Tekanan Pencadangan Laba, Manajemen BBRI Optimis Kualitas Aset Membaik

Aa1nd3iv
Aa1nd3iv

Kinerja BRI pada Tahun 2025: Tertekan Namun Tetap Optimis

Pada tahun 2025, kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI masih menghadapi tekanan akibat kenaikan beban pencadangan yang dilakukan untuk mengantisipasi risiko kredit. Meski begitu, bank pelat merah ini tetap optimistis bahwa kualitas aset akan membaik, sehingga kinerja keuangan dapat berangsur pulih.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa perseroan terus memperkuat manajemen risiko, khususnya di segmen mikro dan kecil. Selama tahun 2025, BRI membentuk subdirektorat ritel di bawah direktorat manajemen risiko serta memperketat pengawasan di segmen wholesale. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengendalian risiko secara keseluruhan.

Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) BRI masih berada di kisaran 3%. Namun, kualitas penyaluran kredit baru dinilai membaik. “Di segmen besar, NPL sudah turun sekitar 110 basis poin secara tahunan. Ini menunjukkan underwriting baru lebih baik,” ujar Hery, Kamis (26/2/2026).

Strategi Penguatan Penagihan dan Pengendalian Biaya Kredit

Untuk mengurangi potensi kenaikan kolektibilitas, BRI juga memperkuat fungsi penagihan, khususnya di segmen konsumer dan mikro. Tahun ini, BRI menargetkan biaya kredit (cost of credit/CoC) di kisaran 2,9%–3,2%, yang lebih rendah dibanding realisasi 2025 sebesar 3,3%.

Dari sisi ekspansi, penyaluran kredit tetap dilakukan secara selektif dengan fokus utama pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk KUR perumahan. BRI menargetkan pertumbuhan kredit tumbuh 7%–9% pada tahun ini. Selektivitas diarahkan pada sektor dengan imbal hasil memadai tanpa mengorbankan kualitas aset.

Peningkatan Dana Murah dan Optimalisasi Layanan Perbankan

Untuk pendanaan, BRI menggenjot dana murah (current account saving account/CASA). Sepanjang 2025, rasio CASA mencapai 70,6%, meningkat dari 67,3% pada 2024. Strateginya mencakup optimalisasi transaction banking melalui peningkatan produktivitas dan volume transaksi ritel, serta penguatan platform cash management dan trade di segmen wholesale.

Dengan strategi tersebut, BRI menargetkan biaya dana menurun, margin terjaga, dan kualitas kredit semakin solid. “Kami yakin 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025,” tegas Hery.

Kinerja Keuangan BRI pada Tahun 2025

Secara kinerja, BRI membukukan laba bersih Rp 56,6 triliun sepanjang 2025, turun 5,5% secara tahunan akibat kenaikan total beban pencadangan 10,7% menjadi Rp 42,97 triliun. Pendapatan bunga bersih naik 5,5% menjadi Rp142,6 triliun, sementara pendapatan non bunga tumbuh 2,6% menjadi Rp54,6 triliun.

Adapun kredit BRI per akhir 2025 mencapai Rp1.521,49 triliun, tumbuh 12,31% secara tahunan. Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,4% menjadi Rp1.466,84 triliun. Dengan pertumbuhan yang signifikan di berbagai sektor, BRI tetap berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan stabilitas keuangan.

Pos terkait