Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin (2/3).
Kabar duka tersebut dibenarkan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi.
“Benar, kita berduka cita sangat mendalam,” kata Prasetyo Hadi, Senin (2/3).
Menurut rencana, jenazah akan dimandikan di rumah duka RSPAD dan selanjutnya dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat, untuk disemayamkan.
Profil Singkat Try Sutrisno
Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia pada periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto. Ia lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. Try Sutrisno merupakan salah satu Wakil Presiden Indonesia yang berasal dari kalangan militer.
Karier militernya dimulai pada tahun 1956 ketika ia diterima sebagai taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Karier militernya terus berkembang, termasuk keterlibatannya dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962, yang menjadi awal perkenalannya dengan Soeharto.
Pada 1974, Try Sutrisno dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto. Kariernya kian menanjak ketika pada Agustus 1985 ia berpangkat Letnan Jenderal TNI dan diangkat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad), mendampingi Kepala Staf TNI Angkatan Darat saat itu, Jenderal TNI Rhudini.
Perjalanan Karier Militer
Sebagai seorang perwira tinggi TNI, Try Sutrisno memiliki peran penting dalam berbagai operasi dan pengambilan keputusan strategis. Pengalamannya dalam menjalani tugas di lapangan membuatnya menjadi tokoh yang dihormati dalam lingkungan militer.
Selama masa pemerintahan Presiden Soeharto, ia sering kali menjadi representasi dari kebijakan pemerintah di berbagai lini, termasuk dalam bidang pertahanan dan keamanan. Kepercayaan yang diberikan oleh Presiden Soeharto menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang dianggap andal dan dapat dipercaya.
Peran Sebagai Wakil Presiden
Sebagai Wakil Presiden, Try Sutrisno tidak hanya bertugas sebagai pendamping presiden, tetapi juga aktif dalam berbagai kebijakan nasional. Ia dikenal sebagai tokoh yang memiliki visi jangka panjang dalam membangun stabilitas politik dan ekonomi Indonesia.
Meskipun masa jabatannya berakhir pada tahun 1998, kontribusi dan dedikasinya terhadap bangsa dan negara tetap dikenang oleh banyak orang. Banyak pihak mengakui bahwa ia telah memberikan sumbangan besar dalam pembentukan sistem pemerintahan yang lebih baik.
Momen Duka dan Proses Pemakaman
Duka cita atas wafatnya Try Sutrisno langsung dirasakan oleh keluarga besar TNI, partai politik, serta masyarakat luas. Berbagai pihak menyampaikan rasa belasungkawa melalui berbagai cara, baik secara langsung maupun melalui media.
Proses pemakaman akan dilakukan sesuai dengan tradisi dan adat istiadat yang berlaku. Jenazah akan dibawa ke rumah duka setelah dimandikan dan diberi doa oleh para tokoh dan kerabat dekat.
Prosesi pemakaman ini juga akan dihadiri oleh berbagai tokoh nasional, termasuk pejabat pemerintah dan anggota TNI. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh dan penghargaan yang diberikan kepada almarhum.
Kesan dan Kenangan
Banyak orang yang mengenal Try Sutrisno sebagai sosok yang rendah hati, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Kehidupannya yang sederhana namun penuh makna menjadi contoh bagi generasi muda.
Selain itu, ia juga dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah berkomunikasi dengan siapa pun, baik itu rekan kerja maupun masyarakat umum. Semangatnya dalam menjalani tugas dan tanggung jawab menjadi nilai-nilai yang patut diteladani.
Dengan wafatnya Try Sutrisno, Indonesia kehilangan seorang tokoh penting yang telah berkontribusi dalam membangun bangsa. Namun, warisan dan kenangan yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam benak masyarakat.





