.CO.ID – JAKARTA.
Tidak adanya tarif impor kopi yang dikenakan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia dalam perjanjian dagang dinilai menjadi kabar baik bagi industri kopi nasional. Hal ini memberikan peluang besar bagi produk kopi lokal untuk bersaing secara lebih efektif di pasar internasional.
Moelyono Soesilo, Ketua Departemen Specialty & Industri BPP Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), menyatakan bahwa tarif 0% tersebut mendorong daya saing kopi Indonesia dibandingkan produk dari negara produsen lain. Menurut AEKI, tahun 2025 menjadi momentum produksi tertinggi dengan capaian sekitar 12,5 juta hingga 13 juta karung atau sekitar 750.000 ton hingga 780.000 ton.
Produksi Diproyeksi Turun
Meskipun demikian, AEKI memperkirakan produksi kopi pada tahun ini akan mengalami penurunan. Proyeksi ini dipicu oleh anomali cuaca serta menurunnya produksi kopi arabika akibat bencana yang terjadi di Sumatra pada akhir 2025.
Walau prospek ekspor, khususnya ke pasar AS, dinilai tetap menjanjikan, Moelyono menyoroti beberapa tantangan yang masih menghambat perkembangan industri kopi nasional. Salah satunya adalah masalah logistik, yang masih menjadi faktor penghambat. Ia menyebutkan bahwa waktu pengapalan kopi Indonesia lebih lama dibandingkan kopi dari negara-negara di Amerika Selatan.
Selain itu, konsistensi pasokan juga menjadi perhatian utama. Moelyono menjelaskan bahwa pasokan kopi Indonesia relatif lebih terbatas dibandingkan sejumlah negara produsen lain, seiring dengan meningkatnya konsumsi domestik.
Harapan Dukungan Pemerintah
AEKI berharap pemerintah dapat mengoptimalkan dukungan bagi industri kopi nasional, terutama melalui penyediaan pupuk dan akses pembiayaan (kredit) yang lebih terjangkau bagi petani dan pelaku usaha. Selain itu, pemerintah dapat memberikan dukungan riset untuk varietas kopi unggulan, agar produktivitas tetap tinggi dengan daya tahan yang kuat terhadap penyakit dan cuaca ekstrem.
Dengan tarif ekspor 0% ke AS, peluang pasar terbuka lebih lebar. Namun, penguatan produksi, logistik, dan dukungan hulu dinilai tetap krusial agar Indonesia mampu memaksimalkan momentum tersebut.
Beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan antara lain:
- Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kopi melalui inovasi teknologi pertanian.
- Pengembangan infrastruktur logistik yang lebih efisien untuk mempercepat proses pengiriman.
- Peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian kopi.
- Peningkatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan peneliti untuk menghasilkan varietas kopi yang lebih unggul dan tahan terhadap perubahan iklim.
Dengan kerja sama yang solid dan strategi yang tepat, industri kopi Indonesia dapat memanfaatkan peluang yang ada dan menjadi salah satu produsen kopi terbesar di dunia.





