Menginternalisasi Sifat-Sifat Tuhan dalam Kehidupan
Salah satu hikmah terbesar dari berpuasa adalah mencontoh dan meneladani sifat-sifat Tuhan. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Takhallaqu bi akhlaqillah” (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT). Dalam Alquran, disebutkan bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat seperti “huwa yuth’im wa la yuth’am” (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (Q.S. 6:14), serta “lam takun lahu shahibah” (Tuhan tidak memiliki pasangan) (Q.S. 6:101).
Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri merupakan perjalanan spiritual yang membawa manusia lebih dekat kepada Tuhannya. Semakin dekat jarak seorang hamba dengan Tuhannya, semakin mulia hamba itu.
Dalam berpuasa, kita diwajibkan untuk tidak makan, minum, dan berhubungan seks, namun pada saat yang sama, kita juga diwajibkan untuk berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Harapan utama kita dengan menjalankan ibadah puasa adalah mencapai kualitas muttaqin (orang-orang taqwa), suatu kualitas spiritual yang paling mulia dan didambakan setiap orang. Hal ini sesuai dengan ayat yang menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah/2:183).
Kata muttaqun dalam ayat tersebut bukan sekadar makna takut kepada Allah SWT, karena Allah SWT diperkenalkan melalui al-asma’ al-husna-Nya sebagai Tuhan Maha Pencinta dan Maha Penyayang. Manusia, yang diciptakan dengan cinta oleh Allah, memiliki posisi istimewa. Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Q.S. Shad/38:75). Hanya manusia yang ditegaskan diciptakan dengan kedua tangan-Nya, sehingga bisa disebut sebagai ciptaan langsung (hand made) Allah SWT.
Makna “kedua tangan Tuhan” dibahas panjang lebar dalam kitab-kitab tafsir dan tasawuf. Intinya, dua tangan tersebut merujuk pada kekuatan maskulin (jalaliyyah) dan kekuatan feminine (jamaliyyah) Tuhan. Kedua sifat ini digambarkan dalam nama-nama indah-Nya, yang dikenal sebagai al-Asma’ al-Husna. Internalisasi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita, seperti contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, sangat penting.
Dari perspektif tasawuf, al-Asma’ al-Husna tidak hanya menunjukkan sifat-sifat Allah SWT, tetapi juga menjadi titik masuk (entry point) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap orang dapat mengakses dan mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut. Misalnya, seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri dengan nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga tetap memiliki harapan dan tidak perlu kehilangan semangat hidup.
Bukankah di antara 99 nama itu sifat-sifat kasih Tuhan lebih dominan? Bukankah setiap surah dalam Alquran selalu diawali dengan Bismillah al-rahman al-rahim, yang menonjolkan kemahapengasihan (rahmaniyyah) dan kemahapenyayangan (rahimiyyah) Tuhan?
Salah satu bentuk kemahapengasihan Tuhan adalah menganugrahkan bulan Ramadan. Secara harfiyah, Ramadan berarti “penghancur” atau “penghangus”. Setelah 11 bulan dihabiskan dalam kehidupan yang kering dan penuh pertarungan, bulan Ramadan ini mengajak kita kembali ke kampung halaman rohani yang basah dan menyejukkan, penuh suasana lembut dan penuh kasih. Bulan puasa seperti oases yang siap memberi kepuasan spiritual kepada orang yang menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati.
Agak aneh memang, Tuhan yang sedemikian lembut menampilkan diri-Nya, ayat-ayat Alquran yang santun menyapa anak manusia, dan Nabi Muhammad SAW yang menawan dengan sikap kelembutan dan kesantunan. Namun, umat Islam sebagian besar masih bertentangan dengan sifat-sifat yang dilakukan Nabi dan Tuhan. Islam tidak pernah menolerir pemeluknya melakukan tindakan kekerasan. Kekerasan itu sendiri tidak sejalan dengan sifat-sifat utama Tuhan, sebagaimana diperkenalkan dalam al-asma’ al-husna’-Nya.





