Sutrisno Meninggal di Usia 90 Tahun, Ini Jejak Karier Wapres ke-6 RI

Aa1xkx1l
Aa1xkx1l

Kehidupan dan Perjalanan Karier Try Sutrisno

Try Sutrisno, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 yang menjabat pada periode 1993–1998, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin (2/3/2026). Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 06.58 WIB. Jenazahnya kini disemayamkan di rumah duka kawasan Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.

Rencananya, jenazah Try Sutrisno akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Kabar tentang kematian tokoh militer ini dibenarkan oleh mantan Kepala RSPAD, Letjen TNI (Purn) Albertus Budi Sulistya.

Perjalanan Karier Militer

Perjalanan karier Try Sutrisno dimulai dari Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada tahun 1956. Sejak awal masa pendidikannya, ia telah menunjukkan komitmen dan kesungguhan dalam menjalankan tugas. Hubungan dengan Presiden Soeharto sudah terjalin sejak Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962, sebuah momen penting dalam perjalanan kariernya.

Pada 1974, ia menjadi ajudan Presiden Soeharto, posisi strategis yang membawanya semakin dekat dengan pusat kekuasaan. Pada Agustus 1985, ia mendapat pangkat Letnan Jenderal TNI dan ditunjuk sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad), mendampingi Kasad Jenderal TNI Rudhini. Dalam waktu singkat, tepatnya Juni 1986, ia menggantikan Rudhini sebagai Kasad.

Puncak kiprahnya di panggung politik nasional terjadi ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1992–1997 melalui Sidang Umum 1993 menetapkannya sebagai Wakil Presiden untuk mendampingi Soeharto. Masa baktinya sebagai Wakil Presiden berakhir pada 1998, dan posisinya digantikan oleh BJ. Habibie dalam Sidang Umum MPR.

Dari Kehidupan Sederhana ke Panggung Nasional

Di balik jabatan tinggi yang pernah disandangnya, perjalanan hidup Try Sutrisno menyimpan kisah perjuangan panjang. Ia tidak berasal dari keluarga elite maupun keturunan bangsawan. Sejak kecil, ia telah terbiasa bekerja keras demi membantu keluarga. Sebelum meniti karier militer, ia pernah berjualan air minum di stasiun, menjadi loper koran, hingga menjajarkan rokok secara keliling.

Pengalaman hidup sederhana itu membentuk karakter tangguh dan kedekatan emosionalnya dengan rakyat kecil. Lelaki kelahiran Surabaya, 15 November 1935, tersebut pada akhirnya menjadi Wakil Presiden RI ke-6 periode 1993–1998. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk mencapai posisi tertinggi di pemerintahan.

Menariknya, dalam dinamika politik 1993, namanya bukanlah figur yang sejak awal diproyeksikan mendampingi Soeharto. Saat itu, BJ Habibie yang menjabat Ketua ICMI dan dikenal sebagai teknokrat terkemuka disebut-sebut sebagai kandidat kuat Wakil Presiden, bahkan mendapat dukungan dari PPP. Namun kalangan ABRI memiliki pertimbangan berbeda. Mereka mendorong Try Sutrisno sebagai sosok yang dinilai lebih representatif dari unsur militer untuk mendampingi Presiden.

Melalui proses politik yang cukup kompleks, akhirnya Try terpilih menjadi Wakil Presiden, meski dinamika di balik layar saat itu cukup beragam.

Biografi dan Jejak Karier

Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Istri almarhum bernama Tuti Sutiawati. Berikut adalah jejak karier militer dan politiknya:

Jejak Karier Militer

  • Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) (1986–1988)
  • Panglima ABRI (kini TNI) (1988–1993)
  • Ketua Umum PBSI (1985–1993)

Jejak Karier Politik

  • Wakil Presiden RI ke-6 (11 Maret 1993 – 11 Maret 1998)
  • Menggantikan Soedharmono
  • Digantikan oleh B. J. Habibie
  • Pernah berafiliasi dengan Partai Golkar dan PKP

Kisah hidup Try Sutrisno menjadi gambaran tentang perjalanan panjang seorang anak bangsa yang menapaki tangga karier dari bawah. Dari penjual air minum dan loper koran, ia menorehkan sejarah sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Sebuah perjalanan yang memperlihatkan arti ketekunan, loyalitas, dan kerja keras dalam meraih puncak pengabdian kepada negara.

Pos terkait