Surplus Dagang Indonesia US$ 950 Juta, AS Jadi Penopang, Tapi Defisit China Membengkak

Aa1xf0on
Aa1xf0on



Indonesia berhasil mencatatkan surplus dalam neraca perdagangannya pada Januari 2026, dengan angka yang mencapai US$ 950 juta. Hal ini menunjukkan kinerja positif dari sektor ekspor dan impor negara tersebut. Meskipun ada ketidakpastian terkait kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh beberapa negara, termasuk Amerika Serikat (AS), Indonesia tetap mampu menjaga posisi surplus dalam perdagangan internasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa surplus neraca dagang Indonesia dengan AS pada bulan tersebut mencapai US$ 1,81 miliar. Rincian dari angka ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke AS lebih besar dibandingkan impornya. Kinerja impor sebesar US$ 0,7 miliar dan ekspor sebesar US$ 2,51 miliar menjadi dasar dari surplus tersebut.

Ateng menjelaskan bahwa komoditas utama yang menyumbang surplus terbesar adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), pakaian dan aksesoris rajutan (HS 61), serta alas kaki (HS 64). Komoditas-komoditas ini menjadi penopang utama dari kinerja ekspor Indonesia ke AS.

Selain itu, surplus juga tercatat dengan India, dengan besaran mencapai US$ 1,10 miliar. Ekspor Indonesia ke India mencapai US$ 1,52 miliar, sementara impornya hanya sebesar US$ 0,42 miliar. Komoditas penyumbang utama dari surplus ini adalah bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15), serta besi dan baja (HS 72).

Dalam hal perdagangan dengan Filipina, Indonesia juga mencatatkan surplus sebesar US$ 0,69 miliar. Kinerja ekspor ke Filipina mencapai US$ 0,77 miliar, sedangkan impor hanya sebesar US$ 0,08 miliar. Komoditas utama yang menyumbang surplus ini antara lain kendaraan dan bagiannya (HS 87), bahan bakar mineral (HS 27), serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15).

Namun, di sisi lain, terdapat beberapa negara yang menyumbang defisit dalam neraca dagang Indonesia. Tiga negara utama yang menjadi penyebab defisit adalah China, Australia, dan Prancis.

Dengan China, defisit neraca dagang Indonesia mencapai US$ 2,62 miliar. Impor dari China mencapai US$ 7,89 miliar, sementara ekspor hanya sebesar US$ 5,27 miliar. Komoditas utama yang menyumbang defisit ini adalah mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87).

Sementara itu, defisit dengan Australia mencapai US$ 0,84 miliar. Komoditas utama penyumbang defisit ini adalah logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71), Serealia (HS 10), serta bahan bakar mineral (HS 27).

Terakhir, defisit neraca dagang dengan Prancis mencapai US$ 0,47 miliar. Kinerja impor dari Prancis mencapai US$ 0,54 miliar, sedangkan ekspor hanya sebesar US$ 0,07 miliar. Komoditas utama yang menyumbang defisit ini antara lain kendaraan udara dan bagiannya (HS 88), mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), serta minyak atsiri, wewangian, dan kosmetik (HS 33).

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu mempertahankan surplus dalam perdagangan internasional meskipun menghadapi tantangan dari kebijakan tarif negara-negara lain. Kinerja ekspor yang kuat menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kondisi ini.

Pos terkait