Teks Bacaan Al Barzanji Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahannya

Teks Bacaan Al Barzanji Lengkap Arab Latin Dan Terjemahannya
Teks Bacaan Al Barzanji Lengkap Arab Latin Dan Terjemahannya

Teks Bacaan Al Barzanji merupakan salah satu karya sastra Islam yang sangat dikenal dan dibaca luas di berbagai majelis keagamaan, khususnya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pengajian, hingga acara keagamaan lainnya.

Kitab ini berisi rangkaian pujian, doa, dan kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW yang disusun dengan bahasa indah dan penuh makna. Karena itu, Al Barzanji tidak hanya dibaca sebagai bentuk ibadah, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan kepada Nabi serta memperdalam pemahaman tentang keteladanan beliau.

Berikut teks bacaan Al Barzanji lengkap dalam versi Arab, Latin, dan terjemahan Bahasa Indonesia agar mudah dipelajari oleh berbagai kalangan.

Pengertian dan Sejarah Singkat Al Barzanji

Mahasiswa Termuda Asal Surabaya Ini Juga Penghafal Alquran Lho. (Ilustrasi: static.independent.co.uk)

Kitab Al Barzanji adalah karya sastra pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Sayyid Ja‘far bin Hasan Al-Barzanji, seorang ulama besar dari Madinah. Kitab ini berisi kisah kelahiran, silsilah, akhlak, dan perjuangan Rasulullah SAW yang disampaikan dalam bentuk prosa dan syair yang indah. Sejak lama, Al Barzanji menjadi bagian penting dalam tradisi keagamaan umat Islam, khususnya di Nusantara.

Di Indonesia, bacaan Al Barzanji sering dilantunkan dalam acara Maulid Nabi, aqiqah, pernikahan, khitanan, hingga syukuran. Pembacaannya biasanya diiringi dengan lantunan shalawat dan dilakukan secara berjamaah, menciptakan suasana khidmat dan penuh keberkahan.

Struktur Bacaan Al Barzanji

tujuan diturunkannya alquran ©Ilustrasi dibuat AI

Secara umum, Al Barzanji terbagi menjadi beberapa bagian utama, antara lain:

  1. Muqaddimah (Pembukaan)

  2. Kisah Nasab dan Kelahiran Nabi Muhammad SAW

  3. Puji-pujian dan Shalawat kepada Nabi

  4. Mahallul Qiyam (Bagian Berdiri)

  5. Doa Penutup

Setiap bagian memiliki kandungan makna mendalam yang menggambarkan kemuliaan Rasulullah SAW serta ajakan untuk meneladani akhlak beliau.

Teks Bacaan Al Barzanji Lengkap

Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Bagian 1

الْجَنَّةُ وَنَعِيمُهَا سَعْدٌ لِمَنْ يُصَلِّي وَيُسَلِّمُ وَيُبَارِكُ عَلَيْهِ

Al-jannatu wanaʻîmuhâ sa’dun liman yushalli wa yusallimu wa yubâriku ‘alaihi.

Artinya: Surga dan kenikmatannya, semoga menjadi keberuntungan bagi siapa saja yang bershalawat dan memohonkan selamat serta berkah atas Nabi.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. أَبْتَدِيُّ الْإِمْلَاءَ بِاسْمِ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ مُسْتَدِرًا فَيْضَ الْبَرَكَاتِ عَلَى مَا أَنَا لَهُ وَأَوْلَاهُ. وَأُثْنِي بِحَمْدٍ مَوَارِدُهُ سَائِغَةً هَنِيَّةٌ مُمْتَطِيًا مِنَ الشَّكْرِ الْجَمِيلِ مَطَايَاهُ. وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى النُّوْرِ الْمَوْصُوْفِ بِالتَّقَدُّمِ وَالْأَوَّلِيَّةِ الْمُنْتَقِلِ فِي الْغُرَرِ الْكَرِيمَةِ وَالْجِبَاءِ. وَأَسْتَمْنِحُ اللَّهَ تَعَالَى رِضْوَانًايَخُصُّ الْعِتْرَةَ الطَّاهِرَةَ النَّبَوِيَّةَ. وَيَعُمُ الصَّحَابَةَ وَالْأَتْبَاعَ وَمنْ وَالَاهُ. وَأَسْتَجْدِيْهِ هِدَايَةً لِسُلُوكِ السُّبُلِ الْوَاضِحَةِ الْجَلِيَّةِ. وَحِفْظًا مِنَ الْغَوَايَةِ فِي خِطَطِ الْخَطَاءِ وَخُطَاهُ. وَأَنْشُرُ مِنْ قِصَّةِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ بُرُودًا حِسَانًا عَبْقَرِيَّةً. نَاظِمًا مِنَ النَّسَبِ الشَّرِيفِ عِقْدًا تُحَلَّى الْمَسَامِعُ بِحُلَاهُ. وَأَسْتَعِينُ بِحَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَقُوَّتِهِ الْقَوِيَّةِ. فَإِنَّهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Bismillahirrahmanirrahîm. Abtadi’ul-imla’a bismidz- dzâtil-‘aliyyah. mustadirran faidlal-barâkâti ‘alâ mâ anâ lahu wa aulâh, wa utsannî bihamdin mawâriduhu sâ’ighatun haniyyah. mumtathiyan minasy-syukril-jamîli mâ thâyâh, wa ushallî wa usallimu ‘alan-nûril-maushûfi bit-taqaddumi wal- awwaliyyah. al-muntaqili fil-ghuraril-karîmati wal-jibâh, wa astamnibullâha ta’âlâ ridlwânan yakhushshul-‘itratath- thâhiratan-nabawiyyah. wa ya’ummush-shahâbata wal-atbâ’a wa man wâlâh, wa astajdîhi hidâyatan lisulûkis-subulil- wâdlihatil-jaliyyah. wa hifdhan minal-ghawâyati fî khithathil- khathâ’i wa khuthâhu, wa ansyuru min qishshatil-maulidin- nabawiyyi burûdan hisânan ‘abqariyyah. nâdhiman minan- nasabisy-syarîfi ‘iqdan tuhallal-masâmiņu bihulâh, wa asta înu bihaulillâhi ta’âlâ wa quwwatihil-qawiyyah, fa innahu lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhi.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku mulai membacakan dengan nama Dzat Yang Mahatinggi. Dengan memohon limpahan keberkahan atas apa yang Allah berikan dan karuniakan kepadanya (Nabi Muhammad). Aku memuji dengan pujian yang sumbernya selalu membuatku menikmati. Dengan mengendarai rasa syukur yang indah. Aku mohonkan shalawat dan salam (rahmat dan kesejahteraan) atas cahaya yang disifati dengan kedahuluan (atas makhluk lain) dan keawalan (atas seluruh makhluk). Yang ber pindah-pindah pada orang-orang yang mulia. Aku memohon kepada Allah karunia keridhaan yang khusus bagi keluarga beliau yang suci. Dan umumnya bagi para sahabat, para pengikut, dan orang yang dicintainya. Dan aku meminta tolong kepada-Nya agar mendapat petunjuk untuk menempuh jalan yang jelas dan terang. Dan terpelihara dari kesesatan di tempat-tempat dan jalan-jalan kesalahan. Aku sebar luaskan kain yang baik lagi indah tentang kisah kelahiran Nabi. Dengan merangkai puisi mengenai keturunan yang mulia sebagai kalung yang membuat telinga terhias dengannya. Dan aku minta tolong dengan daya Allah Ta’ala dan kekuatan-Nya yang kuat. Karena, sesungguhnya tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan per-tolongan Allah.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيمٍ

‘aththiril-lâhumma qabrahul-karîma bi’arfin syadiyyin min shalâtin wa taslîm

Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Bagian 2

وَبَعْدُ؛ فَأَقُولُ هُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُهُ شَيْبَةُ الْحَمْدِ حُمِدَتْ خِصَالُهُ السَّنِيَّةُ ابْنِ هَاشِمٍ وَاسْمُهُ عَمْرُو بْنُ عَبْدِ مَنَافٍ وَاسْمُهُ الْمُغِيرَةُ الَّذِي يَنْتَمِي الْإِرْتِقَاءُ لِعُلْيَاهُ ابْنِ قُصَيْ وَاسْمُهُ مُجَمِّعٌ سُمِّيَ بِقُصَيَ لِتَقَاصِيْهِ فِي بِلَادِ قُضَاعَةَ الْقَصِيَّةِ. إِلَى أَنْ أَعَادَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِلَى الْحَرَمِ الْمُحْتَرَمِ فَحَمَى حِمَاهُ ابْنِ كِلَابِ وَاسْمُهُ حَكِيمُ ابْنُ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرٍ وَاسْمُهُ قُرَيْتُ وَإِلَيْهِ تُنْسَبُ الْبُطُوْنُ الْقُرَشِيَّةُ. وَمَا فَوْقَهُ كِنَانِيُّ كَمَا جَنَحَ إِلَيْهِ الْكَثِيرُ وَارْتَضَاهُ ابْنِ مَالِكِ ابْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ أَهْدَى الْبُدْنَ إِلَى الرِّحَابِ الْحَرَمِيَّةِ. وَسُمِعَ فِي صُلْبِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ اللَّهَ تَعَالَى وَلَبَّاهُ، ابْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِ بْنِ عَدْنَانَ وَهُذَا سِلْكُ نَظَّمَتْ فَرَآئِدَهُ بَنَانُ السُّنَّةِ السَّنِيَّةِ. وَرَفْعُهُ إِلَى الْخَلِيلِ إِبْرَاهِيمَ أَمْسَكَ عَنْهُ الشَّارِعُ وَأَبَاهُ. وَعَدْنَانُ بِلَا رَيْبٍ عِنْدَ ذَوِي الْعُلُوْمِ النَّسَبِيَّةُ إِلَى الذَّبِيحِ إِسْمَاعِيلَ نِسْبَتُهُ وَمُنْتَمَاهُ. فَأَعْظِمْ بِهِ مِنْ عِقْدٍ تَأَلَّقَتْ كَوَاكِبُهُ الدُّرِّيَّةُ. وَكَيْفَ لَا وَالسَّيِّدُ الْأَكْرَمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسِطَتُهُ الْمُنْتَقاهُ.

Wa ba’du, fa aqûlu huwa sayyidunâ muhammadubnu ‘abdillâhib-ni ‘abdil muththalibi wasmuhu syaibatul-hamdi humidat khishâluhus-saniyyah, ibni hâsyimin wasmuhu ‘amrub-nu ‘abdi manâfin wasmuhul-mughîratul-ladzî yantamil-irtiqâ’u li ‘ulyâh, ibni qushayyin wasmuhu mujammi’un summiya biqushayyin litaqâshîhi fî bilâdi qudla’atal qashiyyah. ilâ an a’âdahullâhu ta’âlâ ilal-haramil- muhtarami fahama himâh, ibni kilâbin wasmuhu hakîmub-ni murratab-ni ka’bib-ni luayyib-ni ghalibib-ni fihrin wasmuhu quraisyun wa ilaihi tunsabul-buthûnul-qurasyiyyah. Wa mâ fauqahu kinâniyun kamâ janaha ilaihil katsîru wartadlâh, ibni mâlikib-nin-nadlrib-ni kinânatab-ni khuzaimatab-ni mudrikatab-ni ilyâsa wa huwa awwalu man ahdal-budna ilarrihâbil haramiyyah. wasumi’a fî shulbihin-nabiyyu shallallâhu alaihi wa sallama dzakarallâha ta’âlâ wa labbâh, ibni mudlarabni nizâribni ma’addib-ni ‘adnâna wa hâdzâ silkun nadhdhamat farâ‘idahu banânus-sunnatis-saniyyah. Wa raf’uhu ilal-khalîli ibrâhîma amsaka ‘anhusy-syâri’u wa abâh, wa ‘adnânu bila raibin ‘inda dzawil ‘ulûmin-nasabiyyah. Iladz-dzabîhi ismâîla nisbatuhu wa muntamâh, fa a’dhim bihi min ‘iqdin ta’allaqat kawâkibuhud-durriyyah, wa kaifa lâ wassayyidul-akramu shallallahu ‘alaihi wa sallama wâsithatuhul-muntaqâh.

