JAKARTA — Keterbatasan peluang penurunan suku bunga acuan pada tahun 2026 dianggap menjadi tantangan bagi sektor perbankan nasional dalam menjaga efisiensi biaya dana sambil tetap mempertahankan profitabilitas. Hal ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, Deposit Facility sebesar 3,75%, dan Lending Facility sebesar 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Februari 2026.
BI menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap berfokus pada stabilisasi nilai tukar rupiah, pengendalian inflasi sesuai target, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sikap kebijakan yang terukur ini membuat ruang untuk pelonggaran suku bunga pada tahun ini dinilai lebih sempit dibandingkan periode sebelumnya.
Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menyatakan bahwa di tengah situasi ini, industri perbankan harus lebih disiplin dalam mengelola struktur pendanaan dan menjaga margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM). Ia menekankan bahwa di tengah ruang penurunan suku bunga yang semakin terbatas, bank yang mampu memperkuat dana murah dan menjaga loyalitas nasabah akan memiliki ketahanan profitabilitas yang lebih baik. Fokus pada layanan dan ekosistem nasabah menjadi faktor pembeda dalam persaingan.
“Tahun ini merupakan fase konsolidasi bagi sektor perbankan. Stabilitas suku bunga justru menjadi momentum bagi bank untuk memperbaiki struktur pendanaan dan meningkatkan efisiensi internal,” ujarnya dalam pernyataannya, Senin (2/3/2025).
Aditya menambahkan bahwa bank dengan komposisi dana murah atau Current Account and Saving Account (CASA) yang kuat dan pengelolaan risiko yang disiplin akan lebih mampu menjaga NIM. Selain itu, inovasi produk dan penguatan layanan digital dinilai sebagai faktor penting dalam menarik dana pihak ketiga secara berkelanjutan. Pendekatan berbasis nilai tambah layanan memungkinkan bank tidak hanya bersaing pada tingkat bunga, tetapi juga pada pengalaman dan kemudahan transaksi nasabah.
Beberapa bank telah mengambil langkah strategis untuk memperkuat struktur pendanaan mereka. Contohnya adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906, Tbk (BWS), yang fokus pada penguatan struktur funding melalui optimalisasi komposisi dana murah serta inovasi produk. Strategi ini tidak hanya bertumpu pada penyesuaian pricing suku bunga, tetapi juga pada peningkatan nilai layanan guna menjaga cost of fund (CoF) tetap kompetitif dan mengoptimalkan NIM.
Sebagai informasi, hingga September 2025, BWS berhasil menjaga NIM stabil di angka 3,23%. Portofolio CASA yang terdiri dari tabungan dan giro mencapai Rp8,05 triliun, dengan porsi sekitar 24,82% dari total dana pihak ketiga (DPK). Dengan posisi tersebut, BWS menunjukkan kemampuan dalam menjaga stabilitas pendanaan dan efisiensi operasional meskipun menghadapi tantangan dari batasan ruang penurunan suku bunga.





