Tokoh Try Sutrisno, Mantan Wakil Presiden Ke-6 yang Sudah Berpulang

Wakil Presiden Ri Ke 6 Try Sutrisno 3
Wakil Presiden Ri Ke 6 Try Sutrisno 3

Kehadiran Jenderal TNI yang Membawa Perubahan

Mantan Wakil Presiden Indonesia ke-6, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin, 2 Maret 2026 sekitar pukul 07.00 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Kabar duka tersebut disampaikan melalui pesan atas nama keluarga dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, serta dikonfirmasi oleh pejabat Kementerian Sekretariat Negara dan Paspampres.

Try Sutrisno wafat pada usia 90 tahun 3 bulan. Sebelumnya, ia sedang menjalani perawatan medis di RSPAD Gatot Soebroto. Kondisinya dilaporkan memburuk pada Senin dini hari sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir. Tim medis RSPAD telah melakukan berbagai tindakan medis yang diperlukan saat kondisi Try menurun. Namun upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkannya. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang salah satu tokoh militer dan politik penting di era Orde Baru.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat, sebelum dimakamkan. Sejumlah tokoh nasional dan kerabat dijadwalkan melayat untuk memberikan penghormatan terakhir.

Profil Singkat Try Sutrisno

Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia ke-6 pada periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto. Ia merupakan wakil presiden ketiga dari kalangan militer selama masa pemerintahan Soeharto yang berlangsung selama 32 tahun.

Karier militernya dimulai sejak 1957 ketika ia terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatra. Ia juga mengikuti pendidikan di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) dan terlibat dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962 di bawah komando Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Komando Mandala.

Karier Try terus menanjak seiring perjalanan waktu. Pada 1974, ia dipercaya menjadi ajudan pribadi Soeharto. Pangkat Letnan Jenderal diraihnya pada 1985 saat menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakil KSAD), sebelum kemudian diangkat menjadi KSAD pada 1986.

Puncak karier militernya terjadi pada 1988 ketika ia ditunjuk sebagai Panglima ABRI menggantikan L.B. Moerdani. Namun masa jabatannya diwarnai sejumlah peristiwa penting, termasuk Insiden Talangsari 1990 dan peristiwa Santa Cruz di Dili pada 1991 yang menuai sorotan internasional.

Setelah mengakhiri jabatan sebagai Panglima ABRI pada Februari 1993, Try terpilih sebagai Wakil Presiden oleh MPR pada 11 Maret 1993. Meski sempat dijagokan melanjutkan masa jabatan pada 1998, ia tidak mencalonkan diri kembali dan posisinya digantikan oleh B. J. Habibie.

Kini, pada 2 Maret 2026, perjalanan hidup Sang Jenderal resmi berakhir, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah militer dan politik Indonesia.

Peran dan Kontribusi dalam Era Orde Baru

Selama masa kepemimpinan Soeharto, Try Sutrisno menjadi bagian dari struktur kekuasaan yang kuat. Sebagai seorang jenderal, ia tidak hanya bertugas dalam bidang militer, tetapi juga memiliki peran penting dalam politik. Karier militernya yang panjang membentuk dasar bagi perannya sebagai Wakil Presiden.

Dalam perannya sebagai Wakil Presiden, ia turut serta dalam pembuatan kebijakan yang memengaruhi arah pemerintahan. Meskipun tidak menjabat secara langsung, kontribusi dan pengaruhnya terasa dalam berbagai aspek kehidupan bangsa.

Jejak Sejarah yang Tak Terlupakan

Jejak perjalanan Try Sutrisno dalam sejarah Indonesia tidak dapat diabaikan. Dari awal karier militernya hingga menjadi Wakil Presiden, setiap langkahnya membawa dampak besar bagi negara. Pengalaman dan keputusan yang diambil selama masa jabatannya menjadi bagian dari sejarah yang akan terkenang.

Peran dan kontribusi yang diberikan oleh Try Sutrisno tidak hanya terlihat dalam bentuk kebijakan, tetapi juga dalam bentuk stabilitas dan keharmonisan di tengah dinamika politik yang kompleks. Kehadirannya sebagai tokoh penting dalam era Orde Baru adalah bukti nyata dari dedikasi dan tanggung jawab yang ia emban.


Pos terkait