Surplus Dagang Januari 2026 Didominasi Komoditas Rendah Nilai



JAKARTA — Neraca perdagangan nonmigas Indonesia pada Januari 2026 mencatatkan surplus sebesar US$3,23 miliar. Meskipun demikian, komoditas yang menjadi penyumbang utama surplus ini masih didominasi oleh produk dengan nilai tambah rendah. Hal ini menunjukkan bahwa struktur ekspor Indonesia masih tergantung pada komoditas mentah atau bahan baku dasar.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), lima komoditas utama yang menyumbang surplus perdagangan pada Januari 2026 adalah sebagai berikut:

  • Lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) dengan kontribusi sebesar US$3,10 miliar
  • Bahan bakar mineral (HS 27) dengan kontribusi sebesar US$2,16 miliar
  • Besi dan baja (HS 72) dengan kontribusi sebesar US$1,52 miliar
  • Nikel dan barang daripadanya (HS 75) dengan kontribusi sebesar US$1,03 miliar
  • Alas kaki (HS 64) dengan kontribusi sebesar US$0,49 miliar

Sementara itu, lima komoditas yang menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar justru didominasi oleh produk dengan nilai tambah tinggi. Contohnya adalah:

  • Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) dengan defisit sebesar -US$2,23 miliar
  • Mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) dengan defisit sebesar -US$1,39 miliar
  • Plastik dan barang dari plastik (HS 39) dengan defisit sebesar -US$0,73 miliar
  • Instrumen kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) dengan defisit sebesar -US$0,47 miliar
  • Serealia (HS 10) dengan defisit sebesar -US$0,36 miliar

Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatatkan surplus sebesar US$0,95 miliar. Angka ini menjadi yang terendah sejak Mei 2025 lalu, meskipun tetap menunjukkan tren positif dalam beberapa bulan terakhir.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan bahwa ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$22,16 miliar, meningkat sebesar 3,39% dibandingkan Januari 2025 (year on year/YoY). Nilai ekspor migas tercatat sebesar US$0,89 miliar, turun 15,62% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor nonmigas naik 4,38% menjadi US$21,26 miliar.

Peningkatan ekspor nonmigas tersebut didorong oleh beberapa komoditas utama, antara lain lemak/minyak nabati, nikel, serta mesin/perlengkapan elektrik. Peningkatan ini menunjukkan adanya diversifikasi ekspor yang lebih baik, meskipun masih perlu ditingkatkan untuk mencapai pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Di sisi lain, nilai impor pada Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar, meningkat 18,21% dibandingkan Januari 2025 (YoY). Impor migas pada periode tersebut mencapai US$3,17 miliar, naik 27,52% secara YoY. Sementara itu, impor nonmigas mencapai US$18,04 miliar, naik 16,71% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ateng menjelaskan bahwa neraca perdagangan barang pada Januari 2026 mencatatkan surplus sebesar US$0,95 miliar. Dengan angka ini, Indonesia telah mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 lebih ditopang oleh surplus komoditas nonmigas yang mencapai US$3,22 miliar. Komoditas utama yang menyumbang surplus ini adalah lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Pos terkait