Sistem THAAD AS Cegat Rudal Iran yang Targetkan Pangkalan Udara Al Dhafra di UEA

851c0420 Fb08 11ee 8369 47dc4454b972.png
851c0420 Fb08 11ee 8369 47dc4454b972.png

Sistem Pertahanan Udara Emirat Berhasil Mencegat Rudal Iran

Pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan berhasil mencegat sejumlah rudal yang ditembakkan dari wilayah Iran. Serangan ini terjadi di atas kota-kota besar seperti Abu Dhabi dan Dubai, yang menjadi pusat kekuatan ekonomi dan politik negara tersebut.

Seorang warga Asia dikabarkan tewas di Abu Dhabi setelah terkena puing-puing dari rudal balistik Iran yang jatuh di area pemukiman. Informasi ini berasal dari laporan resmi Kementerian Pertahanan UEA dan juga Reuters. Selain itu, Kantor Berita Negara Emirat (WAM) mengonfirmasi adanya korban jiwa pertama akibat serangan ini.

Saksi mata di ibu kota melaporkan mendengar lima ledakan beruntun yang menyebabkan jendela-jendela di seluruh distrik Corniche kota bergetar. Ledakan ini menunjukkan bahwa rudal yang ditembakkan memiliki kekuatan besar dan berpotensi mengancam keselamatan penduduk setempat.

Target Utama Serangan Iran

Menurut laporan dari Defense Industry Europe dan The Guardian, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara khusus menargetkan Pangkalan Udara Al Dhafra, yang merupakan pusat operasional utama Angkatan Udara AS di dekat Abu Dhabi. Pemangkasan ini menjadi bagian dari operasi “True Promise 4” yang dilakukan oleh militer Iran.

Sistem pertahanan udara Emirat, termasuk THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), yang dioperasikan oleh pasukan Emirat bekerja sama dengan AS, digunakan untuk menetralisir ancaman tersebut. Setidaknya dua rudal balistik dilaporkan dicegat tepat di atas pangkalan tersebut, yang merupakan lokasi penting bagi misi pengintaian dan pengisian bahan bakar udara AS di Timur Tengah.

Reaksi Resmi dari Pemerintah UEA

Pemerintah UEA secara resmi mengutuk serangan ini sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional.” Menurut laporan The Hindu, UEA menyatakan haknya untuk menanggapi eskalasi serangan tersebut.

Untuk menjaga keamanan warga, regulator penerbangan UEA mengumumkan penutupan sementara dan sebagian wilayah udara nasional. Penutupan ini menyebabkan pembatalan ratusan penerbangan di bandara Internasional Dubai (DXB) dan Abu Dhabi (AUH). Hal ini menunjukkan bahwa pihak berwenang sangat waspada terhadap ancaman yang datang dari luar.

Kedutaan Besar AS di UEA juga memberikan instruksi kepada semua personel pemerintah dan keluarga mereka di Abu Dhabi dan Dubai untuk “berlindung di tempat” sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Respons Amerika Serikat dan Israel

Pada hari yang sama, Israel melakukan serangan terhadap Teheran. Amerika Serikat menyatakan dukungan untuk operasi tersebut dan mengumumkan “Operasi Epic Fury.” Presiden AS Donald Trump menuduh Iran “mendanai dan melatih” militan di Suriah, Lebanon, Irak, dan Hamas di Palestina.

Trump mengatakan tujuan operasi militer AS adalah “penghancuran industri dan armada rudal Iran” serta “memastikan ketidakmampuan Iran untuk menggoyahkan stabilitas dunia.” Ini menunjukkan bahwa AS siap bertindak keras jika diperlukan untuk mempertahankan keamanan regional.

Kesimpulan

Serangan rudal Iran terhadap UEA pada 28 Februari 2026 menunjukkan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Sistem pertahanan udara Emirat berhasil mencegat rudal-rudal tersebut, namun dampaknya tetap terasa baik dalam bentuk korban jiwa maupun gangguan pada aktivitas penerbangan. Reaksi dari pemerintah UEA dan AS menunjukkan bahwa kawasan ini sedang menghadapi tantangan keamanan yang serius.


Pos terkait