LONDON — Sebanyak tiga kapal tanker mengalami kerusakan di sekitar wilayah Teluk, sementara satu pelaut meninggal dunia akibat serangan balasan Iran terhadap serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hal ini menunjukkan bahwa kapal-kapal komersial kini menghadapi dampak tidak langsung dari konflik yang sedang berlangsung. Informasi ini diperoleh dari sumber-sumber pelayaran dan pejabat setempat, pada hari Minggu (1/3/2026).
Risiko terhadap keamanan pelayaran komersial telah meningkat secara signifikan dalam 24 jam terakhir. Data yang dirilis oleh para ahli pelayaran menunjukkan bahwa lebih dari 200 kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal LNG, memilih untuk menjatuhkan jangkar di sekitar Selat Hormuz dan perairan sekitarnya.
Iran telah menyatakan bahwa jalur navigasi di selat strategis tersebut ditutup. Tindakan ini memicu pemerintah dan kilang-kilang di Asia—yang merupakan pembeli utama minyak—untuk mengevaluasi cadangan energi mereka. Selain itu, beberapa perusahaan pelayaran besar juga memutuskan untuk mengubah rute perjalanan mereka melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Jakob Larsen, Kepala Keamanan dan Keselamatan Asosiasi Pelayaran BIMCO, menyampaikan bahwa serangan AS-Israel terhadap Iran secara dramatis meningkatkan risiko keamanan bagi kapal-kapal yang beroperasi di Teluk Persia dan sekitarnya. Namun, hingga saat ini belum diketahui pasti siapa yang melakukan serangan proyektil dan drone terhadap kapal-kapal tersebut.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah menghancurkan sembilan kapal angkatan laut Iran dan menyerang markas besar angkatan laut negara tersebut.
Kapal Berpotensi Jadi Sasaran
Menurut Larsen, kapal-kapal yang memiliki hubungan bisnis dengan kepentingan AS atau Israel cenderung lebih rentan menjadi target. Namun, kapal-kapal lain juga bisa menjadi sasaran, baik secara sengaja maupun karena kesalahan identifikasi.
Sebuah proyektil menyerang kapal tanker produk berbendera Kepulauan Marshall, MKD VYOM, saat berlayar di lepas pantai Oman. Perusahaan pengelola kapal V.Ships menyatakan bahwa satu awak kapal tewas akibat ledakan dan kebakaran yang terjadi setelah kapal tersebut diserang.
Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan pelayaran PBB, meminta perusahaan pelayaran untuk menghindari area yang terdampak hingga situasi membaik. Selain itu, sebuah kapal tanker berbendera Palau yang berada di bawah sanksi AS juga dilaporkan terkena serangan di lepas Semenanjung Musandam, Oman, sehingga empat orang terluka.
Sumber keamanan maritim menyebutkan bahwa sebuah kapal tanker di Pelabuhan Jebel Ali, Uni Emirat Arab (UEA), nyaris terkena puing-puing dari intersepsi udara saat serangan Iran kemarin. Kapal tanker lain dilaporkan rusak di lepas pantai UEA, sementara satu kapal tanker produk minyak menjadi sasaran drone namun berhasil melanjutkan pelayaran tanpa kerusakan.
Otoritas setempat menyatakan bahwa operasional Pelabuhan Jebel Ali dihentikan sementara akibat situasi tersebut.
Risiko Tambang Laut dan Lonjakan Asuransi
Administrasi Maritim Kementerian Perhubungan AS memperingatkan kapal agar menjauhi Selat Hormuz dan Teluk Oman karena risiko serangan balasan Iran. Kapal berbendera, milik, atau diawaki warga AS diminta menjaga jarak minimal 30 mil laut dari kapal militer AS guna menghindari salah identifikasi.
Sumber keamanan juga menyebut potensi penanaman ranjau laut oleh Iran di jalur sempit Selat Hormuz sebagai risiko tambahan. Sumber pelayaran memperkirakan premi asuransi risiko perang akan melonjak ketika penjamin emisi meninjau ulang perlindungan pada Senin. Asuransi risiko perang wajib dimiliki kapal yang berlayar di wilayah berbahaya. Pasar Lloyd’s of London telah memasukkan Iran, Teluk Persia, dan sebagian Teluk Oman sebagai wilayah berisiko tinggi.
Broker asuransi Marsh memperkirakan kenaikan tarif asuransi lambung kapal di kawasan Teluk dapat berkisar 25 hingga 50 persen dalam jangka pendek.