Artinya: Setelah itu aku berkata: Dia adalah junjungan kita, Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdil Muththalib. Namanya (nama Abdul Muthalib) adalah Syaibatul Hamdi, dan perilaku- perilaku perilakunya yang luhur itu terpuji. la putra Hasyim, yang nama sebenarnya ‘Amr, putra Abdi Manaf, yang nama sebenarnya Mughirah, yang keluhuran itu dicitrakan kepadanya karena kemuliaan nasabnya. la putra Qushay, yang nama sebenarnya Mujammi’. Disebut Qushaiy karena jauhnya (ia pergi) ke negeri Qudha’ah yang jauh. Sampai Allah Ta’ala mengembalikannya ke tanah haram (suci) dan terhormat, lalu Dia memeliharanya dengan suatu pemeliharaan yang sesungguhnya. la putra Kilab, nama sebenarnya Hakim, putra Murrah, putra Ka’ab, putra Luayy, putra Fihr, yang nama sebenarnya Quraisy. Dan kepadanya dinasabkan semua suku Quraisy. Orang yang di atasnya adalah dari Kabilah Kinanah, sebagaimana pendapat banyak orang. la (Fihr) adalah putra Malik, putra Nadhr, putra Kinanah, putra Khuzaimah, putra Mudrikah, putra Ilyas. Dan Ilyas ini adalah orang pertama yang mengorbankan unta ke tanah haram (Baitul Haram). Dan di tulang punggungnya, terdengar Nabi menyebut dan memenuhi panggilan Allah Ta’ala. la (Ilyas) adalah putra Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Inilah kalung yang butiran-butiran mutiaranya terangkai oleh sunnah yang tinggi. Untuk menyebutkan orang-orang di atasnya (di atas Adnan) sampai kepada Al-Khalil, Nabi Ibrahim, Syari’ (yakni Nabi) menahan dan enggan menyebutnya. Dan tidak diragukan lagi, menurut orang-orang yang memiliki ilmu nasab, nasab Adnan sampai kepada Dzabih (orang yang akan disembelih), yakni Ismail. Alangkah agungnya nasab itu dari untaian permata yang bintangnya gemerlapan. Bagaimana tidak, sedangkan tuan yang paling mulia (Nabi Muhammad) adalah pusatnya yang terpilih.

نَسَبٌ تَحْسَبُ الْعُلَا بِحَلَاهُ قَلَّدَتْهَا نُجُومُهَا الْجَوْزَاءُ
Nasabun tahsibul-‘ulâ bihulâhu qalladathâ nujûmahâ al-jauzâ’
Artinya:
Itulah nasab yang diyakini ketinggiannya karena kemurniannya. Gugusan bintang Jauza’ telah menghiasinya dengan bintang-bintangnya.


حَبَّذَا عِقْدُ سُؤْدُدٍ وَفَخَارٍ أَنْتَ فِيهِ الْيَتِيمَةُ الْعَصْمَاءُ
Habbadzâ ‘iqdu su’ddin wa fakhârin, anta fîhil-yatîmatul-‘ashmâ’
Artinya:
Alangkah indahnya untaian kemuliaan dan kebanggaan, sedangkan engkau di dalamnya adalah permata tunggal yang terjaga kesuciannya.


وَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ نَسَبٍ طَهَّرَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةِ
Wa akrim bihi min nasabin thahharahullâhu ta‘âlâ min sifâhil-jâhiliyyah
Artinya:
Alangkah mulianya nasab itu, yang telah Allah Ta‘ala sucikan dari perzinaan masa jahiliyyah.


أَوْرَدَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِيُّ وَارِدَهُ فِي مَوْرِدِهِ الْهَنِيِّ وَرَوَاهُ
Auradaz-zainul-‘irâqiyyu wâridahu fî mauridihil-haniyyi wa rawâh
Artinya:
Hal ini dinukil dan diriwayatkan oleh Zain al-‘Iraqi dalam karya tulisnya yang indah.

Bagian 3

وَلَمَّا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى إِبْرَازَ حَقِيقَتِهِ الْمُحَمَّدِيَّةِ. وَإِظْهَارَهُ جِسْمًا وَرُوْحًا بِصُورَتِهِ وَمَعْنَاهُ. نَقَلَهُ إِلَى مَقَرِّهِ مِنْ صَدَفَةِ آمِنَةَ الزُّهْرِيَّةِ. وَخَصَّهَا الْقَرِيبُ الْمُجِيْبُ بِأَنْ تَكُوْنَ أُمَّا لِمُصْطَفَاهُ. وَنُوْدِيَ فِي السَّمَوَتِ وَالْأَرْضِ بِحَمْلِهَا لِأَنْوَارِهِ الذَّاتِيَّةِ. وَصَبَاكُلُّ صَبٍ لِهُبُوبِ نَسِيمٍ صَبَاهُ. وَكُسِيَتِ الْأَرْضُ بَعْدَ طُولِ جَدْبِهَا مِنَ النَّبَاتِ حُلَلاً سُنْدُسِيَّة. وَأَيْنَعَتِ التِّمَارُ وَأَدْنَى الشَّجَرُ لِلْجَانِي جَنَاهُ. وَنَطَقَتُ بِحَمْلِهِ كُلُّ دَابَّةٍ لِقُرَيْشٍ بِفِصَاحِ الْأَلْسُنِ الْعَرَبِيَّة. وَخَرَّتِ الْأَسِرَّةُ وَالْأَصْنَامُ عَلَى الْوُجُوهِ وَالْأَفْوَاهَ، وَتَبَاشَرَتْ وُحُوشُ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ وَدَوَايُّهَا الْبَحْرِيَّةُ. وَاحْتَسَتِ الْعَوَالِمُ مِنَ السُّرُورِ كَأْسَ حُمَيَّاهُ. وَبُشِّرَتِ الْجِنُّ بِإِظْلَالِ زَمَنِهِ وَانْتَهَكَتِ الْكَهَانَةُ وَرَهِبَتِ الرَّهْبَانِيَّةِ. وَلَجَ بِخَبَرِهِ كُلُّ حِبْرٍ خَبِيرٍ وَفِي حُلَا حُسْنِهِ تَاهِ. وَأُتِيَتْ أُمُّهُ فِي الْمَنَامِ فَقِيلَ لَهَا إِنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ الْعَالَمِينَ وَخَيْرِ الْبَرِيَّةِ. وَسَمِيْهِ إِذَا وَضَعْتِهِ مُحَمَّدًا لِأَنَّهُ سَتُحْمَدُ عُقْبَاهُ

Wa lammā aradallahu talà ibrāza haqiqatihil-muhammadiyyah. wa idhhäruhu jisman wa rühan bishūratihi wa ma’nâh, naqalahu ila maqarrihi min shadafati âminataz-zuhriyyah. wa khashshahal-qaribul-mujibu bi an takūna umman limushthafäh, wa nüdiya fis-samawati wal-ardli bihamliha li’anwärihidz-dzātiyyah, wa shabā kullu shabbin lihubübi nasimi shabah. wa kusiyatil-ardlu ba’da thůli jadbiha minan-nabāti hulalan sundusiyyah. wa aina’atits-tsimaru wa adnasy-syajaru lil-jäní janäh, wa nathaqat bihamlihi kullu dabbatin liquraisyin bifisähil- alsunil-‘arabiyyah, wa kharratil-asirratu wal-ashnāmu ‘alal-wujühi wal-afwäh, wa tabāsyarat wuhûsyul- masyäriqi wal-magharibi wa dawabbuhal-bahriyyah, wahtasatil-‘awalimu, minas-surüri ka’sa humayyah, wa busysyiratil-jinnu bi idhlali zamanihi wantahakatil-kahänatu wa rahibatir-ruhbäbiyyah. wa lahija bikhabarihi kullu hibrin khabirin wa fi hula husnihi täh, wa utiyat ummuhu fil-manāmi faqīla lahä innaki qad hamalti bisayyidil-‘älamīna wa khairil-bariyyah, wa sammihi idzā wadla’tihi muhammadan li annahu satuhmadu ‘uqbâh.

Artinya: Ketika Allah Ta’ala menghendaki untuk menampakkan hakikatnya yang terpuji, dan memunculkannya sebagai jasmani dan ruhani dalam bentuk dan pengertiannya, Dia memindahkannya ke tempat menetapnya di kandungan Aminah Az-Zuhriyyah, dan Dzat Yang Mahadekat dan Maha Memperkenankan, meng khususkannya (Aminah) menjadi ibu makhluk pilihan-Nya. Diserukan di langit dan di bumi bahwa ia (Aminah)mengandungnya. Dan berembuslah angin sepoi-sepoi basah di pagi hari. Setelah lama gersang, bumi dipakaikan sutra tebal dari tumbuh-tumbuhan. Buah-buah menjadi masak, dan pohon-pohon mendekati orang yang akan memetiknya. Setiap binatang suku Quraisy mengucapkan dengan bahasa Arab yang fasih bahwa beliau sedang dikandung. Singgasanasinggasana raja dan berhala menjadi tersungkur pada muka dan mulutnya. Binatang-binatang liar bumi Timur dan Barat serta binatang laut saling bertemu. Seluruh alam merasakan kesenangan. Jin memberitakan dekatnya masanya (masa kelahiran beliau), sedangkan juru tenung menjadi binasa dan para pendeta menjadi takut. Setiap orang pandai dan waspada, membicarakan beritanya dan himpunan kebaikannya yang membingungkan (alam). Ibunya di dalam tidur (mimpi) didatangi dan dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya kamu mengandung pemimpin seluruh alam dan sebaik-baik manusia. Apabila kamu melahirkannya, namailah ia Muhammad (artinya orang yang terpuji), karena ia akan dipuji.”

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيمٍ

‘aththiril-lâhumma qabrahul-karîma bi’arfin syadiyyin min shalâtin wa taslîm

Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Bagian 4

وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ شَهْرَانِ عَلَى مَشْهُورِ الْأَقْوَالِ الْمَرْوِيَّةِ. تُوُفِّيَ بِالْمَدِينَةِ الْمُنَوَّرَةِ أَبُوهُ عَبْدُ اللَّهُ. وَكَانَ قَدِ اجْتَازَ بِأَخْوَالِهِ بَنِي عَدِي مِنَ الطَّائِفَةِ النَّجَارِيَّة. وَمَكَثَ فِيهِمْ شَهْرًا سَقِيمًا يُعَانُونَ سُقْمَهُ وَشَكْوَاهِ. وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ عَلَى الرَّاجِ تِسْعَةُ أَشْهُرٍ قَمَرِيَّة. وَآنَ لِلزَّمَانِ أَنْ يَنْجَلِي عَنْهُ صَدَاهِ. حَضَرَ أُمَّهُ لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ آسِيَةً وَمَرْيَمُ فِي نِسْوَةٍ مِنَ الْحَظِيرَةِ الْقُدْسِيَّةِ. وَأَخَذَهَا الْمَخَاضُ فَوَلَدَتْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُورًا يَتَلَالَا سَنَاهِ

Wa lammà tamma min hamlihi syahrāni ‘ala masyhüril-aqwalil-marwiyyah, tuwuffiya bil-madinatil- munawwarati abûhu ‘abdullah, wa kāna qadij-täza bi’akhwālihi bani ‘adiyyin minath-tha’ifatin-najjariyyah. wa makatsa fihim syahran saqiman yu’ânūna suqmahu wa syakwah, walamma tamma min hamlihi ‘alar-rajihi tis’ati asyhurin qamariyyah, wa ana liz-zamāni an yanjila ‘anhu shadah, hadlara ummahu lailata maulidihi asiyatu wa maryamu fi niswatin minal-hadhiratil-qudsiyyah, wa akhadzahal-makhädlu fawaladathu shallallahu ‘alaihi wa sallama nûran yatala la u sanah.

Artinya: Ketika genap beliau dikandung dua bulan menurut pendapat yang diriwayatkan dan termasyhur, ayahnya, Abdullah, wafat di Madinah Al-Munawwarah. la ketika itu telah singgah pada paman-pamannya dari Bani ‘Adiy yang termasuk kelompok Najjar. la tinggal di tempat mereka selama satu bulan karena sakit parah. Ketika genap beliau dikandung sembilan bulan Qamariyah menurut pendapat yang kuat, datanglah masa hilangnya haus. Pada malam kelahirannya, Asiyah dan Maryam datang kepada ibunya bersama sekelompok perempuan dari Hadhiratul Qudsiyyah. Lalu Aminah merasakan sakitnya orang yang mau melahirkan, kemudian ia melahirkan beliau dengan cahayanya yang cemerlang.

