Terungkap, Pelaku Ancaman Teror Helm ke Damkar Depok Bukan Polisi

129336447 E436a6fb F336 480d 9203 471b15526bd4 19
129336447 E436a6fb F336 480d 9203 471b15526bd4 19

Identitas Pelaku Ancaman ke Petugas Damkar Terungkap

Pengirim pesan ancaman kepada petugas pemadam kebakaran (Damkar) Kota Depok, Khairul Umam, akhirnya terungkap. Identitas pelaku diketahui melalui penelusuran data terbuka di internet dengan metode profiling.

Auditor Kepolisian Madya TK II Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri, Kombes Manang Soebeti, memastikan bahwa pelaku bukan anggota Polri. Menurutnya, data seperti ini banyak ditemukan di berbagai website dan merupakan data profiling biasa.

Berdasarkan hasil penelusuran, pengirim pesan ancaman tersebut diketahui bernama Wawan Gunawan, seorang buruh harian lepas asal Subang, Jawa Barat. Meskipun demikian, Manang menilai ancaman yang dikirim melalui WhatsApp tidak dapat dikategorikan sebagai teror serius.

Menurutnya, teror hanya terjadi satu hingga dua kali dan tidak disertai tindakan lanjutan. “Kalau teror itu pasti intens dong, misalnya di-spam atau didatangi. Kalau hanya WhatsApp, siapa pun bisa melakukannya, hanya iseng itu bisa, terpancing emosi bisa,” ujar Manang.

Ia juga menekankan bahwa pengungkapan identitas pelaku dilakukan untuk meluruskan asumsi di media sosial yang mengaitkan pesan ancaman tersebut dengan institusi kepolisian. “Dan yang paling penting, tuduhan yang dikomentarkan itu kan arahnya yang meneror dicurigai adalah polisi. Nah itu aja yang saya ingin buktikan bahwa (peneror) bukan polisi,” tambahnya.

Awal Teror

Awal dari teror ini bermula setelah Khairul Umam membuat konten tentang fungsi helm petugas Damkar. Dalam kontennya, ia menjelaskan bahwa helm digunakan untuk melindungi kepala petugas, bukan untuk menghancurkan kepala.

Sebagai seorang komika, Khairul juga menyindir kenapa masih ada saja orang jahat berkeliaran di bulan puasa. Konten tersebut diunggah usai viral kasus seorang anggota Brimob yang membunuh seorang siswa menggunakan helm saat di jalan raya.

Setelah konten tersebut viral, Khairul Umam mendapatkan teror yang menyerang kedua orang tuanya. Peneror mengirim pesan WhatsApp kepada Khairul dan mengungkapkan data pribadi Umam termasuk kedua orang tuanya.

Dilaporkan oleh Kompas.com, Khairul Umam mengaku mendapat dua kali teror melalui chat pribadi WhatsApp pada Selasa (24/2/2026) malam dan Rabu (25/2/2026) pagi. Awalnya, pengirim pesan mengaku sebagai penggemarnya, baik sebagai komika maupun petugas Damkar.

“Jadi terornya tuh di WhatsApp semua. Seperti yang saya bikin di story, ya awalnya dia ngaku jadi sebagai fans lah gitu-gitu segala macem,” ucap Khairul saat dihubungi Kompas.com.

Dalam pesan pertama, pengirim meminta Khairul berhati-hati dan menyarankan agar ia menjaga keselamatannya. Kemudian orang tak dikenal itu meminta Umam berhati-hati dan memakai helm. “Ternyata ujung-ujungnya malah bilang saya harus pakai helm, jaga keselamatan saya, suruh minta sowan sama orangtua saya gitu-gitu,” kata Khairul.

Pesan kedua bernada serupa, disertai kalimat yang membuatnya merasa terancam. “Ya halus-halus sih halus-halus gitu. Soalnya sempet juga dia ngomong, ‘tunggu saya, ada kejutan buat kamu’,” kata dia.

Menurut Khairul, pengirim pesan juga menyebut alamat lengkap rumahnya dan rumah istrinya, serta mengetahui nama orangtuanya. “Alhamdulillah untuk saat ini buat keluarga sih masih aman-aman aja ya. Meskipun dia tuh nyampein alamat lengkap rumah saya dan rumah istri saya. Untungnya dia nggak tau alamat rumah orangtua saya,” imbuh dia.

Khairul menegaskan bahwa konten yang dibuatnya murni bertujuan edukasi dan hiburan. “Saya mah cuma bilang pake helm itu gunanya untuk apa, melindungi kepala, bukan untuk melukai kepala warga. Kalau kayak gini, ya maksudnya iya karena kontennya emang buat lucu-lucuan dan buat funny aja gitu,” katanya.

Ia juga menegaskan tidak ada narasi dalam kontennya yang menyebut atau menyinggung institusi tertentu. Ia mengaku tak bisa mengontrol pemahaman setiap orang atas konten yang Khoirul buat. “Kalau misalnya emang ada yang ngerasa tersinggung gini, saya sih yang saya pelajarin ya, maksudnya yang bisa saya kontrol adalah apa yang saya buat dan apa yang saya bikin. Ketika respons dari orang lain itu kan saya enggak bisa kontrol,” kata dia.

Bocah SMP Dibunuh Brimob

Diketahui publik kembali dikejutkan karena bocah berumur 14 tahun asal Tual, Maluku, tewas di tangan Brigadir Dua Mesias Siahaya. Anggota Kompi 1 Batalyon C Pelopor Brimob Polda Maluku itu melayangkan helmnya ke kepala AT.

AT (14) tewas setelah kepalanya diduga dipukul menggunakan helm baja oleh polisi di sekitar Kampus Universitas Doktor Husni Ingratubun (Uningrat), Kota Tual, Kamis (19/2/2026) pagi. Pelaku adalah Brigadir Dua (Bripda) Mesias Siahaya, anggota Brigade Mobil (Brimob).

Kejadiannya bermula saat AT dan kakaknya, NKT, sedang mengemudikan kendaraan bermotor di Kota Tual. Saat itu, mereka sedang menikmati momen libur awal Ramadhan. Namun, di tengah jalan, Mesias disebut memukul AT. Pemukulan itu diduga karena AT dituduh terlibat dalam balap liar.

Akibat pukulan itu, korban kehilangan kendali dan terjatuh. Nyawa AT tidak tertolong meski sempat dibawa ke rumah sakit.

Pos terkait