Korban Jiwa Pertama dari Pihak Amerika Serikat Akibat Agresi Militer
Pentagon melaporkan korban jiwa pertama dari pihak Amerika Serikat terkait agresi ilegal menyerang Iran. Tiga anggota militer AS dilaporkan tewas selama operasi tersebut. Pejabat Komando Pusat AS mengumumkan pada Ahad, lima tentara lainnya dinyatakan “terluka parah”. Beberapa tentara lainnya “mengalami luka ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak – dan sedang dalam proses untuk kembali bertugas,” menurut rilis CENTCOM.
Rentetan serangan balasan Iran dilancarkan ke instalasi militer AS di Timur Tengah pada hari Sabtu setelah pemboman udara, darat dan laut AS dan Israel terhadap Republik Islam – sebuah kampanye yang dijuluki Operasi Epic Fury. Laporan awal pada Sabtu menunjukkan tidak ada korban di pihak AS. Rincian tambahan seputar kematian anggota militer AS belum tersedia.
Identitas anggota militer AS yang tewas dalam aksi tersebut dirahasiakan hingga 24 jam setelah pemberitahuan kepada keluarga terdekat, kata para pejabat. “Operasi tempur besar terus berlanjut dan upaya respons kami terus berlanjut,” bunyi pernyataan itu.

Asap mengepul di pusat kota Teheran setelah Israel kembali melancarkan serangan udara ke Iran, Ahad (1/3/2026). Operasi militer gabungan Israel dan AS berlanjut setelah sebelumnya menargetkan beberapa lokasi di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026. – (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)
Serangan yang dilakukan oleh pasukan AS dan mitranya dimulai pada Sabtu pukul 1.15 pagi, kata para pejabat CENTCOM, dengan tujuan untuk melumpuhkan “aparat keamanan rezim Iran, memprioritaskan lokasi-lokasi yang merupakan ancaman dalam waktu dekat.” Di antara target utama operasi tersebut adalah fasilitas komando dan kontrol Korps Garda Revolusi Islam, kemampuan pertahanan udara Iran, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta lapangan udara militer, menurut pernyataan itu.
Kompleks Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga menjadi sasaran operasi tersebut. Pemerintah Iran kemudian mengkonfirmasi bahwa Khamenei syahid dalam serangan itu. Setidaknya 201 orang meninggal dan lebih dari 700 orang terluka di seluruh Iran akibat serangan AS-Israel, menurut Masyarakat Bulan Sabit Merah Iran. Seratus lebih di antara yang syahid adalah siswi di salah satu sekolah putri di Iran.
Sementara, Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) mengatakan pada Ahad bahwa mereka telah menyerang kapal induk USS Abraham Lincoln di Teluk. Balasan ini setelah serangan AS dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut. “Kapal induk AS Abraham Lincoln diserang oleh empat rudal balistik,” kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media lokal. Garda memperingatkan bahwa “darat dan laut akan semakin menjadi kuburan para agresor teroris.”

Kapal induk USS Abraham Lincoln saat berlayar di Selat Hormuz di dekat Iran pada 2019. – (Dok US Navy)
USS Abraham Lincoln adalah salah satu kapal induk bertenaga nuklir Amerika, yang oleh Angkatan Laut disebut sebagai “kapal perang terbesar di dunia.” Kapal ini merupakan sepuluh kapal induk bertenaga nuklir di AS, yang dikenal sebagai kelas Nimitz. Kapal induk kelas Nimitz memiliki panjang 333 meter, dapat mengangkut sekitar 100.000 ton peralatan, termasuk 65 pesawat dan beberapa rudal, menurut Angkatan Laut AS.
USS Abraham Lincoln dikirim ke kawasan Teluk menjelang akhir bulan Januari sebagai bagian dari apa yang oleh Presiden Donald Trump disebut sebagai “armada” yang dipindahkan ke wilayah tersebut “untuk berjaga-jaga” setelah ketegangan meningkat akibat unjuk rasa warga yang marah terhadap perekonomian negara tersebut.
Pernyataan IRGC menambahkan bahwa angkatan bersenjata telah memasuki “fase baru” konflik militer dan operasi di darat dan laut akan ditingkatkan. Pentagon serta Angkatan Laut AS belum menanggapi klaim Iran saat menulis laporan tersebut.





