Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus di Januari 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan barang Indonesia pada Januari 2026 mencatatkan surplus sebesar USD 0,95 miliar. Capaian ini memperpanjang tren positif yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3). Menurutnya, surplus yang tercatat pada Januari 2026 terutama didorong oleh kinerja sektor non-migas yang mencatatkan surplus sebesar USD 3,22 miliar.
Komoditas utama yang memberikan kontribusi besar terhadap surplus non-migas antara lain lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72). Berikut rinciannya:
- Lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) mencatatkan surplus sebesar USD 3,10 miliar.
- Bahan bakar mineral (HS 27) dengan surplus USD 2,16 miliar.
- Besi dan baja (HS 72) sebesar USD 1,51 miliar.
Sementara itu, neraca komoditas migas tercatat defisit sebesar USD 2,27 miliar. Komoditas penyumbang defisit utama adalah minyak mentah, hasil minyak, dan gas.
Mitra Dagang yang Kontribusikan Surplus dan Defisit
Secara kumulatif, tiga negara yang menjadi mitra dagang terbesar yang memberikan kontribusi surplus terhadap neraca perdagangan total Indonesia adalah:
- Amerika Serikat: USD 1,55 miliar
- India: USD 1,07 miliar
- Filipina: USD 0,69 miliar
Di sisi lain, negara-negara yang menyumbang defisit terbesar antara lain:
- Tiongkok: USD 2,47 miliar
- Australia: USD 0,96 miliar
- Prancis: USD 0,47 miliar
Komoditas Penyumbang Defisit Utama
Dari sisi komoditas, beberapa produk utama yang mengalami defisit antara lain:
- Mesin dan peralatan mekanis (HS 84): USD 2,23 miliar
- Mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85): USD 1,39 miliar
- Plastik dan barang dari plastik (HS 39): USD 0,73 miliar
Kondisi Perdagangan Indonesia
Kinerja perdagangan Indonesia pada Januari 2026 menunjukkan pertumbuhan yang stabil, terutama dari sektor non-migas yang tetap menjadi penggerak utama surplus. Meski demikian, defisit pada sektor migas dan beberapa komoditas impor masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.
Dengan tren surplus yang berlangsung selama lebih dari enam tahun, Indonesia terus menunjukkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan perdagangan meskipun menghadapi dinamika global. Kebijakan pemerintah dan kebijakan ekonomi yang tepat akan sangat penting untuk mempertahankan kondisi ini di masa depan.





