Tertahan di Mekkah Akibat Perang Amerika-Iran, Meisya Siregar Terpaksa Beli Tiket Pesawat Pulang

Aa1xl2su
Aa1xl2su

Perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran Membuat Meisya Siregar dan Bebi Romeo Tertahan di Mekkah

Perang antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menimbulkan dampak yang cukup besar, termasuk pada sektor penerbangan. Banyak maskapai membatalkan penerbangan dari dan ke kawasan Timur Tengah karena alasan keselamatan. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah pasangan artis Meisya Siregar dan Bebi Romeo.

Saat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran meletus, Meisya dan Bebi sedang menjalani ibadah umroh di Tanah Suci. Selama berada di Mekkah, mereka beberapa kali membagikan momen ibadah melalui akun Instagram pribadi. Dari unggahan tersebut, terlihat bahwa keduanya menjalani ibadah dengan khusyuk dan menikmati suasana Ramadan yang penuh makna.

Namun, rencana mereka untuk kembali ke Indonesia mendadak terhambat. Akibat situasi darurat ini, Meisya dan Bebi tertahan di Mekkah untuk waktu yang belum bisa dipastikan. Meisya mengungkapkan kekhawatirannya melalui media sosial:

“Terus nasib kite gimana ini pesawat di-cancel ga bisa pulang ??? Airspace UEA closed untuk waktu yang ga pasti,” curhat Meisya.

Pembatalan Penerbangan dan Kebingungan

Dalam Instagram Story-nya, Meisya memperlihatkan informasi mengenai pembatalan keberangkatan. Ia dan Bebi sejatinya bertolak dari Jeddah, Arab Saudi menuju Dubai, Uni Emirat Arab pada 2 Maret 2026. Namun, pihak maskapai, dalam hal ini Emirates, mengumumkan bahwa penerbangan tersebut dibatalkan.

“Dear customer, your flight with Emirates EK-2069 from Jeddah to Dubai on 02 Mar 2026, 18:10 has been canceled due to operational reasons.”

Meisya Siregar akhirnya berusaha mencari tiket pesawat lain untuk bisa pulang ke Tanah Air. Ia mengaku sampai war atau berlomba-lomba mendapatkan tiket pesawat tersebut.

“Abis war tiket lanjut taraweh di kamar alhamdulillah bisa goler-goler,” curhat Meisya.

Peristiwa Berdarah di Timur Tengah

Sebagai informasi, perhatian dunia kini memang tertuju ke kawasan Timur Tengah menyusul pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan geopolitik selama bertahun-tahun itu pecah pada Sabtu (28/2/2026). Amerika Serikat yang bekerja sama dengan Israel memborbardir pertahanan Iran lewat serangan udara.

Serangan tersebut membawa dampak yang cukup serius. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam insiden tersebut. Hal itu diumumkan sendiri oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melalui unggahan di Instagramnya.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal. Ini bukan hanya keadilan untuk rakyat Iran, tetapi untuk semua rakyat Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia, yang telah dibunuh atau disiksa oleh Khamenei dan gengnya yang kejam,” papar Trump.

Selain Khamenei, laporan yang beredar menyebutkan bahwa putri, menantu, hingga cucunya juga tidak selamat. Tubuh Khamenei ditemukan di antara puing-puing bangunan yang hancur, diduga akibat terkena pecahan proyektil saat serangan berlangsung.

Tragedi ini tidak hanya mengguncang struktur kepemimpinan Iran, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur yang luas serta jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil.

Pos terkait