Perang di Timur Tengah dan Dampaknya terhadap Harga Minyak Dunia
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa operasi militer AS terhadap Iran bisa berlangsung dalam waktu empat pekan atau kurang. Ia juga mengakui bahwa konsekuensi dari perang tersebut akan berdampak pada korban jiwa dari pihak militer AS.
“Prosesnya selalu memakan waktu empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan. Prosesnya selalu sekitar empat pekan, jadi sekuat apa pun negara ini, akan memakan waktu empat pekan atau kurang,” ujar Trump dalam sebuah wawancara.
Iran ingin memulai perundingan setelah operasi AS, kata Trump, seraya menambahkan bahwa Teheran “seharusnya berbicara pekan lalu, bukan pekan ini.”
Pada Sabtu pekan lalu, AS dan Israel melakukan serangkaian serangan terhadap target di dalam Iran, termasuk di Teheran, dengan laporan kerusakan dan korban sipil. Iran menanggapi dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Iran juga melakukan blokade terhadap Selat Hormuz yang merupakan titik vital distribusi minyak dunia. Tak hanya itu, Iran pun menyerang sejumlah fasilitas produksi minyak di negara Teluk.
Dampak terhadap Harga Minyak Dunia
Harga minyak melonjak tajam dan saham-saham melemah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan terhadap instalasi militer Israel dan AS di Timur Tengah mengganggu rantai pasok energi global.
West Texas Intermediate, minyak mentah ringan dan manis yang diproduksi di AS, diperdagangkan pada harga 72,79 dolar AS per barel pada awal perdagangan Senin, naik 8,6 persen dari sekitar 67 dolar AS pada Jumat, menurut data CME Group.
Minyak mentah Brent, yang menjadi standar internasional, diperdagangkan pada harga 79,41 dolar AS per barel pada awal perdagangan Senin, naik 9 persen dari harga 72,87 dolar AS pada Jumat, sekaligus mencatat level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, menurut FactSet.
Para pedagang memperkirakan pasokan minyak dari Iran dan wilayah lain di Timur Tengah akan melambat atau bahkan terhenti, setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa serangan akan terus berlanjut hingga tujuan AS tercapai.
Prediksi Harga Minyak oleh Pakar Energi
Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memprediksi harga minyak dunia bisa naik hingga 100 dolar AS per barel dari kisaran 72 dolar AS per barel dengan skenario penutupan Selat Hormuz.
“Jika ditutup saat ini, besok lusa bisa langsung mencapai 90–100 dolar AS per barel,” ujar Yayan di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, terletak di antara Oman dan Iran, serta menjadi rute utama perdagangan energi global. Di selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebelum dikirim ke pasar internasional.
Dengan demikian, dia menyampaikan Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak akan naik hingga 50 persen,” ucapnya.
Oleh karena itu, Yayan menyampaikan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) tak dapat dipungkiri bagi Indonesia yang mengimpor minyak dari wilayah Timur Tengah. Tanpa penutupan Selat Hormuz pun, lanjut dia, konflik yang saat ini berlangsung di Timur Tengah bisa meningkatkan harga minyak di kisaran 10–25 persen.
Langkah Mitigasi Pemerintah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Hal ini seiring kemungkinan terganggunya pasokan minyak global.
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut dipengaruhi potensi gangguan pada jalur distribusi energi strategis, termasuk Selat Hormuz dan kawasan Laut Merah.
“Otomatis akan naik seperti saat perang Ukraina. Namun, kali ini suplai dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC meningkatkan kapasitasnya,” kata Airlangga di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, konflik yang berlangsung berkepanjangan akan berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia. Gangguan tidak hanya terjadi pada produksi, tetapi juga pada jalur transportasi yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global.
Pemerintah menyiapkan langkah mitigasi dengan memperluas sumber pasokan dari luar kawasan Timur Tengah. Diversifikasi tersebut dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Pemerintah sudah memiliki MoU untuk mendapatkan suplai dari kawasan non-Timur Tengah. Misalnya, Pertamina telah menjalin kerja sama dengan perusahaan di Amerika, seperti Chevron, Exxon, dan mitra lainnya,” ujarnya.
Airlangga menambahkan pemerintah terus memantau perkembangan konflik dan dinamika pasar energi internasional untuk menentukan langkah lanjutan. Opsi impor akan disesuaikan dengan ketersediaan pasokan serta harga yang paling kompetitif.
“Kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor,” katanya.
Ia juga mengingatkan dampak konflik tidak hanya terbatas pada sektor energi. Gangguan logistik, transportasi, dan sektor pariwisata berpotensi menekan aktivitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Pengendara mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite di SPBU di kawasan Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (13/5/2024). – (/Thoudy Badai)

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melaksanakan penandatanganan dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) di USTR. – (Kemenko Perekonomian)





