Tarian Sunaring Jagat Meriahkan Imlek 2577 di Taman Sukasada Ujung Karangasem

Old Rajas Palace Taman Ujung Sukasada Taman Ujung Water Palace Karangasem Bali Island Indonesia 2ca7x70 1
Old Rajas Palace Taman Ujung Sukasada Taman Ujung Water Palace Karangasem Bali Island Indonesia 2ca7x70 1

Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem menggelar pagelaran seni dan budaya bertajuk Tarian Sunaring Jagat dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Taman Sukasada Ujung, Minggu, 1 Maret 2026. Acara ini menjadi simbol akulturasi budaya Bali dan Tionghoa di Kabupaten Karangasem. Tarian Sunaring Jagat memiliki makna cahaya alam semesta yang merupakan hasil dari penggabungan seni budaya Bali dengan Tionghoa.

Pagelaran tersebut menampilkan berbagai kesenian, termasuk atraksi Barongsai yang dipadukan dengan tarian Bali. Acara ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat hubungan antara Puri Karangasem dengan masyarakat Tionghoa di Bali, khususnya di Kabupaten Karangasem.

Ketua Pelaksana Pengelola Taman Sukasada Ujung, Anak Agung Dewandra Jelantik menjelaskan bahwa acara ini berkaitan dengan Tahun Baru Imlek di Puri Agung Karangasem. Ia menyatakan bahwa pihaknya berupaya mengajak dan mengingatkan kembali hubungan baik antara Puri Karangasem dengan Keluarga Tionghoa. Komunitas Tionghoa datang khusus untuk menampilkan tarian Barongsai sebagai bentuk akulturasi budaya dengan tari-tarian yang ada di Bali.

Melalui pagelaran seni budaya ini, diharapkan kedekatan hubungan leluhur antara Puri Agung Karangasem dan warga Tionghoa semakin terjalin baik. “Hal itu berarti kita membawa sebuah cahaya yang bisa bawa kebaikan untuk kita semua,” ujar Dewandra Jelantik.

Kolaborasi Pengelolaan dan Promosi Wisata

Taman Sukasada Ujung saat ini dikelola bersama oleh Puri Karangasem dan Pemerintah Kabupaten Karangasem dalam kerja sama selama 30 tahun yang akan berakhir enam tahun mendatang. Kolaborasi ini terus diperkuat untuk mengoptimalkan promosi Daya Tarik Wisata (DTW) Karangasem.

“Taman Ujung Karangasem ini bisa menjadi mercusuar dari pariwisata yang ada di Karangasem,” ujarnya. Menurut Dewandra Jelantik, pasar wisatawan masih didominasi Eropa, disusul India dan Korea, sementara wisatawan domestik sekitar 30 persen. Kunjungan wisatawan sejak Januari 2026 tercatat menurun menjadi 300-400 orang per hari akibat faktor cuaca.

Potensi Wisatawan Cina dan Libatkan Travel Agent

Dewandra Jelantik juga menyoroti potensi wisatawan Cina ke Taman Ujung Karangasem. Pihaknya mengembangkan model kolaborasi baru dengan komunitas Tionghoa di Bali. “Kami harapkan kedepan kita akan jadikan Daya Tarik untuk turis-turis Cina yang bisa datang ke Bali. Sekarang mulai banyak, tapi memang belum sebanyak turis yang lainnya, seperti Korea yang justru sekarang cukup favorit cuma turis Cina ini kita akan coba untuk bisa naik mengunjungi destinasi pariwisata,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga mengundang beberapa travel agent yang bisa mengambil turis Cina. “Mereka akan ikut datang kesini dan kita tunjukkan, bahwa ini sebagai tempat yang ada kaitannya dengan Cina zaman dahulu. Kita harapkan mereka bisa menjadi promotor kita nanti untuk bisa membawa turis Cina datang ke Bali,” ungkapnya.

Hadirnya Pejabat dan Raja Solo

Pagelaran ini turut dihadiri Wakil Menteri Pariwisata, Wakil Menteri Kependudukan dan Pengembangan Keluarga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN Tedy Bharata. Kehadiran Wamen Pariwisata diharapkan mampu memberikan dorongan agar DTW Taman Ujung semakin berkiprah di dunia pariwisata.

Hadir pula, Raja Solo, Mangkunegoro X yang disebut telah lama menjalin persahabatan dengan Puri Karangasem sejak generasi leluhur. “Kita jaga hubungan baik Solo dan Karangasem, sehingga setiap kami ada acara disini beliau hadir dan setiap beliau membuat acara di Solo, kami usahakan untuk juga hadir. Kegiatan ini akan kita jalin terus dan kita akan membuat kegiatan bersama nantinya antara Solo dan Karangasem seperti yang dibuat leluhur kami,” kata Ketua Pelaksana Pengelola Taman Sukasada Ujung Anak Agung Made Dewandra Jelantik.

Selain itu, pihaknya juga mengundang sejumlah Konco dari Jalan Kartini Denpasar yang dipimpin Jero Gede Kuning, serta komunitas dari Gianyar dan Klungkung untuk menampilkan unsur budaya dan spiritual. “Leluhur kami sangat dekat dengan leluhur Warga Tionghoa, sehingga pada waktu dulu seringkali diajak untuk ikut serta mendesain Taman Sukasada Ujung ini didesain salah satunya dari leluhur Tionghoa,” terangnya.

Akulturasi Budaya yang Kuat

Dewandra Jelantik menambahkan, ornamen dan arsitektur di Puri Agung Karangasem juga banyak mengadopsi unsur Cina sebagai wujud akulturasi budaya yang telah terjalin sejak lama. “Kami yakini itu semua karena akulturasi budaya yang memang sejak dahulu dijalin dengan baik oleh leluhur kami,” pungkasnya.

Pos terkait