Tarawih 20 Rakaat dalam 6 Menit, Tradisi Unik Ponpes Al Quraniyah Indramayu

Libera 18
Libera 18

Tradisi Salat Tarawih Kilat di Ponpes Al Quraniyah

Setiap bulan Ramadan tiba, Pondok Pesantren Al Quraniyah di Desa Dukuhjati, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, kembali menghidupkan tradisi yang telah menjadi ciri khasnya: salat tarawih kilat. Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 2006 dan terus dipertahankan hingga saat ini. Dalam waktu kurang dari enam menit, 20 rakaat tarawih dapat diselesaikan dengan cepat.

Salat tarawih kilat ini tidak hanya menjadi bentuk ibadah yang unik, tetapi juga menjadi daya tarik bagi banyak jemaah, baik dari warga sekitar maupun luar kampung. Awalnya, tradisi ini muncul sebagai upaya untuk mengajak pemuda yang sebelumnya enggan datang ke masjid agar ikut berpartisipasi dalam ibadah malam Ramadan.

Sejarah dan Mekanisme Pelaksanaan

Pemimpin pelaksanaan tarawih kilat adalah KH Azun Mauzun, Pengasuh Ponpes Al Quraniyah. Rangkaian ibadah dimulai dengan salat isya berjamaah, dilanjutkan dengan tarawih kilat, dan diakhiri dengan salat witir tiga rakaat. Untuk salat isya dan witir, durasi tidak terlalu cepat seperti pada tarawih. Perbedaan ritme ini menjadi pembeda utama dalam rangkaian ibadah malam Ramadan di sana.

Berdasarkan pengamatan, satu rakaat tarawih hanya memakan waktu sekitar 20 hingga 25 detik. Artinya, dua rakaat bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari satu menit. Jika dihitung rata-rata, dua rakaat yang diimami oleh KH Azun Mauzun berlangsung sekitar 45 detik. Dengan pola tersebut, keseluruhan 20 rakaat dapat dirampungkan dalam waktu yang sangat singkat.

Motivasi Awal dan Respons Masyarakat

KH Azun Mauzun menjelaskan bahwa gagasan tarawih kilat muncul dari realitas sosial di lingkungan sekitar. Saat itu, banyak pemuda sering berkumpul, memainkan gitar, atau menggunakan sepeda motor di waktu tarawih, yang mengganggu jemaah lainnya. Pemuda-pemuda ini juga enggan mengikuti salat tarawih jika prosesnya terlalu lama.

Dari situasi tersebut, pesantren mengambil langkah untuk menyelenggarakan tarawih dengan durasi singkat agar kalangan muda tertarik datang ke masjid, terutama selama bulan Ramadan. Keputusan ini bukan diambil sepihak, melainkan hasil kesepakatan bersama antara generasi muda dan para tokoh masyarakat setempat.

Seiring berjalannya waktu, respons yang muncul justru melampaui perkiraan. Tidak hanya pemuda setempat yang hadir, tetapi juga warga dari luar kampung yang sengaja datang untuk ikut merasakan pengalaman tersebut.

Kehadiran Anak Muda dan Ketertiban

Fenomena ini terlihat jelas di lapangan. Mayoritas jemaah tarawih kilat didominasi anak muda yang sigap mengikuti setiap gerakan imam yang berjalan cepat. Anak-anak pun tampak bersemangat sekaligus tertib ketika mengikuti rangkaian salat tersebut. Kehadiran mereka tidak sampai mengganggu kekhusyukan jemaah lain.

Selama bertahun-tahun memimpin tarawih kilat, Azun menegaskan bahwa pelaksanaan tersebut tetap sah karena memenuhi ketentuan dan rukun salat. Setiap bacaan salatnya menggunakan surat-surat pendek, sehingga bisa dilaksanakan secara cepat, dan sesuai syarat maupun rukun salat.

Periode Vakum dan Kembali Digelar

Meski telah menjadi agenda rutin, tarawih kilat di Ponpes Al Quraniyah pernah dihentikan dua kali, yakni pada Ramadan 2022 dan 2025. Tahun ini, kegiatan tersebut kembali digelar. Pada 2022, pihak pesantren mengikuti imbauan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Indramayu agar tidak menyelenggarakan tarawih kilat. Sementara pada 2025, faktor usia KH Azun Mauzun yang tidak lagi muda serta belum adanya sosok pengganti imam menjadi alasan utama penghentian sementara tersebut.

Kala itu, meskipun tidak lagi secepat enam menit, durasi tarawih tetap tergolong singkat, sekitar 12 hingga 15 menit. Azun mengakui bahwa pada dua periode tanpa tarawih kilat tersebut, jumlah jemaah yang hadir memang sedikit menurun dibandingkan biasanya.

Pengalaman Jemaah

Salah satu jemaah, Aqilah (24), mengungkapkan dirinya hampir setiap tahun mengikuti tarawih kilat di pesantren yang letaknya tak jauh dari rumahnya itu. Ia menyatakan tidak merasakan keluhan fisik meskipun gerakan salat berlangsung sangat cepat.

“Alhamdulillah, enggak ada sakit-sakit atau pegal-pegal badannya, karena setiap tahun selalu salat tarawih di Ponpes Al Quraniyah, bahkan salatnya yang cepat, sehingga bisa istirahat lebih lama,” kata Aqilah.


Pos terkait