Survei: Banyak Warga AS Tidak Setuju Serangan ke Iran

Aa1xomjx 1
Aa1xomjx 1



Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Amerika Serikat menolak serangan yang dilakukan oleh pemerintah AS terhadap Iran. Mereka juga merasa bahwa tindakan militer ini berpotensi memicu konflik yang lebih panjang antara dua negara tersebut.

Salah satu survei yang dilakukan adalah oleh CNN bersama SSRS pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026. Penelitian ini melibatkan 1.004 orang dewasa melalui pesan teks. Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 59% responden tidak setuju dengan aksi serangan AS ke Iran. Selain itu, 54% dari mereka percaya bahwa tindakan militer akan membuat Iran menjadi ancaman yang lebih besar bagi Negeri Paman Sam.

Pemilih Partai Demokrat merupakan kelompok yang paling menentang operasi militer AS terhadap Iran. Sebanyak 82% dari responden partai tersebut menyatakan penolakan terhadap serangan ke Negeri Mullah. Sementara itu, 77% responden Partai Republik mendukung serangan AS, sedangkan 68% responden independen tidak setuju dengan aksi militer tersebut.

Reaksi dari masyarakat Iran setelah kematian Ayatollah Khameini (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)

Hasil survei lain yang dilakukan oleh Reuters dan Ipsos menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda. Dari total responden, hanya 27% yang setuju dengan serangan AS ke Iran. Sementara itu, 43% menyatakan ketidaksetujuan, dan 29% mengaku tidak yakin.

Pandangan masyarakat terhadap operasi militer ke Iran juga terbagi berdasarkan dukungan politik. Sebanyak 74% responden Partai Demokrat tidak setuju dengan tindakan serangan AS. Di sisi lain, 55% pemilih Partai Republik setuju dengan aksi militer tersebut. Sementara itu, 44% dari responden independen tidak setuju dengan serangan AS ke Iran, dan hanya 19% yang setuju.

Banyak responden menyatakan bahwa jika tindakan militer tersebut menyebabkan korban jiwa di pihak AS, mereka akan kurang mendukung aksi tersebut. Sebanyak 54% dari mereka mengungkapkan hal ini.

Survei ini dilakukan pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026 oleh Ipsos untuk Reuters. Penelitian ini didasarkan pada sampel probabilitas yang representatif secara nasional dari 1.282 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas.

Pos terkait