Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir, yang memicu spekulasi bahwa Iran mungkin akan memboikot Piala Dunia 2026. Isu ini muncul setelah laporan mengenai serangan udara yang dilakukan oleh AS, yang dikabarkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini menjadi titik kritis dalam hubungan diplomatik antara kedua negara tersebut.
Konflik yang sebelumnya terbatas pada sengketa politik dan militer kini berkembang menjadi ancaman langsung terhadap stabilitas regional. Beberapa kota besar di Iran, termasuk Teheran, menjadi target serangan militer gabungan. Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan menyatakan niat untuk melakukan tindakan balasan dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Di sisi lain, Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke berbagai target di negara-negara tetangga seperti Arab Saudi dan Qatar.
Pihak Inggris juga turut campur dalam situasi ini dengan memobilisasi pesawat tempur untuk melindungi sekutu mereka dari ancaman pembalasan Iran. Hal ini menunjukkan bahwa lima negara yang akan berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026 ikut terlibat dalam konflik geopolitik ini. Piala Dunia 2026 sendiri akan diselenggarakan di AS, Kanada, dan Meksiko, dengan Iran sebagai salah satu tim yang telah lolos kualifikasi.
Namun, presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mengisyaratkan kemungkinan penarikan diri negaranya dari kompetisi tersebut. Ia menyatakan bahwa dengan situasi saat ini dan serangan dari AS, bagi Iran sangat sulit untuk bermain di Piala Dunia. Meski demikian, ia menekankan bahwa keputusan akhir ada di tangan para pemimpin olahraga.
Berdasarkan hasil undian Piala Dunia 2026, Iran tergabung di Grup G bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir. Pertandingan pembukaan dijadwalkan berlangsung pada 16 Juni mendatang. Iran akan bermain di Los Angeles dan Seattle, serta berpotensi bertemu tuan rumah di babak 32 besar.
Sementara itu, pimpinan Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tetap optimis bahwa ketegangan geopolitik tidak akan mengganggu penyelenggaraan turnamen. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, menyatakan bahwa pihaknya sedang memantau situasi dengan cermat. “Kami membaca laporan berita seperti orang lain. Kami telah mengadakan pertemuan dan masih terlalu dini untuk berkomentar secara detail,” katanya. Ia menambahkan bahwa fokus utama FIFA adalah memastikan Piala Dunia dapat diselenggarakan dengan aman dan semua tim bisa berpartisipasi.
Jika Iran benar-benar mundur dari Piala Dunia 2026, maka FIFA akan mencari tim pengganti sesuai aturan yang telah ditetapkan. Timnas Irak, yang sedang berpartisipasi dalam babak play-off antarbenua untuk Piala Dunia 2026, kemungkinan besar akan menjadi pengganti. Saat kualifikasi di putaran keempat, Irak finis di atas peringkat Timnas Indonesia. Mereka juga berhasil mengalahkan Uni Emirat Arab di kualifikasi putaran kelima.
Dengan demikian, jika Iran mundur, Irak akan langsung masuk ke Piala Dunia 2026 sebagai penggantinya, sementara Uni Emirat Arab akan menggantikan posisi Irak di babak play-off antarbenua. Hal ini membuat peluang Timnas Indonesia untuk tampil di Piala Dunia tahun ini tampak mustahil.
Menurut laporan media China (163.com), jika Iran gagal lolos ke Piala Dunia, biasanya Irak akan menjadi yang pertama mengisi kekosongan tersebut, dan UEA yang kedua. Dengan situasi ini, Timnas Indonesia hampir tidak memiliki peluang untuk tampil di ajang bergengsi tersebut.





