Trump Ajak Dialog Iran, Larijani: Kami Tak Akan Berunding dengan AS

Khamenei Trump 7
Khamenei Trump 7

Penolakan Iran terhadap Negosiasi Nuklir dengan Amerika Serikat

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menolak keras klaim yang menyebut dirinya mendukung dimulainya kembali perundingan nuklir dengan Washington. Dalam pernyataannya di media sosial, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan melakukan negosiasi dengan pihak Amerika Serikat.

Larijani juga mengkritik kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan menuduh bahwa Trump telah mengkhianati slogan kampanyenya sendiri. Ia menyebut bahwa Trump mengganti “America First” menjadi “Israel First”. Menurutnya, kebijakan tersebut telah membawa Timur Tengah ke dalam kekacauan dan mempertaruhkan nyawa tentara Amerika demi ambisi Israel.

“Tentara Amerika dan keluarga mereka yang akan membayar harganya,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa Iran akan tetap mempertahankan diri dari ancaman luar. Pernyataan ini muncul setelah serangkaian pemboman intensif oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang dilaporkan bertujuan untuk menggulingkan rezim pemerintahan Teheran. Di balas, Iran melancarkan serangan rudal ke berbagai target.

Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam gelombang serangan awal. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, menyebut ratusan warga sipil tewas atau terluka akibat serangan tersebut dan menuduh bahwa target sipil sengaja dibidik. Media pemerintah Iran melaporkan 165 orang tewas dalam pemboman sebuah sekolah dasar putri di Minab. Sementara itu, laporan di AS menyebut CIA telah melacak pergerakan Khamenei selama beberapa bulan sebelum serangan terjadi.

Dari pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji akan meningkatkan intensitas serangan. “Pasukan kami kini menyerang jantung Teheran dengan kekuatan besar, dan ini hanya akan meningkat,” katanya. Trump mengklaim bahwa 48 pemimpin Iran tewas dalam dua hari pertama pemboman dan menyebut sembilan kapal perang Iran telah ditenggelamkan.

Dampak Global dari Konflik Timur Tengah

Dampak langsung dari konflik ini terasa secara global. Harga minyak Brent melonjak 10 persen hingga menyentuh 80 dolar AS per barel, dengan prediksi bisa menembus 100 dolar AS jika konflik berlanjut. Ketegangan memuncak di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Serangan terhadap dua kapal tanker memicu kepanikan. Sekitar 150 kapal memilih berlabuh dan tidak melintas.

Perusahaan pelayaran besar seperti MSC dan Maersk menghentikan sementara operasional di kawasan tersebut. Perusahaan asuransi memperingatkan premi kapal bisa melonjak hingga 50 persen karena meningkatnya risiko blokade. Iran bahkan menyatakan selat tersebut ditutup oleh Garda Revolusi. Jika blokade penuh terjadi, dampaknya akan sangat berat bagi negara-negara seperti Kuwait dan Arab Saudi yang bergantung pada jalur ekspor tersebut.

Iran Menolak Tunduk, Trump Siap Berbicara

Meski demikian, Trump mengatakan terbuka untuk berbicara dengan para pemimpin Iran yang masih hidup dan baru ditunjuk. “Mereka ingin berbicara, dan saya telah setuju untuk berbicara,” ujarnya kepada majalah The Atlantic, seraya menambahkan bahwa Iran “seharusnya melakukannya lebih cepat”.

Namun di Teheran, sinyalnya berbeda. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Trump dan Netanyahu telah “melewati garis merah” dan “akan membayar harga”. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengumumkan dewan kepemimpinan sementara mengambil alih tugas pemimpin tertinggi hingga pengganti Khamenei dipilih. Proses pemilihan disebut akan dipercepat karena situasi perang.

Pos terkait