Tradisi Bibibi di Probolinggo, Anak-Anak Berkeliling Kampung Dapat Sedekah Malam 27 Ramadan

Tradisi Bibibi, Bentuk Berbagi di Malam Ke-27 Ramadan

Di tengah kekayaan budaya Indonesia, setiap daerah memiliki tradisi khas yang unik dan berbeda. Salah satunya adalah tradisi Bibibi, yang dikenal oleh masyarakat Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Tradisi ini dilaksanakan pada malam ke-27 Ramadan dan menjadi momen paling dinanti oleh anak-anak di sekitar wilayah tersebut.

Apa Itu Tradisi Bibibi?

Bibibi adalah tradisi bersedekah yang dilakukan setiap malam ke-27 Ramadan. Dalam bahasa lokal, tradisi ini juga disebut dengan istilah petolekoran atau dua puluh tujuh-an. Masyarakat mengenalnya sebagai bentuk perayaan kebersamaan dan nilai-nilai sosial yang kuat. Anak-anak berkeliling kampung untuk meminta sedekah kepada warga, baik berupa makanan maupun uang tunai.

Makanan yang biasanya dibagikan antara lain nasi bungkus, kue kering, kue basah, atau minuman ringan. Namun, seiring waktu, banyak warga yang mulai memberikan uang tunai kepada anak-anak yang datang ke rumah mereka. Nominalnya bervariasi, mulai dari Rp2.000 hingga Rp20.000, tergantung kemampuan masing-masing warga.

Asal Usul Nama “Bibibi”

Nama “Bibibi” memiliki cerita tersendiri. Dulu, anak-anak sering memanggil “bibi” kepada ibu-ibu rumah tangga saat meminta sedekah. Panggilan ini berkembang menjadi istilah “Bibibi” yang akhirnya menjadi nama tradisi tersebut. Di samping itu, masyarakat di wilayah pandhalungan juga menyebutnya dengan sebutan petolekoran, yang dalam bahasa Madura artinya “dua puluh tujuh”, merujuk pada malam ke-27 Ramadan.

Tradisi ini diyakini telah ada sejak masa pemerintahan Bupati pertama Probolinggo, Joyolelono. Sejak itu, bibibi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, terutama menjelang akhir bulan suci Ramadan.

Suasana Meriah dan Penuh Keceriaan

Di beberapa desa seperti Kebonagung, Kecamatan Kraksaan, tradisi Bibibi diikuti oleh puluhan anak usia dini hingga remaja. Mereka bergerombol dan menyusuri gang-gang kecil, mendatangi rumah-rumah warga. Biasanya, anak-anak mulai berkumpul sejak siang hari, lalu berjalan bersama mengelilingi lingkungan tempat tinggal mereka.

Setiap tiba di depan rumah warga, mereka akan memanggil penghuni rumah untuk meminta “bibibi”. Warga sudah mengetahui momen ini dan menyiapkan uang pecahan atau makanan untuk dibagikan. Suasana menjadi riuh dengan tawa dan sorak gembira saat anak-anak menerima lembaran rupiah.

Makna Religius dan Nilai Kebersamaan

Secara religius, Bibibi merupakan bentuk sedekah yang sesuai dengan ajaran Islam. Di bulan Ramadan, sedekah menjadi salah satu amalan utama yang dianjurkan. Tradisi ini juga dimaknai sebagai sambutan atas malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh makna dalam ajaran agama Islam.

Dalam tulisan Kompasiana, disebutkan bahwa Bibibi menjadi perpaduan antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam. Warga meyakini bahwa kegiatan ini membawa keberkahan serta mempererat silaturahmi antar warga. Selain itu, Bibibi juga menjadi sarana pendidikan sosial bagi anak-anak. Mereka belajar tentang berbagi, kebersamaan, serta merasakan kegembiraan dalam kesederhanaan.

Meski di beberapa wilayah tradisi ini mulai berkurang seiring perkembangan zaman, di sejumlah desa di Probolinggo, Bibibi tetap dijaga sebagai warisan budaya yang sarat makna. Bagi masyarakat setempat, Bibibi bukan sekadar berbagi uang atau makanan. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi simbol kebahagiaan anak-anak dan wujud kepedulian sosial di penghujung Ramadan.

Pos terkait