.CO.ID – JAKARTA.
Program pengadaan truk untuk Koperasi Desa Merah Putih telah menjadi faktor utama yang memicu lonjakan permintaan terhadap light duty truck (LDT) hingga mencapai 80.000 unit. Angka ini jauh melampaui rata-rata pasar truk nasional yang biasanya berkisar pada 60.000 unit per tahun. Lonjakan permintaan ini menimbulkan tekanan signifikan terhadap kapasitas produksi pabrikan.
Wibowo Santoso, Head of Supply Chain and Marketing Communication (SCMC) Division PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan datang secara mendadak dan bahkan membuat prinsipal di Jepang terkejut. “Satu tahun market kita paling 60 ribu semua merek. Ini tiba-tiba minta 80 ribu,” ujarnya saat ditemui di dealer Hino, Jakarta Timur, Jumat (27/2/2026).
Menurut Wibowo, penyesuaian produksi tidak bisa dilakukan secara instan karena melibatkan rantai pasok yang kompleks antara komponen lokal dan impor. “Komponen kita sekitar 45% lokal dan 55% dari luar. Semuanya harus sinkron,” katanya.
Butuh Waktu Naikkan Kapasitas
Untuk menaikkan kapasitas produksi secara ideal, diperlukan waktu persiapan hingga dua tahun. Proses tersebut mencakup kesiapan pemasok lokal hingga penambahan dan pelatihan tenaga kerja. “Cari orang dulu, dididik dan di-training, baru bisa kerja,” ujarnya.
Awalnya, target pengadaan 80.000 unit ditetapkan rampung pada Maret 2026. Namun pemerintah kemudian melonggarkan tenggat waktu hingga Desember 2026 setelah mempertimbangkan kapasitas produksi seluruh pabrikan. “Kami semua diundang, bahkan mereka minta tolong ayo support program pemerintah. Awalnya Maret harus sudah selesai 80 ribu. Akhirnya mereka me-review, dibuka waktu sampai Desember untuk semua merek,” kata Wibowo.
Porsi Pasokan Tiap Merek
Dalam proyek ini, PT Agrinas Pangan Nusantara membutuhkan sekitar 80.000 unit LDT. Hino menjadi salah satu produsen yang merakit lokal untuk memasok 10.000 unit. Merek lain yang terlibat antara lain: Mitsubishi Fuso (20.600 unit), Foton (13.500 unit), dan Isuzu (900 unit). Sementara itu, Agrinas juga mengimpor 35.000 unit light truck dari Tata Motors.
HMSI menyatakan dukungan penuh terhadap program pemerintah melalui penyediaan 10.000 unit truk ringan tipe 136HD (4×2).
Dampak ke Konsumen Retail
Namun, fokus produksi ke proyek ini berdampak pada konsumen ritel. “Waktu tunggunya jadi lebih lama, bisa 4–5 bulan. Biasanya satu sampai dua bulan,” kata Wibowo. Ia mengakui terdapat gangguan distribusi ke konsumen reguler, tetapi menegaskan langkah tersebut diambil untuk mendukung program strategis pemerintah.
“Inilah program pemerintah yang sangat baik untuk mendukung kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Menurutnya, peningkatan produksi tetap dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan pemasok, tenaga kerja, serta kapasitas pabrik. “Untuk naik sekonyong-konyong itu butuh waktu secara gradual. Delivery pelan-pelan. Untuk kami memaksimalkan total kapasitas produksi itu kita harus persiapkan bahan baku, kita punya supplier-supplier,” jelasnya.





