Pada tahun 2026, PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) atau Maximus Insurance akan menerapkan lima strategi utama untuk meningkatkan kinerja asuransi kesehatan. Direktur Utama Maximus Insurance, Jemmy Atmadja, menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada peningkatan premi, tetapi juga pada perbaikan struktur portofolio dan kualitas profitabilitas secara menyeluruh.
Strategi Pertama: Penguatan Underwriting dan Seleksi Risiko
Strategi pertama yang diterapkan adalah penguatan underwriting dan seleksi risiko. Jemmy menjelaskan bahwa pengetatan seleksi risiko dilakukan khususnya pada grup dengan histori loss ratio tinggi. Selain itu, penerapan experience based pricing untuk perpanjangan polis serta evaluasi komposisi usia dan profil risiko sebelum akseptasi juga menjadi bagian dari langkah ini. Tujuannya adalah memastikan bisnis baru yang masuk memiliki struktur risiko yang lebih sehat.
Strategi Kedua: Re-Design Produk dan Struktur Manfaat
Strategi kedua melibatkan re-design produk dan struktur manfaat. Jemmy menyebut bahwa penyesuaian limit manfaat diperlukan agar lebih realistis terhadap inflasi medis. Perusahaan juga akan menerapkan co-payment atau deductible yang terukur untuk mengurangi overutilization, serta menyusun plan bertingkat (good–better–best) agar fleksibel terhadap kebutuhan klien dan tetap menjaga margin. Pendekatan ini diharapkan menciptakan keseimbangan antara daya saing dan keberlanjutan teknis.
Strategi Ketiga: Penguatan Cost Containment dan Managed Care
Strategi ketiga adalah melakukan penguatan cost containment dan managed care. Upaya tersebut meliputi negosiasi tarif dan kerja sama strategis dengan rumah sakit rekanan, monitoring utilisasi klaim berbasis data analytics untuk mendeteksi anomali lebih dini, serta audit klaim pada kasus-kasus dengan severity tinggi. Fokusnya adalah mengendalikan frekuensi dan severity klaim secara sistematis.
Strategi Keempat: Optimalisasi Portfolio Monitoring
Strategi keempat mencakup optimalisasi portfolio monitoring. Secara rinci, Jemmy menyebut bahwa perusahaan akan melakukan pemantauan loss ratio secara granular per segmen, per sumber bisnis, dan per client dan/atau per grup usaha. Selain itu, memberlakukan penetapan trigger point untuk review tarif dan manfaat, serta dashboard monitoring yang lebih real time untuk pengambilan keputusan yang cepat.
Strategi Kelima: Penguatan Layanan dan Digitalisasi
Strategi kelima adalah penguatan layanan dan digitalisasi. Jemmy menjelaskan upayanya berupa percepatan proses klaim untuk meningkatkan kepuasan nasabah, serta pemanfaatan digital tools untuk efisiensi administrasi dan fraud detection. Langkah ini penting dilakukan agar perbaikan teknis tetap diimbangi dengan kualitas layanan.
Secara keseluruhan, strategi pada 2026 diarahkan pada profitable growth dan portofolio re-balancing, bukan sekadar ekspansi volume. Jemmy menegaskan bahwa Maximus Insurance menargetkan perbaikan loss ratio secara bertahap melalui kombinasi disiplin underwriting, pengendalian klaim, dan penguatan struktur premi yang lebih mencerminkan risiko sebenarnya.
Pada 2025, kinerja lini asuransi kesehatan perusahaan belum mencapai target yang telah ditetapkan, baik dari sisi loss ratio maupun profitabilitas underwriting. Hal ini disebabkan oleh tantangan utama karena tekanan inflasi medis yang berdampak langsung pada peningkatan biaya klaim secara konsisten dan progresif. Selain itu, faktor lainnya adalah adanya kompetisi premi yang agresif di pasar, termasuk premi yang secara aktuaria kurang mencerminkan tren kenaikan biaya layanan kesehatan, utilisasi tinggi, hingga perubahan pola klaim pascapandemi Covid-19.
Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pendapatan premi asuransi kesehatan di asuransi umum terkontraksi 20,9% secara Year on Year (YoY), menjadi Rp 9,35 triliun per akhir 2025. Rasio klaim asuransi kesehatan di asuransi umum sebesar 67,3% per akhir 2025, atau meningkat dibandingkan per akhir 2024 yang sebesar 58,2%.





