Sidratul Muntaha adalah istilah yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai sebuah tempat yang berada di puncak tertinggi langit, yang menjadi batas akhir perjalanan makhluk Allah SWT.
Sidratul Muntaha banyak dibahas dalam kajian akidah dan sejarah Islam, khususnya ketika mengulas perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Miraj.
Apa Itu Sidratul Muntaha?
Sidratul Muntaha dijelaskan dalam berbagai literatur keislaman sebagai batas akhir perjalanan makhluk dalam peristiwa Miraj Nabi Muhammad SAW. Dalam buku Berlabuh di Sidratul Muntaha karya KH Muhammad Sholikhin, dijelaskan bahwa Sidratul Muntaha merupakan titik tertinggi yang dapat dicapai makhluk dari bumi dalam perjalanan spiritual menuju Allah SWT.
Penjelasan tersebut merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dan dicantumkan dalam Shahih Muslim. Dalam hadits itu disebutkan bahwa Sidratul Muntaha adalah akhir tujuan Miraj, tempat Rasulullah SAW berhenti, sekaligus batas dari ketetapan yang telah ditentukan Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa Sidratul Muntaha memiliki kedudukan istimewa dalam rangkaian peristiwa Isra Miraj.
Selain dijelaskan sebagai batas akhir perjalanan makhluk, lokasi Sidratul Muntaha juga diterangkan dalam sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW. Salah satunya tercantum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Anas, dari Malik bin Sha’sha’ah, yang mengisahkan perjalanan Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Miraj.
Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan tahapan perjalanan beliau bersama Malaikat Jibril hingga mencapai langit ketujuh. Setelah melewati lapisan-lapisan langit, Rasulullah SAW kemudian dibawa menuju Sidratul Muntaha sebagai titik tertinggi dalam perjalanan tersebut.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, dari Anas, dari Malik bin Sha’sha’ah dinyatakan bahwasanya Rasulullah SAW., bersabda:
“Kemudian Jibril membawaku naik ke langit ketujuh, lalu Jibril meminta untuk dibukakan…”
Lanjutan hadits hingga Rasul berkata:
“Kemudian aku ditinggi-kan ke Sidratul Muntaha.”
Berdasarkan makna lahiriahnya, hadits tersebut menunjukkan bahwa Sidratul Muntaha berada di langit ketujuh. Pendapat ini juga sejalan dengan mayoritas riwayat yang menyebutkan bahwa Sidratul Muntaha terletak di lapisan langit tertinggi. Meski demikian, terdapat riwayat lain dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan bahwa Sidratul Muntaha berada di langit keenam.
Menanggapi perbedaan riwayat tersebut, Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa perbedaan periwayatan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam kajian hadits. Namun, pendapat yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dinilai lebih banyak disepakati. Hal ini karena Anas menegaskan bahwa Sidratul Muntaha merupakan batas akhir ilmu para nabi yang diutus serta puncak pengetahuan para malaikat yang paling dekat dengan Allah SWT.
Sifat Sidratul Muntaha
Dalam sejumlah hadits, Sidratul Muntaha digambarkan memiliki bentuk menyerupai pohon dengan ciri-ciri yang luar biasa. Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah menyebutkan bahwa Sidratul Muntaha memiliki akar yang kokoh dan cabang yang menjulang tinggi, sementara bentuk daunnya diumpamakan seperti telinga gajah.
Riwayat lain yang dinukil oleh Abu Hurairah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, menggambarkan Sidratul Muntaha sebagai pohon yang sangat tinggi dan rindang. Dalam penjelasan tersebut, bayangan pohonnya dikatakan dapat menaungi perjalanan yang sangat panjang, bahkan disebutkan dapat menaungi seluruh umat manusia.
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa sifat-sifat Sidratul Muntaha tersebut tidak boleh dipahami secara harfiah. Penggambaran tersebut dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman manusia dengan bahasa dan perumpamaan yang dekat dengan dunia kebendaan, sementara hakikat sebenarnya berada di luar jangkauan pemahaman manusia.
Penegasan mengenai keterbatasan pemahaman manusia terhadap Sidratul Muntaha ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Najm ayat 16,
اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ
Latin: Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.
Artinya: (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya. (An-Najm: 16)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an sendiri tidak merinci bentuk atau sifat Sidratul Muntaha secara konkret, sehingga penggambaran yang ada dalam hadis dipahami sebagai perumpamaan untuk mendekatkan makna, bukan untuk ditafsirkan secara lahiriah.
Sidratul Muntaha dalam Peristiwa Isra Miraj
Dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida’, di Sidratul Muntaha Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT dan menerima perintah untuk melaksanakan shalat bagi umat Islam.
Dalam peristiwa tersebut, Allah SWT pada awalnya mewajibkan shalat sebanyak lima puluh kali dalam sehari. Namun, setelah Nabi Muhammad SAW menerima saran dari Nabi Musa AS untuk memohon keringanan, Rasulullah SAW beberapa kali kembali menghadap Allah SWT. Hingga akhirnya, kewajiban shalat diringankan menjadi lima waktu dalam sehari, dengan pahala yang tetap setara dengan lima puluh waktu shalat.
Peristiwa ini menegaskan bahwa perintah shalat merupakan ibadah yang memiliki kedudukan sangat penting dalam ajaran Islam, sekaligus mencerminkan kasih sayang Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW.





