JAKARTA — Tentara Nasional Indonesia (TNI) terus mempersiapkan pengiriman pasukan perdamaian yang akan dikerahkan ke Jalur Gaza, Palestina. Sampai saat ini, TNI telah menyiapkan rencana pengerahan sebanyak 8.000 personel pasukan perdamaian dari Indonesia, dengan target paling lambat tiba di Gaza pada Juni 2026 mendatang.
Sebanyak 1.000 prajurit pendahulu sudah dalam kondisi siap untuk diberangkatkan pada April 2026. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigadir Jenderal (Brigjen) Donny Pramono menjelaskan bahwa TNI masih menunggu kepastian tanggal keberangkatan tersebut. “Informasi yang kami dapatkan, sampai saat ini belum ada keputusan politik negara mengenai tanggal keberangkatan TNI ke Gaza,” ujar Donny melalui pesan singkat.
Namun, ia menegaskan bahwa TNI dalam kondisi siap untuk ditugaskan ke mana pun. Terkait dengan misi perdamaian ke Gaza, kata Donny, TNI sejak beberapa waktu lalu telah melakukan banyak koordinasi kesiapan terkait misi perdamaian tersebut.
Pada 12 Februari 2026 lalu, TNI telah melakukan rapat penyiapan Satgas Perdamaian dan Kemanusian Indonesia yang digelar di Markas Besar (Mabes). Dari rapat tersebut, TNI baru sampai pada tahap penetapan jumlah pasukan yang disiapkan untuk diberangkatkan.
“Baru sampai tahap menetapkan bahwa pasukan disiapkan dalam format Brigade Komposit berjumlah 8.000 personel,” jelas Donny.
Dari rapat persiapan tersebut, TNI sudah menyusun garis waktu persiapan menunggu perintah menuju keberangkatan. Mulai dari pemeriksaan kesehatan para personel hingga penyiapan segala administrasi yang terjadwal sampai dengan Februari 2026. Gelar kesiapan pasukan juga dijadwalkan dalam Februari 2026.
“Dan sekitar 1.000 personel ditargetkan dalam kondisi siap berangkat pada awal April 2026. Dan seluruh elemen 8.000 personel ditargetkan siap berangkat paling lambat akhir Juni 2026,” ujar Donny.
Donny menegaskan bahwa garis waktu siap berangkat bukan berarti sudah dipastikan berangkat. Melainkan, istilah tersebut merupakan kesiapan para personel yang dalam kondisi benar-benar dapat diberangkatkan sewaktu-waktu. “Namun jadwal keberangkatan, tetap sepenuhnya menunggu keputusan politik negara dan mekanisme internasional yang berlaku,” tambahnya.
Rencana pengerahan pasukan perdamaian dari TNI ke Jalur Gaza, Palestina sudah diusulkan oleh Presiden Prabowo Subianto sejak tahun lalu. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada pekan lalu menyampaikan bahwa rencana Indonesia untuk mengerahkan sedikitnya 8.000 pasukan TNI ke Gaza.
Jumlah tersebut dikatakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo di hadapan Majelis Umum PBB yang menjanjikan untuk mengerahkan sekitar 20 ribu pasukan perdamaian. Otoritas di TNI pun mengatakan sudah menyiapkan prajurit-prajuritnya dari satuan nontempur. TNI menyiapkan pasukan zeni konstruksi, dan dokter militer.
Proses Persiapan Pasukan Perdamaian
Berikut adalah beberapa tahapan yang dilakukan TNI dalam persiapan pasukan perdamaian:
-
Pemeriksaan kesehatan
Seluruh personel yang akan diberangkatkan akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Proses ini bertujuan untuk memastikan kesiapan fisik dan mental para prajurit sebelum diberangkatkan. -
Penyiapan administrasi
TNI juga sedang mempersiapkan segala dokumen dan administrasi yang diperlukan. Hal ini termasuk surat izin, dokumen perjalanan, dan berbagai persyaratan lainnya. -
Gelar kesiapan pasukan
Gelar kesiapan pasukan dijadwalkan dilaksanakan pada bulan Februari 2026. Tujuan dari gelar ini adalah untuk memastikan semua pasukan siap dalam hal latihan, peralatan, dan koordinasi. -
Koordinasi dengan organisasi internasional
TNI juga terus berkoordinasi dengan organisasi internasional seperti PBB untuk memastikan bahwa misi perdamaian dapat berjalan sesuai rencana dan sesuai dengan standar global.
Target Penugasan
TNI memiliki target penugasan sebagai berikut:
- 1.000 prajurit pendahulu akan siap berangkat pada awal April 2026.
- Seluruh elemen 8.000 personel akan siap berangkat paling lambat akhir Juni 2026.
Meskipun garis waktu telah ditentukan, TNI tetap menunggu keputusan politik negara dan mekanisme internasional sebelum pelaksanaan misi dimulai.





