Suasana Taman Kalimadu, Tempat Ngabuburit Warga Gorontalo

Aa1xi15p
Aa1xi15p

Suasana Ngabuburit di Kawasan Kalimadu Kota Gorontalo

Kawasan Kalimadu di Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, menjadi pusat perhatian warga setempat selama Ramadan. Mulai dari sore hari, kawasan ini mulai dipadati oleh masyarakat yang ingin melakukan ngabuburit sambil mencari takjil untuk berbuka puasa. Arus lalu lintas meningkat, terutama menjelang pukul 16.30 Wita, dengan banyak pengendara yang melambatkan laju kendaraan untuk memilih takjil di pinggir jalan.

Di sepanjang jalan, deretan lapak makanan dan minuman berjajar, menawarkan beragam menu berbuka seperti gorengan, kue tradisional, minuman dingin, hingga makanan kekinian. Antrean pembeli juga terlihat di sejumlah lapak favorit. Meski hujan turun, suasana tetap ramai karena banyak orang yang lebih memilih membeli makanan daripada masak sendiri.

Salah satu pedagang, Jihan Ayu (26), mengatakan bahwa suasana Ramadan membuat kawasan Kalimadu jauh lebih ramai dibanding hari biasa. “Kalau Ramadan itu beda. Dari jam tiga sore sudah mulai ramai, apalagi mendekati Magrib,” katanya. Menurutnya, Kalimadu memang dikenal sebagai pusat kuliner. Saat Ramadan, kawasan ini menjadi tujuan utama warga untuk ngabuburit.

Ayu Kartika, mahasiswi Gorontalo, menilai kawasan tersebut menjadi pilihan karena menawarkan banyak menu dalam satu lokasi. “Di sini lengkap. Mau cari gorengan, minuman, atau makanan berat ada semua. Bisa sambil ngobrol, lihat suasana sore, tidak bosan, apalagi tersedia tempat duduk,” katanya.

Keramaian kawasan Kalimadu menjadi gambaran aktivitas warga Kota Gorontalo selama Ramadan. Ngabuburit tidak hanya menjadi tradisi menunggu waktu berbuka, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil. Lapak-lapak sederhana di sepanjang jalan menjadi sumber penghidupan bagi pedagang sekaligus tempat warga mencari menu berbuka puasa.

Hingga menjelang azan Magrib, kawasan Kalimadu masih dipenuhi pengunjung, dengan suara tawar-menawar, kendaraan yang melintas perlahan, serta aroma makanan berpadu menciptakan suasana khas Ramadan.

Kalimadu sendiri merupakan singkatan dari Kalimantan–Madura, berada di ruas Jalan Madura yang menghubungkan Jalan Kalimantan dan Jalan Prof Jhon Ario Katili (eks Andalas). Jalan ini juga terhubung dengan beberapa pertigaan seperti Jalan Palu dan Jalan Manado, sehingga menjadi akses vital bagi masyarakat Gorontalo.

Penjual Gulali di Taman Kalimadu

Ibrahim Pakaya duduk dengan tenang di balik gerobak hijaunya saat matahari mulai condong ke barat di kawasan Kalimadu, Kota Tengah, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Lokasi mangkal utamanya berada di kawasan Kalimantan–Madura (Kalimadu). Dari arah Perempatan Kompi Liluwo, lapaknya berada di sebelah kanan jalan, tepat di keramaian warga yang melintas.

Pria berusia 71 tahun yang akrab disapa Opa Bura ini sedang menarik adonan gula merah muda yang perlahan mengeras di tangannya. Di tengah kepungan jajanan modern, Opa Bura tetap setia menjajakan gulali tradisional demi menjaga kemandirian di usia senja.

Gulali adalah sebutan untuk jajanan tradisional khas Indonesia yang bahan utamanya terbuat dari gula (biasanya gula pasir atau gula merah) yang dilelehkan hingga mengental dan elastis. Jajanan ini sangat populer di kalangan anak-anak, terutama karena bentuknya yang unik dan warnanya yang mencolok.

Sejak tahun 2012, Opa Bura menekuni profesi sebagai penjual gulali. Meskipun kedua anaknya telah berkeluarga dan mapan, warga Kelurahan Molosifat U ini menolak untuk sekadar berdiam diri di rumah. Ia memegang prinsip bahwa selama fisik masih mampu bergerak, ia tidak ingin merepotkan orang lain.

“Saya memilih tetap berjualan jika masih bisa duduk dan bekerja seperti ini. Saya tidak mau hanya diam di rumah dan berharap (bantuan) dari anak-anak,” ujar Ibrahim saat ditemui pada Sabtu (28/2/2026).

Sebelum menjadi perajin gulali, Ibrahim adalah seorang pedagang beras di Pasar Sentral Gorontalo. Ia menjadi saksi hidup saat pasar tersebut masih sangat tradisional dengan harga beras hanya Rp1 per liter. Namun, kenaikan harga komoditas yang tinggi dan faktor usia membuatnya harus beralih profesi.

Ia memilih gulali karena pekerjaan ini tidak terlalu menguras tenaga. Ibrahim mempelajari teknik pembuatan gulali secara otodidak melalui berbagai percobaan yang sempat gagal. Opa Bura mengaku sempat berkali-kali gagal karena gula yang gosong. Ia sering bertukar pikiran dengan sesama penjual lama.

Kini, tangannya sudah lihai membentuk gula cair menjadi camilan manis. Dulu, semangat Opa Bura membawanya berkeliling hingga ke luar daerah menggunakan sepeda motor. Ia sering menjajakan dagangannya di pameran-pameran besar di Palu, Sulawesi Tengah, hingga Manado, Sulawesi Utara.

Namun, seiring bertambahnya usia dan berubahnya kendaraan operasional menjadi becak motor (bentor), ia kini hanya menetap di dalam kota.

Pos terkait