti Buana (2022), Satyalancana Pengabdian 16 Tahun (2021), serta Satyalancana Operasi Kepolisian (2012).

Ia juga pernah ditugaskan sebagai personel Formed Police Unit (FPU) dalam misi perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah (MINUSCA), menunjukkan kepercayaan tinggi dari institusi terhadap kapabilitas dan integritasnya.

Pos terkait