Kehilangan Besar bagi Bangsa Indonesia
Wafatnya Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, menjadi duka yang mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia meninggal di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Perjalanan hidup dan pengabdian Try Sutrisno telah memberikan dampak besar dalam sejarah bangsa ini.
Latar Belakang dan Karier Militer
Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Ia memulai karier dari jalur militer dan dikenal sebagai perwira yang tumbuh dari bawah. Sebagai lulusan Akademi Militer, ia mengawali pengabdiannya sebagai prajurit TNI Angkatan Darat dan secara bertahap menjabat berbagai posisi strategis. Beberapa jabatan penting yang pernah diemban antara lain:
- Panglima Kodam IV/Diponegoro
- Panglima Kodam Jaya
- Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)
- Panglima ABRI (kini TNI)
Pengalamannya yang luas di bidang pertahanan dan keamanan menjadikannya salah satu tokoh sentral militer pada dekade 1980–1990-an.
Menjadi Wakil Presiden RI
Pada Sidang Umum MPR 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden RI ke-6. Selama lima tahun masa jabatannya, ia berperan mendampingi Presiden Soeharto dalam menjalankan roda pemerintahan, khususnya dalam isu stabilitas nasional dan pembangunan. Sebagai tokoh militer yang masuk ke ranah politik nasional, Try dikenal memiliki karakter tegas, disiplin, dan loyal terhadap negara.
Kiprah Pasca-Purnatugas
Setelah tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden pada 1998, Try Sutrisno tetap aktif dalam berbagai kegiatan kebangsaan. Ia kerap hadir dalam forum-forum kenegaraan serta kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan ideologi Pancasila dan penguatan wawasan kebangsaan. Pengabdian dan dedikasinya terhadap bangsa tidak berhenti setelah masa jabatannya berakhir.
Warisan Pengabdian
Wafatnya Try Sutrisno menjadi kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Ia dikenang sebagai prajurit yang meniti karier dari bawah hingga mencapai puncak jabatan militer dan kenegaraan. Semasa hidupnya, ia mendedikasikan diri untuk pengabdian kepada negara, baik sebagai tentara maupun sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.
Penutup
Semoga almarhum diterima di sisi-Nya dengan penuh rahmat dan kasih sayang. Pengabdianmu menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa.