وَمُحَيَّا كَالشَّمْسِ مِنْكَ مُضِيءُ أَسْفَرَتْ عَنْهُ لَيْلَةً غَرَّاءُ Wa muhayyan kasy-syamsi minka mudii’u asfarat ‘anhu lailatun gharra’u. Artinya: Wajahmu bagaikan matahari yang menyinari, yang karenanya malam menjadi terang benderang.

لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ الَّذِي كَانَ لِلدِّينِ سُرُورٌ بِيَوْMِهِ وَازْدِهَاءُ Lailatul-maulidil-ladzi kāna lid-di- ni surûrun biyaumihi wazdihā’u. Artinya: Malam kelahiran beliau membawa kegembiraan dan kemegahan bagi agama, tetapi dalam pandangan orang- orang kafir tidak disukai dan merupakan wabah atas mereka.

يَوْمَ نَالَتْ بِوَضْعِهِ ابْنَةُ وَهْبٍ مِنْ فَخَارٍ مَا لَمْ تَنَلُّهُ النِّسَاءُ Yauma nälat biwadl’ihib-natu wahbin min fakharin ma lam tanalhun-nisa’u. Artinya: Yaitu, saat putri Wahab memperoleh kemegahan dengan melahirkannya yang tidak diperoleh wanita-wanita lain.

وَأَتَتْ قَوْمَهَا بِأَفْضَلَ مِمَّا حَمَلَتْ قَبْلُ مَرْيَمُ الْعَذْرَاءُ Wa atat qaumahä bi afdlala mimmä hamalat qablu maryamul-‘adzrā’u. Artinya: Aminah membawa kepada kaumnya, orang yang lebih utama daripada yang dikandung sebelumnya oleh Maryam yang perawan.

مَوْلِدٌ كَانَ مِنْهُ فِي طَالِعِ الْكُفْرِ وَبَالٌ عَلَيْهِمْ وَوَبَاءُ Maulidun kāna minhu fi thäli’il-kuf- ri wa balun ‘alaihim wa wabā’u. Artinya: Kelahiran yang membawa kerusakan dan musibah pada munculnya kekufuran.

وَتَوالَتْ بُشْرَى الْهَوَاتِفِ أَنْ قَد وُلِدَ الْمُصْطَفَى وَحَقَّ الْهَنَاءُ Wa tawalat busyral-hawatifi an qad wulidal-mushthafä wa haqqal-hanā’u. Artinya: Terus-menerus kabar gembira memberitakan bahwa insan pilihan telah dilahirkan dan benarlah kegembiraan itu.

هَذَا، وَقَدِ اسْتَحْسَنَ الْقِيَامَ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ الشَّرِيفِ أَئِمَّةً ذَوُوُ رِوَايَةٍ وَرَوِيَّة. فَطُوبَى لِمَنْ كَانَ تَعْظِيمُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَايَةَ مَرَامِهِ وَمَرْمَاهُ Hadza, wa qadis-tahsanal-qiyama ‘inda dzikri maulidihisy-syarifi a’immatun dzawū riwayatin wa rawiyyah. fathūbă liman känna ta’dhīmuhu shallallahu ‘alaihi wa sallama ghāyata maråmihi wa marmah. Artinya: Demikianlah, para imam yang memiliki riwayat dan pemikiran, memandang baik untuk berdiri ketika menyebutkan kelahirannya yang mulia. Maka kebaikanlah yang didapatkan orang yang penghormatannya terhadap Nabi sampai ke puncak harapan dan tujuan.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيمٍ ‘aththiril-lâhumma qabrahul-karîma bi’arfin syadiyyin min shalâtin wa taslîm Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Bagian 5

وَبَرَزَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ رَافِعًا رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ الْعَلِيَّةِ. مُؤْمِيًا بِذَلِكَ الرَّفْعِ إِلَى سُوْدَدِهِ وَعُلَاهُ. وَمُشِيرًا إِلَى رِفْعَةِ قَدْرِهِ عَلَى سَائِرِ الْبَرِيَّةِ بِأَنَّهُ الْحَبِيبُ الَّذِي حَسُنَتْ طِبَاعُهُ وَسَجَايَاهُ. وَدَعَتْ أُمُّهُ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ يَطُوفُ بِهَاتِيْكَ الْبَنِيَّةِ. فَأَقْبَلَ مُسْرِعًا وَنَظَرَ إِلَيْهِ وَبَلَغَ مِنَ السُّرُورِ مُنَاهُ. وَأَدْخَلَهُ الْكَعْبَةَ الْغَرَّاءَ وَقَامَ يَدْعُوْ بِخُلُوْصِ النِّيَّةِ. وَيَشْكُرُ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ. وَوُلِدَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظِيفًا مَخْتُونًا مَقْطُوعَ الشَّرِّ بِيَدِ الْقُدْرَةِ الْإِهِيَّةِ. طَيِّبًا دَهِينًا مَكْحُوْلَةً بِكُحْلِ الْعِنَايَةِ عَيْنَاهُ. وَقِيلَ خَتَنَهُ جَدُّهُ بَعْدَ سَبْعِ لَيَالٍ سَوِيَّةٍ. وَأَوْلَمَ وَأَطْعَمَ وَسَمَاهُ مُحَمَّدًا وَأَكْرَمَ مَثْوَاهُ

Wa baraza shallallahu ‘alaihi wa sallama wädli’an yadaihi ‘alal-ardli räfi’an ra’sahu ilas-sama’il-‘aliyyah. müminan bidzālikar-raf’i ilā südadihi wa ‘ulah, wa musyiran ilä rif’ati qadrihi ‘ala sä’iril-bariyyah, bi annahul- habibul-ladzi hasunat thibä’uhu wa sajäyäh. wa da’at ummuhu ‘abdal-muthallibi wa huwa yathüfu bihätikal- baniyyah, fa aqbala musri’an wa nadhara ilaihi wa balagha minas-surûri munâh. wa adkhalahul-ka’batal- gharra’a wa qama yad’ü bikhulûshin-niyyah, wa yasykurulläha ta’ālā ‘ală mă manna bihi ‘alaihi wa a’thäh, wa wulida shallallahu ‘alaihi wa sallama nadhifan makhtūnan maqthû’as-surri biyadil-qudratil-ilahiyyah. Thayyiban dahinan makhülətan bikahlil-‘ināyati ‘ainah, wa qila khatanahu jadduhu ba’da sab’i layälin sawiyyah, wa aulama wa ath’ama wa sammāhu muhammadan wa akrama matswäh.

Artinya: Beliau lahir dengan meletakkan kedua tangannya di atas tanah dengan mengangkat kepalanya ke langit yang tinggi. Dengan mengangkatnya itu beliau mengisyaratkan kepemimpinannya (atas makhluk) dan ketinggian (akhlaq)-nya. Beliau juga mengisyaratkan ketinggian derajatnya atas seluruh manusia. Dan sesungguhnya beliau adalah orang yang dicintai dan baik naluri dan perangainya. Ibunya memanggil Abdul Muththalib yang ketika itu sedang thawaf pada bangunan itu (Ka’bah). Lalu ia datang segera dan memandangnya, dan ia memperoleh kegembiraan yang dicita-citakannya. Abdul Muththalib lalu memasukkannya ke Ka’bah yang cemerlang dan mulai berdoa dengan niat yang tulus (ikhlas). la bersyukur kepada Allah Ta’ala atas apa yang telah dianugerahkan dan diberikan kepadanya. Beliau dilahirkan dalam keadaan bersih, telah dikhitan, dan dipotong pusatnya dengan tangan (kekuasaan) Tuhannya. Harum, berminyak rambut, dan sepasang matanya telah bercelak dengan celak dari Tuhan. Dan ada pendapat yang mengatakan, kakeknya mengkhitankannya setelah tujuh malam. la selenggarakan walimah, memberi makan orang, dan memberi nama kepadanya Muhammad dan ia muliakan kedudukannya.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيمٍ

‘aththiril-lâhumma qabrahul-karîma bi’arfin syadiyyin min shalâtin wa taslîm

Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Bagian 6

وَظَهَرَ عِنْدَ وِلَادَتِهِ خَوَارِقُ وَغَرَائِبُ غَيْبِيَّةً. إِرْهَاجًا لِنُبُوَّتِهِ وَإِعْلَامًا بِأَنَّهُ مُخْتَارُ اللهِ تَعَالَى وَمُجْتَبَاهُ. فَزِيْدَتِ السَّمَاءُ حِفْظًا وَرُدَّ عَنْهَا الْمَرْدَةُ وَذَوُا النُّفُوسِ الشَّيْطَانِيَّةِ. وَرَجَمَتِ النُّجُومُ السَّيْرَاتُ كُلَّ رَجِيمِ فِي حَالِ مَرْقَاهُ. وَتَدَلَّتْ إِلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَنْجُمُ الزُّهْرِيَّةُ، وَاسْتَنَارَتْ بِنُوْرِهَا وَهَادُ الْحَرَمِ وَرُبَاهُ. وَخَرَجَ مَعَهُ نُورُ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ الْقَيْصَرِيَّةُ. فَرَآهَا مَنْ بِطَاحٍ مَكَّةَ دَارُهُ وَمَغْنَاهُ. وَانْصَدَعَ الْإِبْوَانُ بِالْمَدَائِنِ الْكِسْرَوِيَّةِ الَّذِي رَفَعَ أَنُوْ شَرْوَانَ سَمْكَهُ وَسَوَّاهُ، وَسَقَطَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ مِنْ شُرَفَاتِهِ الْعُلْوِيَّةِ. وَكُسِرَ مُلْكُ كسْرَى لِهَوْلِ مَا أَصَابَهُ وَعَرَاهُ. وَحَمَدَتِ النِّيرَانُ الْمَعْبُودَةُ بِالْمَمَالِكِ الْفَارِسِيَّة. لِطُلُوعِ بَدْرِهِ الْمُنِيرِ وَإِشْرَاقِ مُحَيَّاهُ، وَغَاضَتْ بُخَيْرَةُ سَاوَةَ وَكَانَتْ بَيْنَ هَمَذَانَ وَقُمْ مِنَ الْبِلَادِ الْعَجَمِيَّةِ وَجَفَّتْ إِذْ كَفَّ وَاكِفُ مَوْجِهَا التَّجَاجِ يَنَا بِيعُ هَاتِيكَ الْمِيَاهِ. وَفَاضَ وَادِى سَمَاوَةً وَهِيَ مَفَازَةً فِي فَلَاةٍ وَبَرِيَّةٌ. لَمْ يَكُنْ بِهَا مِنْ قَبْلُ يَنْقَعُ لِلظَّمْانِ اللَّهَاةَ. وَكَانَ مَوْلِدُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَوْضِعِ الْمَعْرُوفِ بِالْعِرَاصِ الْمَكِيَّةِ. وَالْبَلَدِ الَّذِي لَا يُعْضَدُ شَجَرُهُ وَلَا يُخْتَلَى خَلَاهُ. وَاخْتُلِفَ فِي عَامٍ وِلَادَتِهِ وَفِي شَهْرِهَا وَفِي يَوْمِهَا عَلَى أَقْوَالٍ لِلْعُلَمَاءِ مَرْوِيَّةٍ. وَالرَّاجِحَ أَنَّهَا قُبَيْلَ فَجْرٍ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ ثَانِي عَشَرِ شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ مِنْ عَامِ الْفِيلِ الَّذِي صَدَّهُ اللَّهُ عَنِ الْحَرَمِ وَحَمَاهُ

Wa dhahara ‘inda wiladatihi khawäriqu wa ghara ibu ghaibiyyah, Irhäshan linubuwwati wai’laman bi annahu mukhtärullahi ta’älä wa mujtabah, fazidatis-sama u hifdhan wa rudda ‘anhal-mardatu wa dzawun-nufūsisy- syaithäniyyah. wa rajamatin-nujūmun-nayyirātu kulla rajimin fi håli marqäh, wa tadallat ilaihi shallallahu ‘alaihi wa sallamal-anjumuz-zuhriyyah. wastanärat binûrihä wa hädul-harami wa rubah. wa kharaja ma’ahu núrun adlä at lahu qushürusy-syämil-qaishariyyah. fara ähä man bibithahi makkata däruhu wa maghnäh.. wanshada’al-iwānu bil-mada inil-kisrawiyyah. alladzī rafa’a anûsyarwäna samkahu wa sawwäh. wa saqatha arba’a ‘asyrata min syurafatihil-‘ulwiyyah. wa kusira mulku kisrä lihauli må ashâbahu wa ‘arah, wa khamadatin- niranul-ma’bûdatu bil-mamälikil-färisiyyah, lithulü’i badrihil-muniri wa isyraqi mahayyäh. wa ghaslat buhairatu sawata wa kanat baina hamadzāna wa qummin minal-bilädil-‘ajamiyyah, wa jaffat idz kaffa wakifu maujihats- tsajjāji yanābī’u hätikal-miyah, wa fädlā wādi samawata hiya mafāzatun fi falātin wa bariyyah. lam yakun biha min qaablu yanqa’u lidhdham anil-lahäh. wa kana mauliduhu shallallahu ‘alaihi wa sallama bil-maudli’il-ma’rüfi bil-‘iräshil-makiyyah, wal-baladil-ladzi la yu’dladu syajaruhu wa là yukhla khalah, wakhtulifa fi ‘ami wiladatihi wa fi syahrihä wa fi yaumiha ‘ala aqwälinil-‘ulama’i marwiyyah. war-räjihu annahá qubaila fajrin yaumal-itsnaini tsäni ‘asyara rabi’il-awwali min ‘amil-filil-ladzī shaddahullahu ‘anil-harami wa hamah.

