Sumpah Dendam: Operasi Paling Dahsyat Garda Revolusi Pasca-Kematian Khamenei

Operasi Militer Besar IRGC Dimulai Setelah Kematian Pemimpin Tertinggi Iran

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya operasi ofensif paling besar dalam sejarah Republik Islam Iran. Pengumuman ini dilakukan setelah kematian Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang dikonfirmasi oleh stasiun televisi pemerintah Iran.

Pernyataan resmi dari IRGC dirilis melalui kantor berita Fars pada hari Minggu (1/3/2026), dengan menyebutkan bahwa operasi tersebut akan segera dimulai. Langkah militer besar ini diumumkan hanya beberapa jam setelah Teheran mengonfirmasi kematian Khamenei akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Target Utama Serangan Balasan

Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan bahwa target utama dari serangan balasan adalah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah serta wilayah pendudukan Israel. Pernyataan tersebut juga menyatakan bahwa tindakan balas dendam ini akan dilakukan dengan cara yang tegas dan tidak akan membiarkan para pembunuh Imam Umat lepas dari konsekuensi.

“Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan akan disesali para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka,” demikian pernyataan resmi Garda Revolusi sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Operasi ini dinilai sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus pembalasan atas wafatnya pemimpin berusia 86 tahun tersebut. Selain serangan eksternal, IRGC juga menyatakan kesiapan mereka untuk menjaga stabilitas dalam negeri dari potensi konspirasi domestik.

Bukti Kehancuran Kompleks Beit-e Rahbari

Kematian Ali Khamenei dikonfirmasi setelah kompleks Beit-e Rahbari di Teheran dilaporkan rata dengan tanah. Citra satelit dari Airbus Defence and Space yang dirilis The New York Times memperlihatkan kehancuran total pada bangunan utama yang menjadi pusat komando dan kediaman sang pemimpin.

“Kita kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya. IRGC akan berdiri teguh menghadapi konspirasi dari luar maupun dalam,” lanjut pernyataan tersebut.

Menyusul tragedi ini, Pemerintah Iran telah menetapkan 40 hari masa berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional. Meskipun detail teknis kematian Khamenei belum dibuka ke publik, kehancuran perimeter keamanan di jantung Teheran menjadi bukti nyata skala serangan “bunker-buster” yang diluncurkan pada Sabtu (28/2) kemarin.

Dunia Menanti Gelombang Serangan Baru

Dunia kini menanti dimulainya gelombang serangan ofensif yang dijanjikan IRGC, yang diprediksi akan mengubah peta keamanan global secara drastis dalam beberapa jam ke depan.




Pos terkait