Tensi geopolitik AS-Israel-Iran, harga emas melonjak, investor disarankan beli bulanan

E68c76f0 4906 11ed Ae74 19de571b6525 4
E68c76f0 4906 11ed Ae74 19de571b6525 4

Dampak Ketegangan Geopolitik terhadap Harga Emas

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberikan dampak signifikan terhadap berbagai aspek ekonomi global, termasuk harga emas. Hal ini terlihat jelas baik di pasar internasional maupun domestik, khususnya di Indonesia.

Pemicu Kenaikan Harga Emas

Salah satu pemicu utama kenaikan harga emas adalah penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran tentang gangguan jalur perdagangan internasional. Selain itu, lonjakan permintaan emas sebagai aset lindung nilai (hedging) juga menjadi faktor penting. Ini disebabkan oleh inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi.

Menurut Nanang Wahyudin, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, efek gangguan di Selat Hormuz terhadap harga emas saat ini bukan sekadar riak kecil, melainkan peristiwa pengubah tren atau trend shifter yang fundamental.

Perkembangan Harga Emas di Pasar Global dan Domestik

Melansir data dari Trading Economics pada Senin (2/3) pukul 15.40 WIB, harga emas di pasar spot mencapai US$ 5.405 per ons troi. Angka ini naik sebesar 2,44 persen dibandingkan hari sebelumnya dan meningkat 9,31 persen dalam sebulan terakhir.

Di Indonesia, harga emas melonjak tajam. Pada tanggal 2 Maret 2026, harga emas mencapai Rp 3.135.000 per gram. Angka ini naik hingga Rp 50 ribu dibandingkan dua hari lalu, yaitu pada level Rp 3.085.000.

Nanang menjelaskan bahwa kenaikan harga emas Antam yang cukup signifikan ini dipengaruhi oleh harga spot global dan nilai tukar Rupiah. Ia menyatakan bahwa rupiah melemah terhadap dolar karena ketidakpastian global. Oleh karena itu, harga emas Antam akan naik lebih cepat dibandingkan kenaikan emas dunia.

Strategi Investasi Emas

Nanang menekankan kepada publik atau investor agar tidak terjebak fenomena FOMO (takut ketinggalan). Ia menyarankan agar pembelian emas dilakukan secara rutin, misalnya sebulan sekali, tanpa mempedulikan fluktuasi harga harian. Strategi ini membantu investor mendapatkan harga rata-rata yang lebih stabil dalam jangka panjang.

“Ingat bahwa emas adalah aset penjaga nilai (wealth protector). Secara historis, meskipun ada fluktuasi, emas cenderung naik dalam siklus panjang,” jelas Nanang.

Dengan demikian, emas sebaiknya berfungsi sebagai “asuransi” dalam portofolio, bukan satu-satunya aset. Investor dianjurkan mengalokasikan sekitar 10 persen–20 persen dari total aset ke emas, sementara sisanya ditempatkan pada aset produktif seperti saham atau obligasi untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil.

Proyeksi Harga Emas

Tercatat, sepanjang Februari hingga Maret 2026, harga emas Antam bergerak di kisaran Rp 2,86 juta hingga Rp 2,94 juta per gram. Nanang memproyeksikan harga emas global hingga semester I 2026 akan menunjukkan tren kenaikan signifikan, didorong oleh ketegangan geopolitik ekstrem dan kebijakan moneter global yang mendukung aset safe haven.

Harga emas Antam di dalam negeri diperkirakan akan naik lebih tajam akibat efek ganda dari kenaikan harga spot dan potensi pelemahan nilai tukar Rupiah. Prediksi moderat menunjukkan harga stabil di atas Rp 3.000.000 per gram, berkisar antara Rp 3.000.000–Rp 3.150.000 per gram.

Namun, bila konflik Timur Tengah terus memanas dan berkepanjangan, harga emas Antam bisa terdorong lebih tinggi hingga Rp 3.300.000–Rp 3.850.000 per gram.

“Jika harga mengalami penurunan sementara (pullback) akibat aksi ambil untung investor besar, gunakan kesempatan tersebut untuk menambah muatan. Jangan terburu-buru menjual emas hanya karena harga turun sedikit setelah lonjakan tajam,” pungkas Nanang.

Pos terkait