Artinya: Ketika beliau lahir, tampaklah beberapa hal yang luar biasa dan hal-hal ghaib yang asing sebagai irhash (hal- hal luar biasa yang Allah berikan kepada seorang nabi dan rasul sebelum diangkat) bagi kenabiannya dan pemberitahuan bahwa beliau adalah orang yang dipilih oleh Allah Ta’ala. Langit ditambah penjagaannya dan ditolak darinya (dari langit) para jin dan setan. Bintang-bintang yang bersinar itu merajam setiap setan yang naik. Bintang-bintang yang cemerlang menunduk kepada beliau. Lembah dan bukit di Makkah tersinari dengan cahayanya. Bersama beliau keluarlah cahaya yang menerangi istana-istana kaisar di Syam (Syiria). Maka orang yang rumah dan tempat tinggalnya di Makkah melihatnya. Dan menjadi retak istana kaisar di Madain yang bangunannya ditinggikan dan dibangun oleh Anusyarwan. Empat belas menara yang tinggi roboh. Kerajaan Kisra binasa karena terkejut dengan apa yang menimpanya dan sampai kepadanya. Padam pula api yang disembah di Kerajaan Persi karena munculnya cahaya yang menerangi dan sinar wajahnya. Dan surutlah Danauah yang terletak di antara Hamadzan dan Qum di negeri ‘Ajam (negeri non-Arab), keringlah sumber- sumber air itu pada waktu tercegahnya tetesan yang banyak mengalir. Dan meluaplah Lembah Samawah, dan itu menjadi keberuntungan terhadap tanah dan padang pasir. Sebelumnya di tempat itu tidak ada air untuk orang yang haus tenggorokannya. Kelahiran beliau adalah di tempat yang dikenal dengan Irash di Makkah. Dan negeri yang pohonnya tidak ditebang dan pohon-pohon perdunya tidak dipotong. Ada perbedaan pendapat mengenai tahun kelahirannya, bulan dan harinya. Tetapi pendapat yang kuat menyebutkan, kelahiran itu menjelang fajar hari Senin tanggal dua belas bulan Rabi’ul Awwal tahun Gajah, kala itu Allah mencegah gajah untuk sampai ke Ka’bah dan Dia menjaganya.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيمٍ

‘aththiril-lâhumma qabrahul-karîma bi’arfin syadiyyin min shalâtin wa taslîm

Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Bacaan Mahallul Qiyâm


يَا نَبِي سَلَامٌ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ سَلَامٌ عَلَيْكَ
Yâ nabî salâmun ‘alaika, yâ rasûl salâmun ‘alaik
Wahai Nabi, semoga keselamatan tetap tercurah untukmu. Wahai Rasul, semoga keselamatan tetap untukmu.


يَا حَبِيبٍ سَلَامٌ عَلَيْكَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْكَ
Yâ habîb salâmun ‘alaika, shalawâtullâhi ‘alaika
Wahai kekasih, semoga keselamatan tercurah untukmu. Shalawat Allah semoga senantiasa tercurah kepadamu.


أَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُورُ
Asyraqal-badru ‘alainâ fakhtafat minhul-budûru
Bulan purnama telah terbit menyinari kami, maka purnama-purnama lainnya pun meredup.


مِثْلَ حُسْنِكَ مَا رَأَيْنَا قَطُّ يَا وَجْهَ السُّرُورِ
Mitsla husnika mâ ra’ainâ qaththu yâ wajhas-surûri
Belum pernah kami melihat keelokan sepertimu, wahai wajah penuh kebahagiaan.


أَنْتَ شَمْسٌ أَنْتَ بَدْرٌ أَنْتَ نُورٌ فَوْقَ نُورٍ
Anta syamsun, anta badrun, anta nûrun fauqa nûrin
Engkau bagai matahari, bagai bulan purnama, cahaya di atas cahaya.


أَنْتَ إِكْسِيرٌ وَغَالٍ أَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُورِ
Anta iksîrun wa ghâlin, anta mishbâhush-shudûr
Engkau laksana emas murni yang mahal nilainya, engkaulah pelita hati.


يَا حَبِيبِي يَا مُحَمَّدُ يَا عَرُوسَ الْخَافِقَيْنِ
Yâ habîbî yâ Muhammad, yâ ‘arûsal-khâfiqain
Wahai kekasihku Muhammad, wahai pengantin timur dan barat.


يَا مُؤَيَّدُ يَا مُمَجَّدُ يَا إِمَامَ الْقِبْلَتَيْنِ
Yâ mu’ayyad, yâ mumajjadu, yâ imâmal-qiblatain
Wahai Nabi yang dikuatkan dan dimuliakan, wahai imam dua kiblat.


مَنْ رَأَى وَجْهَكَ يَسْعَدُ يَا كَرِيمَ الْوَالِدَيْنِ
Man ra’â wajhaka yas‘ad, yâ karîmal-wâlidain
Siapa pun yang melihat wajahmu akan berbahagia, wahai yang mulia kedua orang tuanya.


حَوْضُكَ الصَّافِي الْمُبَرَّدُ وِرْدُنَا يَوْمَ النُّشُورِ
Haudhukash-shâfil-mubarrad, wirdunâ yauman-nusyûr
Telagamu jernih dan sejuk, yang kelak kami datangi pada hari kebangkitan.


مَا رَأَيْنَا الْعِيسَ حَنَّتْ بِالسُّرَى إِلَّا إِلَيْكَ
Mâ ra’ainal-‘îsa hannat bis-surâ illâ ilaika
Kami tak pernah melihat unta berjalan malam hari dengan rindu, kecuali menuju kepadamu.


وَالْغَمَامَةُ قَدْ أَظَلَّتْ وَالْمَلَا صَلُّوا عَلَيْكَ
Wal-ghamâmatu qad adhallat, wal-malâ shallû ‘alaika
Awan menaungimu, dan seluruh makhluk bershalawat kepadamu.


وَأَتَاكَ الْعُودُ يَبْكِي وَتَذَلَّلَ بَيْنَ يَدَيْكَ
Wa atâkal-‘ûdu yabkî wa tadzallala baina yadaika
Pepohonan datang kepadamu sambil menangis dan merendah di hadapanmu.


وَاسْتَجَارَتْ يَا حَبِيبِي عِنْدَكَ الظَّبْيُ النُّفُورُ
Wastajârat yâ habîbî ‘indakad-dhabiyun-nufûr
Kijang yang gesit pun memohon perlindungan kepadamu, wahai kekasih.


عِنْدَمَا شَدُّوا الْمَحَامِلَ وَتَنَادَوْا لِلرَّحِيلِ
‘Indamâ syaddul-mahâmila wa tanâdau lir-rahîl
Ketika rombongan telah bersiap dan menyerukan keberangkatan.


جِئْتُهُمْ وَالدَّمْعُ سَائِلٌ قُلْتُ قِفْ لِي يَا دَلِيلُ
Ji’tuhum wad-dam‘u sâ’il, qultu qif lî yâ dalîl
Aku mendatangi mereka dengan air mata mengalir, seraya berkata: “Tunggulah aku.”


وَتَحَمَّلْ لِي رَسَائِلُ أَيُّهَا الشَّوْقُ الْجَزِيلُ
Wa tahammal lî rasâ’il ayyuhasy-syauqul-jazîl
Sampaikanlah surat-surat kerinduan yang mendalam.


نَحْوَهَا تِلْكَ الْمَنَازِلُ بِالْعَشِيِّ وَالْبُكُورِ
Nahwahâ tilkal-manâzil bil-‘asyiyyi wal-bukûr
Menuju tempat itu pada petang dan pagi hari.


كُلُّ مَنْ فِي الْكَوْنِ هَامُوا فِيكَ يَا بَاهِي الْجَبِينِ
Kullu man fil-kauni hâmû fika yâ bâhil-jabîn
Seluruh makhluk di alam raya terpikat kepadamu, wahai yang bercahaya wajahnya.


وَلَهُمْ فِيكَ غَرَامٌ وَاشْتِيَاقٌ وَحَنِينٌ
Wa lahum fika gharâmun wasytiyâqun wa hanîn
Mereka diliputi cinta, rindu, dan kerinduan yang mendalam kepadamu.


فِي مَعَانِيكَ الْأَنَامُ قَدْ تَبَدَّتْ حَائِرِينَ
Fî ma‘ânîkal-anâmu qad tabaddat hâ’irîn
Para makhluk tak mampu menyifati maknamu dengan sempurna, mereka pun tertegun.


أَنْتَ لِلرُّسُلِ خِتَامٌ أَنْتَ لِلْمَوْلَى شَكُورٌ
Anta lir-rusli khitâm, anta lil-mawlâ syakûr
Engkau penutup para rasul, hamba yang paling bersyukur kepada Allah.


عَبْدُكَ الْمِسْكِينُ يَرْجُو فَضْلَكَ الْجَمَّ الْغَفِيرَ
‘Abdukal-miskînu yarjû fadhlakal-jammal-ghafîr
Hambamu yang lemah berharap limpahan karunia dan ampunanmu.


فِيكَ قَدْ أَحْسَنْتُ ظَنِّي يَا بَشِيرُ يَا نَذِيرُ
Fîka qad ahsantu zannî yâ basyîru yâ nadzîr
Kepadamulah aku berbaik sangka, wahai pembawa kabar gembira dan peringatan.


فَأَغِثْنِي وَأَجِرْنِي يَا مُجِيرُ مِنَ السَّعِيرِ
Fa aghitsnî wa ajirnî yâ mujîra minas-sa‘îr
Tolonglah dan lindungilah aku dari siksa neraka.


يَا غِيَاثِي يَا مَلَاذِي فِي مُهِمَّاتِ الْأُمُورِ
Yâ ghiyâtsî yâ malâdzî fî muhim-mâtil-umûr
Wahai penolongku dan tempat berlindungku dalam kesulitan.


سَعْدَ عَبْدٌ قَدْ تَمَلَّى وَانْجَلَى عَنْهُ الْحَزِينُ
Sa‘ida ‘abdun qad tamallâ wanjalâ ‘anhul-hazîn
Berbahagialah hamba yang hatinya penuh dan hilang kesedihannya.


فِيكَ يَا بَدْرٌ تَجَلَّى فَلَكَ الْوَصْفُ الْحَسِينُ
Fîka yâ badrun tajallâ falakal-washful-hasîn
Wahai bulan purnama, padamu tampak sifat-sifat yang indah.


