Trump siapkan tarif baru, Jepang minta AS jaga komitmen dagang

Aa1wwimo
Aa1wwimo



JAKARTA — Menteri Perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, menyampaikan peringatan terkait kebijakan tarif baru yang diambil oleh Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa posisi Jepang tidak boleh semakin merugikan dibandingkan dengan kesepakatan dagang sebelumnya, mengingat ancaman tarif tambahan dari Presiden Donald Trump.

Pernyataan tersebut disampaikan Akazawa dalam pembicaraan via telepon dengan Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, pada Senin (23/2/2026). Dalam percakapan tersebut, kedua pihak sepakat untuk bekerja sama secara erat agar proyek-proyek yang termasuk dalam mekanisme investasi senilai US$550 miliar dapat berjalan cepat dan lancar.

Dalam diskusi itu, Akazawa menegaskan bahwa pemerintah AS harus memastikan bahwa kebijakan tarif baru tidak mengurangi keuntungan Jepang dibandingkan kesepakatan sebelumnya. Dalam perjanjian tersebut, Jepang setuju untuk membentuk kendaraan investasi senilai US$550 miliar, sementara AS menurunkan tarif impor mobil dari Jepang menjadi 15% dari sebelumnya 27,5%.

Perlu dicatat bahwa ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan AS masih terus berlangsung, hampir setahun setelah Trump mulai mengancam penerapan berbagai level bea masuk setelah kembali menjabat pada Januari 2025. Setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif resiprokal yang diusulkan Trump karena melanggar hukum, pemerintahan AS tetap memberlakukan tarif 10%. Namun, Trump kemudian kembali mengancam akan menaikkan tarif tersebut menjadi 15%.

Secara umum, dinamika terbaru dari Gedung Putih dinilai tidak langsung memperburuk kondisi Jepang, mengingat produk-produk Jepang sebelumnya telah dikenakan tarif impor AS sebesar 15%. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, dalam konferensi pers rutin pada Selasa menyatakan bahwa pihaknya akan terus berupaya menjalankan kesepakatan dagang secara konsisten dan pasti, serta mendorong AS melakukan hal yang sama.

Dia menambahkan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan dan dampaknya terhadap perjanjian dagang yang sudah ada. Gelombang awal proyek investasi yang diumumkan Trump pekan lalu mencakup pembangunan infrastruktur data, terminal minyak laut dalam, serta fasilitas produksi berlian sintetis untuk kebutuhan semikonduktor. Semua proyek tersebut berlokasi di AS.

Dalam pernyataan resmi, kedua pihak menegaskan kembali komitmen mereka untuk melaksanakan kesepakatan dagang yang telah disepakati secara cepat dan dengan itikad baik.

Sementara itu, mantan Menteri Pertahanan Jepang, Itsunori Onodera, yang kini menjabat sebagai ketua kelompok riset pajak partai berkuasa, menyebut situasi tarif di AS sebagai kekacauan nyata dalam siaran langsung di Fuji TV pada Minggu. Meskipun demikian, dia menepis kemungkinan Jepang akan membuka kembali negosiasi perjanjian dagang tersebut.

Menurut Onodera, inti perundingan tahun lalu adalah penurunan tarif mobil, yang merupakan komoditas ekspor terbesar Jepang sekaligus penopang utama lapangan kerja dan investasi. Ia menekankan bahwa bagi Jepang, prioritas utama saat itu adalah sektor otomotif. Tarif mobil tidak tercakup dalam putusan Mahkamah Agung tersebut. Oleh karena itu, ia menilai tidak baik jika dampaknya justru meluas karena kita mencoba merundingkan ulang perjanjian.

Onodera menambahkan bahwa setiap upaya renegosiasi akan memerlukan pembahasan yang menyeluruh dan hati-hati.

Pos terkait