Presiden AS Donald Trump Mengunggah Pidato Terkait Operasi Militer terhadap Iran
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menjadi sorotan dunia. Pada Senin (2/3/2026), ia mengunggah video pidato terbarunya melalui media sosial miliknya, Truth Social, terkait serangan militer terhadap Iran. Dalam pidato tersebut, Trump membeberkan lima tujuan utama di balik operasi perang yang diberi nama ‘Epic Fury’, yang mulai dijalankan sejak Sabtu (28/2/2026).
Operasi ini disebutnya sebagai langkah strategis demi menjaga kepentingan nasional Amerika Serikat. Pidato tersebut memuat pernyataan keras, mulai dari dalih melindungi rakyat Amerika hingga seruan perubahan rezim di Iran. Trump menegaskan bahwa langkah militer yang diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai respons atas situasi yang menurutnya mengancam stabilitas dan keamanan global. Ia juga menekankan bahwa pemerintahannya tidak akan ragu mengambil tindakan tegas jika kepentingan Amerika dinilai berada dalam bahaya.
Berikut lima poin utama yang disampaikan Trump dalam pidatonya:

-
Melindungi Rakyat Amerika
Trump menegaskan bahwa operasi militer dilakukan demi melindungi warga negaranya dari ancaman Iran. Ia menyebut rezim Iran sebagai kelompok yang berbahaya dan mengancam keamanan nasional AS. “Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman nyata dari rezim Iran,” tegas Trump dalam pidatonya. -
Menghancurkan Kemampuan Militer Iran
Dalam pidato tersebut, Trump menyampaikan komitmen untuk menghancurkan infrastruktur militer Iran, khususnya sektor persenjataan. Pernyataan itu mengindikasikan operasi militer tidak hanya bersifat terbatas, tetapi menyasar kemampuan pertahanan strategis Iran. “Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka ke tanah. Semuanya akan dilenyapkan sepenuhnya. Kami akan memusnahkan angkatan laut mereka,” ujarnya. -
Mencegah Iran Memiliki Senjata Nuklir
Trump juga menjadikan isu program nuklir Iran sebagai alasan penyerangan. Isu nuklir selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan utama antara Washington dan Teheran di berbagai forum internasional. “Ini adalah pesan yang sangat sederhana: mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya. -
Menghentikan Proksi Teroris
Trump juga menyebut keberadaan kelompok proksi Iran di kawasan Timur Tengah sebagai ancaman bagi stabilitas regional maupun global. Pernyataan tersebut merujuk pada kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini dituding memiliki kedekatan dengan pemerintah Iran. “Kami akan memastikan bahwa proksi teroris di kawasan tersebut tidak lagi dapat mengguncang stabilitas kawasan atau dunia dan menyerang pasukan kami,” ujarnya. -
Seruan Perubahan Rezim
Dalam pidato itu, Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka. “Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian untuk diambil. Ini mungkin akan menjadi satu-satunya kesempatan kalian selama beberapa generasi,” kata Trump. Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa tujuan operasi militer tidak hanya terbatas pada isu keamanan, melainkan juga menyentuh aspek politik dalam negeri Iran.
Terlebih, serangan AS bersama Israel telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Hingga kini, situasi di Timur Tengah masih berkembang dan memicu kekhawatiran komunitas internasional akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan pernyataan resmi terbaru terkait isi pidato tersebut.
Konflik Bisa Berlangsung Sampai Lebaran
Sebelumnya, Trump mengatakan, perang melawan Iran bisa berlangsung sampai setidaknya selama 4 minggu. Sejak serangan pertama pada pekan kedua Ramadan, Sabtu (28/2/2026), artinya konflik bersenjata itu bisa berlangsung sampai momen Lebaran, yang diperkirakan akan jatuh pada Jumat (20/3/2026). Serangan rudal AS bersama Israel yang menyasar Teheran pada Sabtu lalu dinilai tak menghormati umat Muslim karena dilakukan saat bulan suci Ramadan.
Masyarakat Iran yang mayoritas Muslim sedang khidmat beribadah pada momen yang hanya sebulan dalam setahun itu. Jika perhitungan Trump terjadi, lagi-lagi, momen berharga umat Muslim, hari raya Idulfitri yang seharusnya menjadi ajang saling memaafkan dan berkumpul keluarga, akan diselimuti suasana mencekam perang.
“Prosesnya selalu memakan waktu empat minggu. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat minggu. Prosesnya selalu sekitar empat minggu, jadi sekalipun negara ini kuat dan luas, akan memakan waktu empat minggu atau kurang,” kata Trump kepada Daily Mail, Minggu (1/3/2026). Trump mengaku terbuka dengan kemungkinan perundingan dengan Iran, namun tidak dalam waktu dekat. “Mereka ingin, mereka ingin bicara, tapi aku sudah bilang seharusnya kalian bicara minggu lalu, bukan minggu ini,” lanjut Trump.
Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran
Diberitakan sebelumnya, serangan gabungan AS dan Israel menumbangkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Wafatnya Khamenei disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, IRIB, dan media pemerintah Iran, IRNA, pada Minggu pagi (1/3/2026) waktu Iran. Pemerintah juga telah menetapkan 40 hari berkabung. Tidak ada penjelasan lebih lanjut soal kabar duka tersebut. Khamenei hanya disebutkan wafat pada Sabtu pagi (28/2/2026). “Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, gugur sebagai syahid setelah serangan yang dilakukan oleh rezim Zionis dan Amerika Serikat pada Sabtu pagi. Kabinet telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta libur nasional selama 7 hari menyusul gugurnya Pemimpin Revolusi tersebut,” dikutip dari IRNA.