لَيْسَ أَزْكَى مِنْكَ أَصْلًا قَطُّ يَا جَدَّ الْحُسَيْنِ
Laisa azkâ minka ash-lan qaththu yâ jaddal-husain
Tiada yang lebih suci asal-usulnya darimu, wahai kakek Hasan dan Husain.


فَعَلَيْكَ اللَّهُ صَلَّى دَائِمًا طُولَ الدُّهُورِ
Fa ‘alaikallâhu shallâ dâ’iman thûlad-duhûr
Shalawat Allah tercurah kepadamu sepanjang masa.


يَا وَلِيَّ الْحَسَنَاتِ يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ
Yâ waliyyal-hasanât yâ rafî‘ad-darajât
Wahai Pemilik segala kebaikan dan derajat yang tinggi.


كَفِّرْ عَنِّي الذُّنُوبَ وَاغْفِرْ عَنِّي سَيِّئَاتِي
Kaffir ‘anniyadz-dzunûba waghfir ‘annî sayyi’âtî
Hapuskan dosa-dosaku dan ampunilah kesalahanku.


أَنْتَ غَفَّارُ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبِ الْمُوبِقَاتِ
Anta ghaffârul-khathâyâ wadz-dzunûbil-mûbiqât
Engkau Maha Pengampun kesalahan dan dosa-dosa yang membinasakan.


أَنْتَ سَتَّارُ الْمَسَاوِي وَمُقِيلُ الْعَثَرَاتِ
Anta sattârul-masâwî wa muqîlul-‘atsarât
Engkau penutup aib dan penghapus kesalahan.


عَالِمُ السِّرِّ وَأَخْفَى مُسْتَجِيبُ الدَّعَوَاتِ
‘Âlimus-sirri wa akhfâ mustajîbud-da‘awât
Engkau Maha Mengetahui yang tersembunyi dan Maha Mengabulkan doa.


رَبِّ فَارْحَمْنَا جَمِيعًا وَامْحُ عَنَّا السَّيِّئَاتِ
Rabbi farhamnâ jamî‘an wamhu ‘annas-sayyi’ât
Wahai Tuhan kami, rahmatilah kami semua dan hapuslah keburukan kami.


وَصَلَاةُ اللَّهِ تَغْشَى عَدَّ تَحْرِيرِ السُّطُورِ
Wa shalâtullâhi taghsyâ ‘adda tahrîris-suthûr
Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah selama catatan amal masih terbuka.


أَحْمَدَ الْهَادِي مُحَمَّدٌ صَاحِبَ الْوَجْهِ الْمُنِيرِ
Ahmadal-hâdî Muhammad shâhibal-wajhil-munîr
Ahmad sang pemberi petunjuk, Nabi Muhammad, pemilik wajah yang bercahaya.


عَطِّرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلَاةٍ وَتَسْلِيمٍ
‘Aththirillâhumma qabrahal-karîma bi ‘arfin syadziyyin min shalâtin wa taslîm
Ya Allah, harumkanlah makam beliau yang mulia dengan semerbak shalawat dan salam.

Bagian 7

وَأَرْضَعَتْهُ أُمُّهُ اللهُ أَيَّامًا ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ ثُوَيْبَةُ الْأَسْلَمِيَّةُ الَّتِي أَعْتَقَهَا أَبُو لَهْبٍ حِينَ وَافَتْهُ عِنْدَ مِيلادِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِبُشْرَاهُ. فَأَرْضَعَتْهُ مَعَ ابْنِهَا مَسْرُوحٍ وَأَبِي سَلَمَةَ وَهِيَ بِهِ حَفِيَّةً. وَأَرْضَعَتْ قَبْلَهُ حَمْزَةَ الَّذِي حُمِدَ فِي نُصْرَةِ الدِّينِ سُرَاهُ. وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْعَثُ إِلَيْهَا مِنَ الْمَدِينَةِ بِصِلَةٍ وَكِسْوَةٍ هِيَ بِهَا حَرِيَّةً إِلَى أَنْ أَوْرَدَ هَيْكَلَهَا رَائِدُ الْمَنُونِ الشَّرِيحَ وَوَارَاهُ. قِيلَ عَلَى دِينِ قَوْمِهَا الْفِئَةِ الْجَاهِلِيَّةِ. وَقِيلَ أَسْلَمَتْ أَثْبَتَ الْخِلَافَ ابْنُ مَنْدَهَ وَحَكَاهُ. ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ الْفَتَاةُ حَلِيمَةُ السَّعْدِيَّةُ. وَكَانَ قَدْ رَدَّ كُلُّ الْقَوْمِ ثَدْيَهَا لِفَقْرِهَا وَأَبَاهُ. فَأَخْصَبَ عَيْتُهَا بَعْدَ الْمَحْلِ قَبْلَ الْعَشِيَّة. وَدَرَّ ثَدْيَاهَا بِدُرٍ دَرٍ أَلْبَنَهُ الْيَمِينُ مِنْهُمَا وَأَلْبَنَ الْآخَرُ أَخَاهُ. وَأَصْبَحَتْ بَعْدَ الْهُزَالِ وَالْفَقْرِ غَنِيَّةً. وَسَمِنَتِ الشَّارِفُ لَدَيْهَا وَالشَّيَاهُ، وَالْجَابَ عَنْ جَانِبِهَا كُلُّ مُلِمَّةٍ وَرَزِيَّةٍ. وَطَرَّزَ السَّعْدُ بُرْدَ عَيْشِهَا الْهَنِي وَوَشَاهُ

Wa ardla’athu ummuhu shallallahu ‘alaihi wa sallama ayyaman tsumma ardla’athu tsuwaibatul-aslamiyyah. allati a’taqaha abū lahbin hīna wäfathu ‘inda milädihi ‘alaihish-shalātu was-salāmu bibusyräh. fa ardia’athu ma’ab- niha masrühin wa abi salamata wa hiya bihi hfiyyah. wa ardla’at qablahu hamzatal-ladzi humida fi nushratid- dini surah. wa käna shallallahu ‘alaihi wa sallama yab’atsu ilaihä minal-madinati bishilatin wa kiswatin hiya biha hariyyah. ila an aurada haikalahä rä’idul-manûnidi-dlarihi wa wäräh, qila ‘ala dini qaumihal-fi’atil-jähiliyyah, wa qila aslamat atsbatal-khilafab-nu mundaha wa hakäh, tsumma ardla’athul-fatatu halimatus-sa’diyyah, wa kana qad radda kullul-qaumi tsadyahä lifaqriha wa abah. fa akhshaba ‘aisyuha ba’dal-mahli qablal-‘asyiyyah. wa darra tsadyähä bidurrin darrin albanahul-yaminu minhuma wa albanal-akharu akháhu. Wa ashbahät ba’dal- huzāli wal-faqri ghaniyyah, wasaminatisy-syarifu ladaiha wasy-syiyäh. wa anjäba ‘an jänibihä kullu mulimmatin wa raziyyah, wa tharrazas-sa’du burda ‘aisyihal-haniyyi wa wasysyäh.

Artinya: Ibunya menyusuinya beberapa hari, kemudian beliau disusui oleh Tsuwaibah Al-Aslamiyah. la perempuan yang telah dimerdekakan oleh Abu Lahab ketika la datang kepadanya memberitahukan kabar gembira kelahiran beliau. Tsuwaibah menyusui beliau bersama dengan anak laki-lakinya, Masruh dan Abu Salamah, dan ia memuliakan dan sayang kepada beliau. Sebelumnya ia menyusui Hamzah, yang amalnya terpuji dalam menolong agama Islam. Beliau mengirim kepadanya (kepada Tsuwaibah, yakni setelah beliau dewasa) belanja dan pakaian dari Madinah yang layak untuknya, sampai kematian datang kepadanya dan kubur menutupinya. Ada pendapat yang mengatakan, ia tetap mengikuti agama kaumnya, orang-orang Jahiliyyah. Tapi ada pula yang mengatakan, ia masuk Islam. Ibnu Mundah menyebutkan adanya perbedaan pendapat itu. Kemudian beliau disusui oleh Halimah As-Sa’diyah. Dulunya setiap kaum menolak dan enggan menyusukan bayinya kepadanya karena miskinnya. Lalu kehidupannya menjadi lebih baik setelah sempit malam sebelumnya (artinya, dalam waktu sekejap setelah menyusui beliau, keadaannya sangat berubah). Susunya penuh dengan air susu. Bagian kanan payudaranya untuk menyusui Nabi Muhammad, dan susu yang lain untuk menyusui saudaranya (saudara sepersusuan). Maka Halimah menjadi kaya setelah sebelumnya kurus dan miskin. Unta dan kambingnya yang kurus menjadi gemuk. Dan hilanglah semua bencana dan musibah darinya. Kebahagiaan menyulam kerudung kehidupannya.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيم

‘aththiril-lahumma qabrahul-karîma biarfin syadiyyin min shalâtin wa taslim

Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Bagian 8

وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشِبُّ فِي الْيَوْمِ شَبَابَ الصَّبِيِّ فِي الشَّهْرِ بِعِنَايَةٍ رَبَّانِيَّة. فَقَامَ عَلَى قَدَمَيْهِ فِي ثَلَاثٍ وَمَشَى فِي خَمْسٍ وَقَوِيَتْ فِي تِسْعٍ مِنَ الشُّهُورِ بِفَصِيحِ النُّطْقِ قَوَاهُ. وَشَقَّ الْمَلَكَانِ صَدْرَهُ الشَّرِيفَ لَدَيْهَا وَأَخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَةً دَمَوِيَّةً. وَأَيْنَعَتِ التِّمَارُ وَأَدْنَى الشَّجَرُ لِلْجَانِي جَنَاهُ. وَمَلَاهُ حِكْمَةً وَمَعَانِي إِيْمَانِيَّةً. ثُمَّ خَاطَاهُ وَبِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ خَتَمَاهِ. وَوَزَنَاهُ فَرَجَ بِأَلْفٍ مِنْ أُمَّتِهِ الْخَيْرِيَّةِ. وَنَشَأَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَكْمَلِ الْأَوْصَافِ مِنْ حَالِ صِبَاهِ. ثُمَّ رَدَّتْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أُمِّهِ وَهِيَ بِهِ غَيْرُ سَخِيَّةٍ. حَذَرًا مِنْ أَنْ يُصَابَ بِمُصَابِ حَادِثٍ تَخْشَاهُ. وَوَفَدَتْ عَلَيْهِ حَلِيمَةُ فِي أَيَّامٍ خَدِيجَةَ السَّيِّدَةِ الْوَضِيَّةِ. فَحَبَاهُ مِنْ حِبَائِهِ الْوَافِرِ بِحِبَاهِ. وَقَدِمَتْ عَلَيْهِ يَوْمَ حُنَيْنٍ فَقَامَ إِلَيْهَا وَأَخَذَتْهُ الْأَرْيَحِيَّةُ. وَبَسَطَ لَهَا مِنْ رِدَائِهِ الشَّرِيفِ بِسَاطَ بِرِّهِ وَنَدَاهُ. وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا أَسْلَمَتْ مَعَ زَوْجِهَا وَالْبَنِينَ وَالذُّرِّيَّةِ. وَقَدْ عَدَّهُمْ فِي الصَّحَابَةِ جَمْعُ مِنْ ثِقَاتِ الرُّوَاةِ

Wa kåna shallallahu ‘alaihi wasallama yasyibbu fil-yaumi syababash-shabiyyi fisy-syahri bi inayatin rabbaniyyah, faqama ‘ala qadaimihi fi tsalātsin wa masyä fi khamsin wa qawiyat fi tis’in minasy-syuhüri bifashihin-nuthqi qawah. wa syaqqal-malakäni shadrahusy-syarifa ladaihä wa akhrajā minhu ‘alagatan damawiyyah. wa azälä minhu hadhdhasy-syaithäni wa bits-tsalji ghasalah. wa malähu hikmatan wa ma’aniya îmâniyyah. tsumma khâthâhu wa bikhatamin-nubuwwati khatamâh. wa wazanahu farajaha bi alfin min ummatihil-khairiyyah, wa nasya’a shallallahu ‘alaihi wa sallama ‘ala akmalil-aushäfi min häli shibäh, tsumma raddathu shallallahu ‘alaihi wa sallama ila ummihi wa hiya bihi ghairu sakhiyyah, hadzaran min an yushāba bimushâbin häditsin takhsyäh. wa wafadat ‘alaihi halimatu fi ayyāmi khadijatas-sayyidatil-wadliyyah, fahabahu min habä’ihil-wafiri bihibah, wa qadimat ‘alaihi yauma hunainin faqama ilaiha wa akhadathul-aryahiyyah, wa basatha laha min rida’ihisy-syarifi bisatha birrihi wa nadah, wash-shahihu annahā aslamat ma’a zaujiha wal- banina wadz-dzurriyah. wa qad ‘adda hum fish-shahabati jam’un min tsiqâtir-ruwah.

