Tantangan Penjualan Asuransi Kendaraan: Daya Beli Lemah dan Ketergantungan pada Leasing

Aa1xpi3d 2
Aa1xpi3d 2



JAKARTA — Perusahaan asuransi yang menjual produk asuransi kendaraan bermotor menghadapi tantangan untuk tetap bisa bersaing dalam hal harga, relevansi terhadap kebutuhan pasar, serta menjaga profitabilitas.

Menurut pengamat asuransi Dedi Kristianto, ada beberapa tantangan yang akan dihadapi perusahaan dalam memasarkan asuransi kendaraan bermotor pada tahun 2026. Tantangan tersebut mencakup penurunan permintaan akibat melemahnya penjualan kendaraan dan daya beli masyarakat, persaingan harga yang semakin ketat, serta kesensitifan nasabah terhadap premi asuransi.

Selain itu, adanya ketergantungan pada leasing karena segmen non-leasing belum optimal. Literasi masyarakat tentang asuransi masih rendah, proteksi sering dianggap sebagai beban biaya, tekanan dari klaim yang meningkat, dan tuntutan digitalisasi yang berdampak pada margin keuntungan.

“Tantangan-tantangan ini harus dihadapi dengan strategi yang tepat agar pertumbuhan premi dapat meningkat,” ujarnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Dedi menyarankan perusahaan asuransi melakukan beberapa langkah seperti:

  • Membuka saluran distribusi yang lebih beragam
  • Mengoptimalkan cross-selling dan renewal
  • Melakukan inovasi produk serta pricing yang fleksibel
  • Memperbaiki loss ratio

“Intinya, pertumbuhan premi harus didasarkan pada ekspansi distribusi dan pengelolaan risiko yang lebih presisi, bukan hanya menunggu kenaikan penjualan kendaraan baru,” tambahnya.

Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pendapatan premi asuransi kendaraan bermotor pada 2025 mengalami penurunan sebesar 4,2% (year on year/YoY) menjadi Rp19,01 triliun. Sementara itu, klaim juga turun sebesar 2,4% (YoY) menjadi Rp7,52 triliun.

Dedi menilai penurunan pendapatan premi dan klaim tidak lepas dari kombinasi faktor makro, industri, dan perilaku konsumen. Misalnya, penjualan kendaraan baru yang melemah membuat bisnis dari leasing ikut turun. Daya beli masyarakat yang tertekan menyebabkan nasabah mengurangi cakupan perlindungan atau tidak memperpanjang polis.

Sementara untuk klaim, penurunan mobilitas menyebabkan frekuensi kecelakaan dan klaim berkurang. Selain itu, underwriting yang lebih selektif serta kontrol fraud yang lebih kuat membuat klaim lebih terkendali.

“Secara keseluruhan, ini mencerminkan kombinasi perlambatan ekonomi dan perbaikan manajemen risiko. Premi yang tertekan bisa diimbangi dengan penurunan klaim yang membantu menjaga profitabilitas,” jelas Dedi.

Oleh karena itu, ia memperkirakan lini kendaraan bermotor akan tumbuh secara moderat (single digit) pada 2026, seiring stabilnya kondisi ekonomi dan penjualan kendaraan. Menurutnya, klaim kemungkinan akan tetap terkendali meski biaya per klaim bisa naik karena inflasi spare part kendaraan.

“Lini ini masih akan menjadi salah satu kontributor terbesar asuransi umum, karena bersifat mass market dan renewal tahunan. Namun, pertumbuhannya tidak akan agresif dan sangat bergantung pada pemulihan ekonomi serta disiplin manajemen risiko,” tutupnya.

Pos terkait