Sultan Hasanuddin, Pahlawan Berani dari Kesultanan Gowa

Aa1xp60g
Aa1xp60g

Sejarah Perjuangan Sultan Hasanuddin Melawan Penjajah

Sultan Hasanuddin adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah. Ia lahir pada 12 Januari 1631 dan menjadi Raja Gowa ke-16 dari tahun 1639 hingga 1653. Nama lengkapnya adalah I Mallombasi Daeng Mattawang Muhammad Baqir Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana. Dikenal dengan julukan “De Haantjes van Het Oosten” atau Ayam Jantan dari Timur, ia dikenang sebagai pahlawan yang gigih dalam menentang monopoli VOC.

Awal Perjuangan

Perlawanan terhadap VOC dimulai setelah Sultan Hasanuddin naik tahta. Pada masa itu, Belanda telah menguasai perdagangan rempah-rempah di wilayah Sulawesi dan Maluku. Masyarakat Gowa mulai merasa tidak nyaman karena kebijakan monopoli ini. Meskipun ada ketegangan sebelumnya, perlawanan baru muncul saat Sultan Hasanuddin memimpin kerajaan.

Pada tahun 1660, Sultan Hasanuddin mulai membangun aliansi dengan kerajaan-kerajaan kecil lainnya untuk melawan VOC. Armada laut Kerajaan Gowa yang tangguh menjadi senjata utama dalam perjuangan ini. Namun, VOC tidak tinggal diam dan menjalin kemitraan dengan Kerajaan Bone, yang sebelumnya memiliki hubungan yang kurang baik dengan Gowa.

Konflik dengan VOC

Pada 1666, VOC melakukan serangan besar-besaran ke Somba Opu, ibukota Kesultanan Gowa. Laksamana Cornelis Janszoon Speelman memimpin armada VOC yang terdiri dari 21 kapal perang dan 600 pasukan. Awalnya, VOC hanya ingin menggertak Sultan Hasanuddin, tetapi sang sultan menolak tuntutan tersebut. Akibatnya, pertempuran sengit terjadi antara armada VOC dan benteng pertahanan Gowa.

Dalam pertempuran ini, VOC mendapat bantuan dari Arung Palakka, penguasa Bone yang sebelumnya dipenjarakan oleh Gowa. Dengan dukungan ini, VOC berhasil menguasai Benteng Barombang dan memaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Dalam perjanjian ini, Gowa harus mengakui monopoli VOC dan mengakui Arung Palakka sebagai raja Bone.

Kekalahan dan Keteguhan

Meski kalah dalam perjanjian, Sultan Hasanuddin tetap berjuang tanpa kompromi. Ia tidak pernah bekerja sama dengan VOC dan terus melancarkan perlawanan. Pada 1668, ia memimpin perlawanan kedua, tetapi serangan ini gagal dan benteng Rotterdam jatuh ke tangan VOC.

Sultan Hasanuddin gugur pada 12 Juni 1670 di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Meskipun kalah, semangat juangnya tetap menjadi inspirasi bagi rakyat Indonesia. Pada 16 November 1973, Presiden RI mengangkat Sultan Hasanuddin sebagai Pahlawan Nasional. Namanya juga diabadikan dalam nama Universitas Hasanuddin dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Penyebab Kekalahan

Kekalahan Sultan Hasanuddin disebabkan oleh keterlibatan Arung Palakka yang memberikan dukungan penuh kepada VOC. Selain itu, senjata dan alat perang VOC lebih modern, sehingga membuat pasukan Gowa kewalahan. Meskipun demikian, perjuangan Sultan Hasanuddin tetap menjadi simbol perlawanan yang tak terlupakan dalam sejarah Indonesia.

Pos terkait