Artinya: Beliau tumbuh dalam sehari seperti pertumbuhan anak kecil dalam sebulan dengan perhatian Tuhan. Beliau telah berdiri di atas kedua telapak kakinya pada usia tiga bulan, berjalan pada usia lima bulan, dan kekuatannya telah kuat pada usia sembilan bulan, dan fasih ucapannya. Lalu malaikat membelah dadanya yang mulia ketika beliau tinggal dengan Halimah. Kedua malaikat itu mengeluarkan gumpalan darah dari dada itu. Keduanya menghilangkan bagian setan (bagian yang dapat dimasuki setan) dan keduanya mencucinya dengan salju, lalu memenuhinya dengan hikmah dan makna-makna keimanan. Kemudian keduanya menjahitnya kembali dan mengecapnya dengan cap kenabian. Setelah itu mereka menimbangnya. Ternyata beliau mengungguli seribu orang dari umatnya, umat pilihan. Beliau tumbuh dengan sifat-sifat yang paling sempurna sejak kanak-kanaknya. Kemudian Halimah mengembalikannya kepada ibunya meskipun merasa berat dengan pengembalian itu. Itu ia lakukan karena takut beliau mengalami malapetaka yang dikhawatirkannya. Halimah datang kepada beliau pada hari-hari setelah beliau menikah dengan Khadijah, seorang nyonya yang baik (budi dan rupanya). Lalu ia menerima pemberian yang banyak dari beliau. Halimah juga datang kepada beliau pada Perang Hunain, lalu beliau bangun menemuinya, dan ia pun memperoleh pemberian yang banyak. Beliau bentangkan kebajikan dan kedermawanan untuknya dari selendangnya yang mulia. Menurut pendapat yang shahih, Halimah telah masuk Islam bersama suaminya dan anak-cucunya. Dan sekelompok perawi terpercaya memasukkan keduanya ke dalam golongan sahabat.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيم

‘aththiril-lahumma qabrahul-karîma biarfin syadiyyin min shalâtin wa taslim

Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Bagian 9

وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَ سِنِيْنَ خَرَجَتْ بِهِ أُمُّهُ إِلَى الْمَدِينَةِ النَّبَوِيَّةِ. ثُمَّ عَادَتْ فَوَافَتْهَا بِالْأَبْوَاءِ أَوْ بِشِعْبِ الْحَجُوْنِ الْوَفَاةِ، وَحَمَلَتْهُ حَاضِنَتُهُ أُمُّ أَيْمَنَ الْحَبَشِيَّةُ الَّتِي زَوْجَهَا بَعْدُ مِنْ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ مَوْلَاهُ. وَأَدْخَلَتْهُ عَلَى جَدِهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَرَقَّ لَهُ وَأَعْلَى رُقِيَّهُ. وَقَالَ: إِنَّ لا بْنِي هَذَا لَشَأْنَا عَظِيمًا فَبِعْ بَعْ لِمَنْ وَقَرَهُ وَوَالَاهُ، وَلَمَّا تَشْكُ فِي صِبَاهُ جُوْعًا وَلَا عَطَشًا قَطُّ نَفْسُهُ الْأَبِيَّةُ. وَكَثِيرًا مَا غَدًا فَاغْتَذَى بِمَاءِ زَمْزَمَ فَأَشْبَعَهُ وَأَرْوَاهُ. وَلَمَّا أُنِيخَتْ بِفِنَاءِ جَدِهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ مَطَايَا الْمَنِيَّةِ. كَفَلَهُ عَنْهُ أَبُوْ طَالِبٍ شَقِيقُ أَبِيْهِ عَبْدِ اللَّهُ. فَقَامَ بِكَفَالَتِهِ بِعَزْمٍ قَوِي وَهِمَّةٍ وَحَمِيَّةٍ. وَقَدَّمَهُ عَلَى النَّفْسِ وَالْبَنِينَ وَرَبَّاهُ، وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِثْنَى عَشَرَ سَنَةً رَحَلَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَهُ إِلَى الْبِلادِ الشَّامِيَّةِ. وَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ بَحِيرًا بِمَا حَازَهُ مِنْ وَصْفِ النُّبُوَّةِ وَحَوَاهُ. وَقَالَ: إِنِّي أَرَاهُ سَيِّدَ الْعَالِمِينَ وَرَسُولَ اللَّهِ وَنَبِيَّهُ. قَدْ سَجَدَ لَهُ الشَّجَرُ وَالْحَجَرُ وَلَا يَسْجُدَانِ إِلَّا لِنَبِيَ أَوَّاهُ. وَإِنَّا لَنَجِدُ نَعْتَهُ في الْكُتُبِ الْقَدِيمَةِ السَّمَاوِيَّةِ. وَبَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ قَدْ عَمَّهُ النُّوْرُ وَعَلَاهُ. وَأَمَرَ عَمَّهُ بِرَدِّهِ إِلَى مَكَّةَ تَخَوُّفًا عَلَيْهِ مِنْ أَهْلِ دِيْنِ الْيَهُودِيَّةِ. فَرَجَعَ بِهِ وَلَمْ يُجَاوِزُ مِنَ الشَّامِ الْمُقَدَّسِ بُصْرَاهُ

Wa lamma balagha shallallahu ‘alaihi wa sallama arba’a sinina kharajat bihi ummuhu ilal-madinatin- nabawiyyah, tsumma ‘ädat fawäfathā bil-abwä’i au bisyi bil-hujübil-wafäh. wa hamalathu hädlinatuhu ummu aimanal-habasyiyyatul-lati zawwajahä ba’du min zaidib-ni haritsata maulah, wa adkhalathu ‘ala jaddihi ‘abdil- muththalibi fadlammahu ilaihi wa raqqa lahu wa alâ ruqiyyah. wa qala: inna libnī hādză lasyā’nan ‘adhiman fabakhin bakhin liman waqqara wa walah. wa lam tasyku fi shibahu jü’an wa la ‘athasyan qaththu nafsuhul- abiyyah, wa katsiran må ghadä faghtadzá bimā’i zamzama fa asyba’ahu wa arwah, wa lammä unikhat bifinā’i jaddihi ‘abdil-muththalibi mathayal-maniyyah. kafalahu ‘ammuhu abü thälibin syaqiqu abīhi ‘abdillah, faqama bikafālatihi bi’azmin qawiyyin wa himmatin wa hamiyyah. wa qaddama ‘alan-nafsi wal-banina wa rabbah, wa lammå balagha shallallahu ‘alaihi wa sallama itsnå ‘asyara sanatan rahala bihi shallallahu ‘alaihi wa sallama ‘ammuhu ilal-bilädisy-syämiyyah. wa ‘arafahur-rähibu bahiran bimâ hâzahu min washfin-nubuwwati wa hawah, wa qala: inni arahu sayyidal-‘alamina wa rasûlallahi wa nabiyyah. qad sajada lahusy-syajaru wal-hajaru wa la yasjudāni illä linabiyyin awwah. wa innå lanajidu na’tahu fil-kutubil-qadimatis-samawiyyah, wa baina katifaihi khatamun-nubuwwati qad ‘ammahun-nūru wa ‘alah, wa amara ‘ammahu biraddihi ila makkata takhawwufan ‘alaihi min ahli dinil-yahûdiyyah. faraja’a bihi wa lam yujāwiz minasy-syämil-muqaddasi bushrah.

Artinya: Ketika beliau mencapai usia empat tahun, ibunya berangkat dengannya ke Madinah. Kemudian ia kembali lalu wafat di Abwa’ atau Syi’bul Hajun. Lalu beliau dibawa oleh pengasuhnya, Ummu Aiman AlHabasyiah, yang nantinya beliau nikahkan dengan Zaid bin Haritsah, maula (bekas budak) beliau. Ummu Aiman memasukkan beliau ke tempat kakeknya, Abdul Muthalib, Maka Abdul Muthalib memeluknya dan ia sangat sayang kepadanya. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya anakku (cucuku) ini mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, maka beruntunglah orang yang menghormati dan memuliakannya.” Beliau, yang enggan mengadu, tidak pernah mengadu lapar dan haus di waktu kanak-kanak. Sering kali beliau pergi di waktu pagi lalu beliau minum (sebagai pengganti makan) air zamzam, sehingga membuatnya kenyang dan segar. Ketika kematian menjemput kakeknya, Abdul Muthalib, pamannya, saudara kandung ayahnya, Abu Thalib, menanggungnya, dengan memeliharanya, la melaksanakan penanggungan itu dengan kemauan keras dan penuh semangat. Abu Thalib mendahulukan beliau dibandingkan dirinya dan anak-anaknya, dan ia juga mendidiknya. Saat beliau mencapai umur dua belas tahun, pamannya membawanya pergi ke negeri Syam. Pendeta Buhaira mengenalnya karena sifat kenabian yang ada pada diri beliau. Dan ia berkata, “Aku yakin, beliau adalah pemimpin seluruh alam, utusan Allah, dan nabi-Nya. Pohon dan batu sujud kepadanya, padahal keduanya tidak sujud kecuali kepada nabi yang selalu kembali kepada Allah. Sesungguhnya kami mendapati sifatnya di dalam kitab samawi yang terdahulu.” Di antara kedua bahunya terdapat cap kenabian yang telah diratai oleh cahaya. Pendeta itu menyuruh pamannya untuk mengembalikannya ke Makkah, karena mengkhawatirkan beliau dari perlakuan para pemeluk agama Yahudi. Maka Abu Thalib membawa pulang beliau dari Syam yang suci tidak melalui Bashrah.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيم

‘aththiril-lahumma qabrahul-karîma biarfin syadiyyin min shalâtin wa taslim

Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Bagian 10 (Wirid)

وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِينَ سَنَةً سَافَرَ إِلَى بُصْرَى فِي تِجَارَةٍ الخَدِيجَةَ الْفَتِيَّةِ، وَمَعَهُ غُلَامُهَا مَيْسَرَةُ يَخْدِمُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَيَقُوْمُ بِمَا عنَاهُ. وَنَزَلَ تَحْتَ شَجَرَةٍ لَدَى صَوْمَعَةِ نَسْطُورًا رَاهِبِ النَّصْرَانِيَّةِ. فَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ إِذْ مَالَ إِلَيْهِ ظِلُّهَا الْوَارِفُ وَأَوَاهُ. وَقَالَ: مَا نَزَلَ تَحْتَ هَذِهِ الشَّجَرَةِ قَطُّ إِلَّا نَبِيُّ ذُوْ صِفَاتٍ نَقِيَّةٍ. وَرَسُوْلُ قَدْ خَصَّهُ اللَّهُ تَعَالَى بِالْفَضَائِلِ وَحَبَاهُ. ثُمَّ قَالَ لِمَيْسَرَةَ: أَفِي عَيْنَيْهِ حُمْرَةُ اسْتِطْهَارًا لِلْعَلَامَةِ الْخَفِيَّةِ؟ فَأَجَابَهُ بِنَعَمْ فَحَقَّ لَدَيْهِ مَا ظَنَّهُ فِيْهِ وَتَوَفَّاهُ. وَقَالَ لِمَيْسَرَةَ: لَا تُفَارِقُهُ وَكُنْ مَعَهُ بِصِدْقٍ عَزْمٍ وَحُسْنِ طَوِيَّةٍ، فَإِنَّهُ مِمَّنْ أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِالنُّبُوَّةِ وَاجْتَبَاهُ. ثُمَّ عَادَ إِلَى مَكَّةَ فَرَأَتْهُ خَدِيجَةُ مُقْبِلًا وَهِيَ بَيْنَ نِسْوَةٍ فِي عِلِيَّةٍ. وَمَلَكَانِ عَلَى رَأْسِهِ الشَّرِيفِ مِنْ وَهَجَ الشَّمْسِ قَدْ أَظَلَّاهُ. وَأَخْبَرَهَا مَيْسَرَةُ بِأَنَّهُ رَأَى ذَلِكَ فِي السَّفَرِ كُلِّهِ وَبِمَا قَالَ لَهُ الرَّاهِبُ وَأَوْدَعَهُ لَدَيْهِ مِنَ الْوَصِيَّةِ، وَضَاعَفَ اللَّهُ فِي تِلْكَ التِّجَارَةِ رِيحَهَا وَنَمَّاهُ. فَبَانَ لِخَدِيجَةَ بِمَا رَأَتْ وَمَا سَمِعَتْ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ تَعَالَى إِلَى الْبَرِيَّةِ الَّذِي خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِقُرْبِهِ وَاصْطَفَاهِ، فَخَطَبَتْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهَا الزَّكِيَّةِ، لِتَثُمَّ مِنَ الْإِيْمَانِ بِهِ طِيْبَ رَيَّاهُ. فَأَخْبَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْمَامَهُ بِمَا دَعَتْهُ إِلَيْهِ هَذِهِ الْبَرَّةُ التَّقِيَّةُ. فَرَعْبُوْا فِيهَا لِفَضْلٍ وَدِيْنِ وَجَمَالٍ وَمَالٍ وَحَسَبٍ وَنَسَبٍ كُلٌّ مِنَ الْقَوْMِ يَهْوَاهُ، وَخَطَبَ أَبُوْ طَالِبٍ وَأَثْنَى عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ حَمِدَ اللَّهُ بِمَحَامِدَ سَنِيَّةٍ، وَقَالَ: هُوَ وَاللَّهِ بَعْدُ لَهُ نَبَأَ عَظِيمٌ يُحْمَدُ فِيْهِ مَسْرَاهُ. فَزَوَّجَهَا مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُوْهَا وَقِيلَ عَنْهَا وَقِيلَ أَخُوهَا لِسَابِقِ سَعَادَتِهَا الْأَزَلِيَّةِ. وَأَوْلَدَهَا كُلَّ أَوْلَادِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا الَّذِي بِاسْمِ الْخَلِيْلِ سَمَاهُ

Wa lamma balagha shallallahu ‘alaihi wa sallama khamsan wa ‘isyrîna sanatan säfara ilä bushra fi tijäratin likhadijatal-fatiyyah, wa ma’ahu maisaratu yakhdimuhu ‘alaihish-shalātu was-salamu wa yaqūmu bima ‘anah. wa nazala tahta syajaratin ladä shauma’ati nasthûrä rähibin-nashräniyyah, fa’arafahur-rähibu idz māla ilaihi dhilluhäl-wärifu wa awah. wa qala: må nazala tahta hädzihisy-syajarati qaththu illä nabiyyun dzů shifätin naqiyyah. wa rasûlun qad khashshahullahu ta’ala bil-fadla’ili wa habah. tsumma qala limaisarata: afi ‘ainaihi humratunis-tidhhäran lil-‘alämatil-khafiyyah? fa ajabahu bina’am fahaqqa ladaihi mã dhannahu fihi wa tawakhkhah. wa qala limaisarata: là tufâriqhu wa kun ma’ahu bishidqi ‘azmin wa husni thawiyyah, fa innahu mimman akramallahu ta’älä bin-nubuwwati wajtabah. tsumma ‘ada ila makkata fara’athu khadījatu muqbilan wa hiya baina niswatin fi ‘illiyyah. wa malakāni ‘alā ra’sihisy-syarifi min wahajisy-syamsi qad adhalläh, wa akhbaraha maisaratu bi annahu ra’a dzālika fis-safari kullihi wa bima qala lahur-rahibu wa auda’ahu ladaihi minal-washiyyah. wa dla’afaallahu fi tilkat-tijärati ribhahä wa nammah, fabāna likhadijata bimä ra’at wa ma sami’at annahu rasülullāhi ta’älä ilal-bariyyah, alladzi khashshahullahu ta’älä biqurbihi washthafáh. fakhathabathu shallallahu ‘alaihi wa sallama linafsiház-zakiyyah. litasyumma minal-imäni bihi thība rayyah, fa akhbara shallallahu ‘alaihi wa sallama a’māmahu bima da’athu ilaihi hädzihil-barratut-taqiyyah, faraghibû fiha lifadilin wa dinin wa jamalin wa mälin wa hasabin wa nasabin kullun minal-qaumi yahwäh, wakhathaba abů thälibin wa atsnä ‘alaihi shallallahu ‘alaihi wa sallama ba’da an hamidallahu bimahāmida saniyyah. wa qala: huwa wallahi ba’du lahu naba’un ‘adhimun yuhmadu fihi masrah, fazawwajahā minhu shallallahu ‘alaihi wa sallama abüha wa qila ‘ammuha wa qila akhūhä lisäbiqi sa’adatihal-azaliyyah, wa auladahā kulla aulādihi shallallahu ‘alaihi wa sallama illal-ladzi bismil-khalili sammâh.

Artinya: Ketika mencapai usia dua puluh lima tahun, beliau berpergian ke Bashrah untuk memperdagangkan barang-barang Khadijah, seorang wanita yang mulia. Beliau ditemani budak laki-laki Khadijah, Maisarah. Dalam perjalanan, beliau singgah di bawah pohon di depan biara Nastura, seorang pendeta Nasrani. Pendeta itu mengenalnya karena bayangan pohon condong kepadanya dan melindunginya. Sang pendeta berkata, “Tidaklah singgah di pohon ini kecuali seorang nabi yang mempunyai sifat yang bersih dan seorang rasul yang telah dikhususkan oleh Allah Ta’ala.” Kemudian pendeta itu bertanya kepada Maisarah tentang tanda kemerahan di matanya, dan Maisarah membenarkannya. Pendeta itu berpesan agar Maisarah tidak berpisah dari beliau karena beliau adalah orang yang dipilih Allah menjadi nabi. Sekembalinya di Makkah, Khadijah melihat dua malaikat menaungi beliau dari terik matahari. Setelah mendengar cerita Maisarah dan melihat kesuksesan dagang yang berlipat ganda, Khadijah yakin beliau adalah utusan Allah. Khadijah pun meminang beliau. Paman-paman beliau menyetujui karena kemuliaan Khadijah. Abu Thalib memuji beliau dalam khutbah nikahnya. Khadijah kemudian melahirkan semua putra-putri Nabi ﷺ kecuali Ibrahim.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيم

‘aththiril-lahumma qabrahul-karîma biarfin syadiyyin min shalâtin wa taslim

Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Bagian 11

وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَثَلَاثِينَ سَنَةً بَنَتْ قُرَيْشُ الْكَعْبَةَ لا نُصِدَاعِهَا بِالسُّيُولِ الْأَطْبَحِيَّةِ. وَتَنَازَعُوا فِي رَفْعِ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ فَكُلُّ أَرَادَ رَفْعَهُ وَرَجَاهُ. وَعَظُمَ الْقِيْلُ وَالْقَالُ وَتَعَالَفُوْا عَلَى الْقِتَالِ وَقَوِيَتِ الْعَصَبِيَّةِ. ثُمَّ تَدَاعَوْا إِلَى الْإِنْصَافِ وَفَوَّضُوْا الْأَمْرَ إِلَى ذِي رَأْيِ صَائِبٍ وَأَنَاهُ. فَحَكَمَ بِتَحْكِيمُ أَوَّلِ دَاخِلٍ مِنْ بَابِ السَّدَنَةِ الشَّيْبِيَّةِ. فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ دَاخِلٍ فَقَالُوا: هَذَا الْأَمِينُ وَكُلُّنَا نَقْبَلُهُ وَنَرْضَاهُ. فَأَخْبَرُوهُ بِأَنَّهُمْ رَضُوْهُ أَنْ يَكُوْنَ صَاحِبَ الْحُكْمِ فِي هَذَا الْمُلِمَ وَوَلِيَّهُ. فَوَضَعَ الْحَجَرَ فِي ثَوْبِ ثُمَّ أَمَرَ أَنْ تَرْفَعَهُ الْقَبَائِلُ جَمِيعًا إِلَى مُرْتَقَاهُ. فَرَفَعُوهُ إِلَى مَقَرِهِ مِنْ رُكْنِ هَاتِيْكَ الْبَنِيَّةِ. وَوَضَعَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الشَّرِيفَةِ فِي مَوْضِعِهِ الْأَنَ وَبَنَاهُ

Wa lamma balagha shallallâhu ‘alaihi wa sallama khamsan wa tsalâtsîna sanatan banat quraisyunil-ka’bata lingshidâ’ihâ bis-suyûlil-athbaḫiyyah. wa tanâza’û fî raf’il-ḫajaril-aswadi fakullun arâda raf’ahu wa rajah. wa ‘adhumal-qîlu wal-qâlu wa taḫâlafû ‘alal-qitâli wa qawwiyatil-‘ashabiyyah. tsumma tadâ’au ilal-inshâfi wa fawwadlul-amra ilâ dzî ra’yin shâ’ibin wa anâh. faḫakama bitaḫkîmi awwali dâkhilin min bâbis-sadanatisy-syaibiyyah. fakânan-nabiyyu shallallâhu ‘alaihi wa sallama awwala dâkhilin faqâlû: hâdzal-âmînu wakullunâ naqbaluhu wa nardlâh. fa akhbarûhu bi annahum radlûhu an yakûna shâḫibal-ḫukmi fî hâdzal-mulimmi wa waliyyah. fawadla’al-ḫajara fî tsaubin tsumma amara an tarfa’ahul-qabâ’ilu jamî’an ilâ murtaqâh. farafa’ûhu ilâ maqarrihi min ruknin hâtîkal-baniyyah. wa wadla’ahu shallallâhu ‘alaihi wa sallama biyadihisy-syarîfati fî maudli’ihil-âna wa banâh.

Artinya: Ketika beliau mencapai umur tiga puluh lima tahun, kaum Quraisy merenovasi Ka’bah. Terjadi perselisihan tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Mereka sepakat menunjuk orang pertama yang masuk pintu masjid sebagai hakim. Ternyata orang tersebut adalah Nabi ﷺ. Mereka berseru, “Ini adalah Al-Amin (orang yang terpercaya), kami ridha padanya!” Beliau kemudian membentangkan kain, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, dan meminta setiap kepala kabilah memegang ujung kain untuk mengangkatnya bersama-sama. Lalu beliau meletakkannya ke tempat semula dengan tangan beliau yang mulia.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيم ‘aththiril-lahumma qabrahul-karîma biarfin syadiyyin min shalâtin wa taslim

Bagian 12

وَلَمَّا كَمُلَ لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعُونَ سَنَةً بَعَثَهُ اللَّهُ تَعَالَى لِلْعَالَمِينَ بَشِيرًا وَنَذِيرًا. وَبُدِئَ بِالرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ الْجَلِيَّةِ لِمَدَّةِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ. وَحُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ فَكَانَ يَتَعَبَّدُ بِحِرَاءَ إِلَى أَنْ أَتَاهُ صَرِيحُ الْحَقِّ. وَذَلِكَ فِي يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ لِسَبْعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً مِنْ رَمَضَانَ. فَقَالَ لَهُ جِبْرِيْلُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: مَا أَنَا بِقَارِي، فَغَطَّهُ ثَلَاثًا لِيَتَوَجَّهَ إِلَى مَا سَيُلْقَى إِلَيْهِ بِجَمْعِيَّةٍ. ثُمَّ فَتَرَ الْوَحْيُ لِيَشْتَاقَ إِلَيْهِ، ثُمَّ أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِرُ.

Wa lammâ kamula lahu shallallâhu ‘alaihi wa sallama arba’ûna sanatan ba’atsahullâhu ta’âlâ lil-‘âlamîna basyîran wa nadzîran. wa budi’a bir-ru’yash-shâdiqatil-jaliyyah. wa ḫubbiba ilaihil-khalâ’u fakâna yata’abbadu biḫirâ’ ilâ an atâhu sharîḫul-ḫaqq. wa dzâlika fî yaumil-itsnaini lisab’a ‘asyrata lailatan min ramadlân. faqâla lahu iqra’. faqâla: mâ anâ biqâri’in. faghaththahu tsâlitsatan liyatawajjaha ilâ mâ sayulqâ ilaihi bijam’iyyah. tsumma fataral-waḫyu liyasytâq ilaih, tsumma unzilat ‘alaihi: yâ ayyuhal-muddatstsir.

