Surplus Neraca Dagang Indonesia Tembus USD 0,95 Miliar Per Januari 2026

Large Kinerja Dagang Indonesia Beri Sinyal Positif Surplus Neraca Perdagangan Tembus Usd 3 26 Miliar Yt7ugb7nua 2
Large Kinerja Dagang Indonesia Beri Sinyal Positif Surplus Neraca Perdagangan Tembus Usd 3 26 Miliar Yt7ugb7nua 2

Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus pada Januari 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan barang Indonesia pada Januari 2026 mencatatkan surplus sebesar USD 0,95 miliar. Capaian ini memperpanjang tren positif yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, dalam konferensi pers di Jakarta menyampaikan bahwa surplus tersebut terutama didorong oleh kinerja sektor non-migas yang mencatatkan angka sebesar USD 3,22 miliar. Beberapa komoditas utama yang memberikan kontribusi besar terhadap surplus ini antara lain:

  • Lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) dengan surplus sebesar USD 3,10 miliar
  • Bahan bakar mineral (HS 27) dengan surplus USD 2,16 miliar
  • Besi dan baja (HS 72) dengan surplus sebesar USD 1,51 miliar

Sementara itu, neraca perdagangan komoditas migas mengalami defisit sebesar USD 2,27 miliar. Komoditas penyumbang defisit utama adalah minyak mentah, hasil minyak, serta gas.

Dari sisi mitra dagang, tiga negara yang memberikan kontribusi terbesar terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia adalah:

  • Amerika Serikat dengan surplus sebesar USD 1,55 miliar
  • India dengan surplus sebesar USD 1,07 miliar
  • Filipina dengan surplus sebesar USD 0,69 miliar

Di sisi lain, beberapa negara menjadi penyumbang defisit terbesar, antara lain:

  • Tiongkok dengan defisit sebesar USD 2,47 miliar
  • Australia dengan defisit sebesar USD 0,96 miliar
  • Prancis dengan defisit sebesar USD 0,47 miliar

Dari segi komoditas penyumbang defisit utama, beberapa produk yang mengalami penurunan antara lain:

  • Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) dengan defisit sebesar USD 2,23 miliar
  • Mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) dengan defisit sebesar USD 1,39 miliar
  • Plastik dan barang dari plastik (HS 39) dengan defisit sebesar USD 0,73 miliar

Kondisi Perdagangan Nasional

Pencapaian surplus yang terus berlanjut menunjukkan bahwa sektor non-migas masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan adanya kontribusi dari komoditas seperti lemak dan minyak hewan nabati serta besi dan baja, sektor industri dalam negeri terus menunjukkan pertumbuhan yang stabil.

Namun, defisit pada sektor migas tetap menjadi tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap energi impor masih cukup tinggi, meskipun ada upaya untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Kebijakan pemerintah yang fokus pada pengembangan industri dan diversifikasi ekonomi tampaknya mulai menunjukkan hasil. Dengan kondisi ini, Indonesia memiliki peluang untuk terus mempertahankan tren surplus dalam neraca perdagangan, terutama jika kebijakan yang mendukung sektor manufaktur dan ekspor terus diperkuat.


Pos terkait