Di tengah situasi yang memanas, Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Danny Danon, memberikan pembelaan yang kuat dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Ia menegaskan bahwa tindakan militer yang dilakukan oleh Israel bersama Amerika Serikat (AS) bukanlah bentuk agresi, melainkan langkah darurat untuk menjaga eksistensi negara.
Danon menyampaikan pernyataannya di hadapan para diplomat dunia dengan nada bicara yang penuh emosi. Ia mengatakan bahwa Israel tidak memiliki pilihan lain selain menghancurkan ancaman nuklir Iran sebelum terlambat. Menurutnya, eskalasi ini merupakan “kebutuhan eksistensial” yang tidak bisa ditunda lagi.
“Israel bertindak hari ini untuk menghadapi dan menghentikan ancaman eksistensial sebelum menjadi permanen. Kami bertindak karena rezim Iran tidak meninggalkan alternatif yang masuk akal bagi kami,” ujarnya dengan suara yang keras dan jelas di ruang sidang PBB di New York.
Ia menekankan bahwa operasi yang diberi nama “Operasi Epic Fury” ditujukan untuk melumpuhkan infrastruktur strategis Iran, termasuk situs nuklir dan fasilitas rudal balistik. Danon menilai bahwa selama puluhan tahun, Teheran telah membangun kekuatan hanya untuk satu tujuan: menghapus Israel dari peta dunia.
“Kami tidak bertindak berdasarkan dorongan hati. Kami bertindak karena kebutuhan. Rezim ini telah membangun senjata nuklir dengan mengabaikan hukum internasional dan resolusi PBB secara terang-terangan,” tambahnya.
Selain itu, Danon juga menyoroti aliansi erat antara Israel dan AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Ia menganggap kerja sama tersebut sebagai titik tertinggi dalam sejarah kerja sama keamanan kedua negara. Bagi Israel, membiarkan Iran memiliki senjata nuklir adalah sebuah perjudian terhadap kelangsungan hidup bangsa Yahudi yang tidak akan pernah mereka ambil.
Tidak hanya menyerang Iran, Danon juga melontarkan kritik terhadap Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres. Ia mempertanyakan mengapa kecaman internasional datang begitu cepat saat Israel membela diri, namun diam saat Iran menyebarkan teror melalui proksinya.
“Beberapa pihak menyebut ini agresi, namun kami menyebutnya sebagai kebutuhan. Kami menyebutnya sebagai kelangsungan hidup (survival). Inilah definisi dari hipokrisi,” kecamnya menanggapi kritik dari beberapa negara anggota.
Danon membawa narasi sejarah yang kuat, menghubungkan situasi saat ini dengan peristiwa Holocaust dan kisah Ratu Ester dalam tradisi Yahudi. Ia mengingatkan bahwa sejarah telah mengajarkan dunia untuk tidak mengabaikan ancaman dari mereka yang secara terbuka menyerukan pemusnahan bangsa lain.
“Sejarah telah mengajarkan kita untuk tidak pernah mengabaikan mereka yang menyerukan penghancuran kita secara terbuka. Kami tidak akan berjudi dengan kelangsungan hidup kami. Kami bertindak hari ini agar masa depan tidak ditentukan oleh mereka yang meneriakkan kematian,” tutupnya.





