Sungai Buaya di Pulau Bunyu Kian Menyusut, Nelayan Terancam Kehilangan Penghidupan

Aa1xjeax 1
Aa1xjeax 1

Kondisi Sungai Buaya yang Mengkhawatirkan

Sungai Buaya di Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, telah mengalami pendangkalan selama lebih dari 15 tahun tanpa pengerukan. Hal ini berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat setempat, khususnya para nelayan yang bergantung pada sungai tersebut sebagai jalur utama aktivitas mereka.

Sejak era gubernur sebelumnya, janji pengerukan sungai ini terus diulang tanpa realisasi. Kini, warga kembali menagih janji tersebut kepada Pemkab Bulungan dan Pemprov Kaltara. Mereka meminta pengerukan menyeluruh menggunakan alat berat agar jalur ekonomi dan mobilitas masyarakat dapat kembali normal.

Dampak Pendangkalan Terhadap Nelayan

Pendangkalan Sungai Buaya tidak hanya mengganggu aktivitas nelayan, tetapi juga membahayakan keselamatan mereka. Saat air surut, dasar sungai menjadi sangat dangkal hingga nyaris bisa dimanfaatkan untuk aktivitas di darat. Nelayan harus menunggu air pasang untuk bisa melaut, sementara risiko kecelakaan meningkat saat angin ribut atau badai datang.

Salah satu nelayan setempat, Andhika Putra Soeharto, mengatakan bahwa pendangkalan Sungai Buaya sudah berlangsung lama dan belum ditangani secara serius. Ia menyebutkan bahwa bahkan ketika air surut selama beberapa hari, aktivitas di Sungai Buaya bisa lumpuh total.

Upaya Gotong Royong yang Tidak Memadai

Warga pernah mencoba melakukan pengerukan secara gotong royong, tetapi upaya manual ini dinilai tidak cukup untuk mengatasi sedimentasi yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Menurut Andhika, diperlukan alat berat agar sungai kembali normal. Ia menambahkan bahwa pendangkalan tidak hanya terjadi di muara, tetapi juga hingga ke bagian dalam sungai, termasuk jalur speedboat dan transportasi air lainnya.

Sorotan Pembangunan Dermaga

Kekecewaan warga semakin memuncak ketika menyinggung pembangunan dermaga oleh Pemprov Kaltara yang disebut menelan anggaran lebih dari Rp80 miliar. Warga menilai proyek besar ini belum menjawab persoalan mendasar yang dihadapi nelayan. Mereka menanyakan mengapa tidak dilakukan pengerukan atau perbaikan alur sungai bersamaan dengan pembangunan dermaga.

Warga berharap ada sinergi antara pemerintah kabupaten dan provinsi dalam merencanakan pembangunan infrastruktur pesisir. Dermaga megah tanpa akses sungai yang memadai dinilai tidak efektif dan justru menghambat aktivitas nelayan.

Tagih Janji Pengerukan

Warga juga menyinggung janji pengerukan yang sudah terdengar sejak era gubernur sebelumnya, termasuk pada masa kepemimpinan Irianto Lambrie. Namun hingga kini, realisasinya tak kunjung terlihat. Bagi masyarakat Pulau Bunyu, Sungai Buaya bukan sekadar aliran air, tetapi merupakan jalur ekonomi, sumber penghidupan, dan akses utama mobilitas warga.

Ketika sungai dangkal, bukan hanya perahu yang terhenti, tetapi juga dapur keluarga nelayan ikut terdampak. Warga berharap pemerintah segera melakukan pengerukan menyeluruh menggunakan alat berat, bukan sekadar tambal sulam. Mereka juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan infrastruktur agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat pesisir.

Pos terkait