Artinya: Saat berusia 40 tahun, Nabi ﷺ diutus sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan. Dimulai dengan mimpi yang nyata selama 6 bulan. Beliau suka menyendiri (khalwat) di Gua Hira hingga datangnya wahyu pertama pada Senin, 17 Ramadhan. Jibril memeluknya tiga kali agar beliau fokus menerima wahyu “Iqra'”. Wahyu sempat terputus sementara agar muncul rasa rindu, kemudian turunlah surah Al-Muddatstsir sebagai tanda dimulainya risalah dakwah.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيم ‘aththiril-lahumma qabrahul-karîma biarfin syadiyyin min shalâtin wa taslim

Bagian 13: Awal Mula Dakwah dan Hijrah ke Habasyah

وَأَوَّلُ مَنْ اٰمَنَ بِهِ مِنَ الرِّجَالِ أَبُوْ بَكْرٍ صَاحِبُ الْغَارِ وَالصِّدِّيْقِيَّةِ… (dst)

Wa awwalu man âmana minar-rijâli abû bakrin shâḫibul-ghâri wash-shiddîqiyyah. wa minash-shibyâni ‘aliyyun wa minan-nisâ’i khadîjatul-latî tsabbatallâhu bihâ qalbahu wa wâqâh…

Artinya: Orang dewasa pertama yang beriman adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dari kalangan remaja adalah Ali, dan dari wanita adalah Khadijah. Kemudian masuk Islam pula Utsman, Sa’d, Sa’id, Thalhah, dan Abdurrahman bin Auf. Dakwah dilakukan sembunyi-sembunyi hingga turun perintah untuk berdakwah secara terang-terangan. Karena tekanan kafir Quraisy, sebagian Muslim hijrah ke Habasyah (Ethiopia) pada tahun kelima kenabian. Di tahun kesepuluh, Abu Thalib wafat disusul Khadijah tiga hari kemudian (Amul Huzni). Nabi ﷺ sempat ke Thaif namun ditolak dengan kasar hingga beliau terluka.

Bagian 14: Peristiwa Isra’ Mi’raj

ثُمَّ أُسْرِيَ بِرُوْحِهِ وَجَسَدِهِ يَقَظَةً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى… (dst)

Tsumma usriya birûḫihi wa jasadihi yaqadhatan minal-masjidil-ḫarâmi ilal-masjidil-aqshâ wa riḫâbihil-qudsiyyah. wa ‘urija bihi ilas-samawâti fara’a âdama fil-ûlâ…

Artinya: Nabi ﷺ diperjalankan (Isra’) dengan ruh dan jasad dalam keadaan terjaga dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik (Mi’raj) ke langit. Beliau bertemu para nabi di setiap tingkatan langit: Adam (ke-1), Isa & Yahya (ke-2), Yusuf (ke-3), Idris (ke-4), Harun (ke-5), Musa (ke-6), dan Ibrahim (ke-7). Beliau naik hingga Sidratul Muntaha dan menerima perintah shalat lima waktu yang pahalanya setara lima puluh waktu.

Bagian 15: Bai’at Aqabah dan Hijrah ke Madinah

ثُمَّ عَرَضَ نَفْسَهُ عَلَى الْقَبَائِلِ بِأَنَّهُ رَسُولُ اللّٰهِ فِي الْأَيَّامِ الْمَوْسِمِيَّة… (dst)

Tsumma ‘aradla nafsahu ‘alal-qabâ’ili bi annahu rasûlullâhi fil-ayyâmil-mausimiyyah. Fa âmana bihi sittatun minal-anshârikh-tashshahumullâhu ta’âlâ biridlâh…

Artinya: Nabi ﷺ menawarkan Islam pada kabilah-kabilah saat musim haji. Enam orang Anshar beriman, diikuti bai’at pada tahun-tahun berikutnya. Saat kaum Quraisy berencana membunuh beliau, Allah mengizinkan hijrah. Nabi ﷺ keluar rumah dengan menaburkan debu di kepala para pengepung, lalu bersembunyi di Gua Tsaur bersama Abu Bakar selama tiga hari dengan perlindungan sarang laba-laba dan burung merpati.

Bagian 16: Perjalanan Qudaid dan Tiba di Madinah

وَمَرَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدِيدٍ عَلَى أُمِّ مَعْبَدٍ الْخُزَاعِيَّةِ… (dst)

Wa marra shallallâhu ‘alaihi wa sallama biqadîdin ‘alâ ummi ma’banib-nil-khuzâ’iyyah. wa arâdab-tiyâ’a laḫmin au labanin minhâ…

Artinya: Dalam perjalanan, beliau singgah di kemah Ummu Ma’bad. Beliau menunjukkan mukjizat memerah susu dari kambing yang sudah kering dan kurus hingga penuh. Beliau tiba di Madinah pada Senin, 12 Rabi’ul Awwal. Penduduk Madinah menyambutnya dengan gembira. Beliau singgah di Quba dan membangun masjid pertama di sana.

Bagian 17: Sifat Fisik Nabi ﷺ (Syama’il)

وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَ كْمَلَ النَّاسِ خَلْقًا وَخُلُقًا ذَا ذَاتٍ وَصِفَاتٍ سَنِيَّةٍ… (dst)

Wa kâna shallallâhu ‘alaihi wa sallama akmalan-nâsi khalqan wa khuluqan dzâ dzâtin wa shifâtin saniyyah. marbû’al-qâmati abyadlal-launi musyraban biḫumratin…

Artinya: Beliau adalah manusia paling sempurna fisik dan akhlaknya. Bertubuh sedang, kulit putih kemerahan, mata lebar dengan bulu mata lentik, dan wajah bercahaya bak bulan purnama. Keringatnya harum seperti mutiara, dan tangannya sangat lembut serta wangi. Siapa pun yang menjabat tangannya akan merasakan harumnya sepanjang hari.

Bagian 18: Akhlak dan Kerendahan Hati Nabi ﷺ

وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَدِيْدَ الْحَيَاءِ وَالتَّوَاضُعِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيَرْقَعُ ثَوْبَهُ… (dst)

Wa kâna shallallâhu ‘alaihi wa sallama syadîdal-ḫayâ’i wat-tawâdlu’i yakhshifu na’lahu wa yarqa’u tsaubahu wa yaḫlubu syâtahu…

Artinya: Beliau sangat pemalu dan rendah hati; menjahit sandalnya sendiri dan membantu pekerjaan rumah tangga. Beliau sangat mencintai orang miskin, menjenguk yang sakit, dan mengantar jenazah. Beliau sering menahan lapar dengan mengikatkan batu di perutnya, meski kunci perbendaharaan dunia ditawarkan kepadanya. Beliau selalu memulai salam dan berbicara hanya yang benar.

عَطِرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيمَ، بِعَرْفِ شَذِي مِنْ صَلَاةِ وَتَسْلِيم

‘aththiril-lahumma qabrahul-karîma biarfin syadiyyin min shalâtin wa taslim

Artinya: Ya Allah, harumkanlah kubur Nabi yang mulia dengan semerbak wangi limpahan rahmat dan keselamatan.

Doa Penutup Maulid Al-Barzanji

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. اَللّٰهُمَّ يَا بَاسِطَ الْيَدَيْنِ بِالْعَطِيَّةِ. يَا مَنْ إِذَا رُفِعَتْ إِلَيْهِ أَكُفُّ الْعَبْدِ كَفَاه. يَا مَنْ تَنَزَّهَ فِيْ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ الْأَحَدِيَّةِ. عَنْ أَنْ يَكُوْنَ ل1َهُ فِي2ْهَا نَظَائِرُ وَأَشْبَاهُ. يَا مَنْ تَفَرَّدَ بِالْبَقَاءِ وَالْقِدَمِ وَالْأَزَلِيَّةِ. يَا مَنْ لَا يُرْجَى3 غَيْرُهُ وَلَا يُعَوَّلُ عَلَى سِوَاه. يَا مَنِ اسْتَنَدَ4 الْأَنَامُ إِلَى قُدْرَتِهِ الْقَيُّوْمِيَّةِ. وَأَرْشَدَ بِفَ5ضْلِهِ مَنِ اسْتَرْشَدَهُ وَاسْتَهْدَاهُ.6

 

Bismillâhirrahmânirrahîm. Allâhumma yâ bâsithal-yadaini bil-‘athiyyah. yâ man idzâ rufi’at ilaihi akufful-‘abdi kafâh. yâ man tanazzaha fî dzâtihi wa shifâtihil-aḫadiyyah. ‘an an yakûna lahu fîhâ nadhâ’iru wa asybâḫ. Yâ man tafarrada bil-baqâ’i wal-qidami wal-azaliyyah. yâ man lâ yurjâ ghairuhu wa lâ yu’a7wwalu ‘alâ siwâh. yâ manis-t8anadal-anâmu ilâ qudratihil-qayyûmiyyah. wa arsyada bifadllihi manis-tarsyadahu wastahdâh.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, wahai Dzat yang kedua tangan-Nya terbuka dengan pemberian, wahai Dzat yang apabila diangkat telapak-telapak tangan hamba kepada-Nya, Dia mencukupinya, wahai Dzat yang mahasuci dalam dzat dan sifat-Nya, Yang Maha Esa dari adanya ses9uatu yang menyamai dan menye10rupai-Nya.

Tawasul dan Permohonan Utama

نَسْأَلُكَ اللّٰهُمَّ بِأَنْوَارِكَ الْقُدْسِيَّةِ. الَّتِي أَزَاحَتْ مِنْ ظُلُمَاتِ الشَّكِّ دُجَاه. وَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِشَرَفِ الذَّاتِ الْمُحَمَّدِيَّةِ، وَمَنْ هُوَ آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ بِصُورَتِهِ وَأَوَّلُهُمْ بِمَعْنَاه11… (إلى أخر الدعاء)

Nas’aluka allâhumma bi anwârikal-qudsiyyah. allatî azâḫat min dhulumâtisy-syakki dujâh. wa natawassalu ilaika bisyarafidz-dzâtil-muḫammadiyyah. wa man huwa âkhirul-anbiyâ’i bishûratihi wa awwaluhum bima’n12âh…

Intisari Permohonan Doa:

  • Keikhlasan: Memohon taufiq agar ikhlas dalam perkataan dan perbuatan.

  • Keselamatan Hati: Memohon agar diselamatkan dari nafsu dan penyakit hati.

  • Ampunan: Memohon dihapuskannya dosa dan ditutupinya segala aib (cacat) diri.

  • Kesejahteraan: Memohon keamanan dan kemakmuran bagi negeri serta seluruh umat Islam.

  • Pahala bagi Pengarang: Memohon kemuliaan bagi penulis kitab ini, Sayyid Ja’far Al-Barzanji, pembacanya, serta penyimaknya.

Penutup Doa

اَللّٰهُمَّ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَوَّلِ قَابِلٍ لِلتَّجَلِّي مِنَ الْحَقِيْقَةِ الْكُلِّيَّةِ. وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ نَصَرَهُ وَوَالَاهُ… سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَــــــالَمِينَ

Allâhumma wa shalli wa sallim ‘alâ awwali qâbilin lit-tajallî minal-ḫaqîqatil-kulliyyah. wa ‘alâ âlihi wa shaḫbihi wa man nasharahu wa wâlâh. subhâna rabbika rabbil-‘izzati ‘amma yashifûn. wa salâmun ‘alal-mursalîn. wal-ḫamdulillâhi rabbil-‘âlamîn.

FAQ (Pertanyaan Umum)

Pertanyaan Jawaban
Apa itu Al-Barzanji? Kitab berisi syair pujian dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ yang disusun oleh Syekh Ja’far al-Barzanji.
Kapan dibacanya? Biasanya pada peringatan Maulid Nabi, aqiqah, pernikahan, atau syukuran (barzanji/marhabanan).
Hukum Membacanya? Tidak wajib, namun sangat dianjurkan (mustahab) karena mengandung shalawat dan edukasi sejarah Nabi.

 

Pos terkait