Seorang nenek berusia 65 tahun bernama Resih menjadi perhatian khalayak setelah aksi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan bantuan kepadanya. Kejadian ini terjadi saat Dedi menghadiri acara Tarling (Tarawih Keliling) di Bekasi. Nenek Resih yang ikut dalam acara tersebut tidak hanya ingin bertemu dengan Dedi, tetapi juga menceritakan kisah hidupnya yang penuh tantangan.
Saat itu, Dedi meminta nenek Resih untuk naik panggung. Ia kemudian menanyakan latar belakang hidup sang nenek. Dari percakapan tersebut, Dedi mengetahui bahwa nenek Resih sudah menjadi janda sejak suaminya meninggal. Selain itu, ia juga harus merawat salah satu dari empat anaknya yang memiliki disabilitas tunawicara. Anak ketiganya, Nimah, juga merupakan janda karena suaminya telah meninggal. Nimah memiliki dua orang anak yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, yang semuanya diurus oleh nenek Resih.
Meskipun kondisi ekonomi keluarga mereka tidak begitu baik, Nimah bekerja di sebuah klinik dengan penghasilan Rp 2 juta per bulan. Namun, keterbatasan finansial membuat nenek Resih kesulitan membayar biaya pendidikan dua cucunya yang sekolah di sekolah swasta. Mendengar hal itu, Dedi Mulyadi langsung menyampaikan pesan bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas biaya pendidikan anak yatim piatu yang miskin, baik di sekolah negeri maupun swasta.
“Mak, swasta itu kalau SMP harus menjadi tanggung jawab Bupati kalau memang miskin,” ujar Dedi Mulyadi.
Setelah mendengar cerita nenek Resih, Dedi Mulyadi memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp 5 juta. Nenek Resih sangat bersyukur dan langsung bersujud sebagai tanda rasa terima kasih. Selain itu, ia juga menerima bantuan tambahan dari jajaran pemerintah yang hadir di acara tersebut. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk membayar tunggakan atau biaya pendidikan selama dua tahun.
Dedi Mulyadi juga menyampaikan pesan penting kepada para pemimpin bahwa mereka harus sering bertemu dengan warga agar bisa lebih memahami masalah yang terjadi di lapangan. Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin harus aktif berinteraksi dengan masyarakat untuk mengetahui secara langsung kebutuhan dan tantangan yang dihadapi.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi juga menyampaikan bahwa mulai tahun 2026, siswa miskin dan yatim piatu yang sekolah di sekolah swasta akan menjadi tanggung jawab pemerintah. Tidak hanya biaya sekolah, tetapi juga biaya buku, sepatu, hingga tas akan ditanggung melalui dana zakat atau pajak. Hal ini dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan dan dukungan bagi warga yang kurang mampu.
Beberapa poin penting dari kejadian ini adalah:
- Nenek Resih harus merawat dua cucu yatim yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.
- Biaya pendidikan di sekolah swasta menjadi beban besar bagi keluarganya.
- Dedi Mulyadi memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp 5 juta untuk membantu kebutuhan pendidikan cucu-cucunya.
- Pemerintah akan bertanggung jawab atas biaya pendidikan anak yatim piatu yang miskin, baik di sekolah negeri maupun swasta.
- Kebijakan ini akan dijalankan mulai tahun 2026 dengan menggunakan dana zakat atau pajak.
Aksi Dedi Mulyadi ini menunjukkan komitmen seorang pemimpin dalam memberikan bantuan langsung kepada warga yang membutuhkan. Dengan cara seperti ini, harapan besar dapat dibangun untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil dan merata.





