Presiden AS dan Pemimpin Israel Tegaskan Lanjutkan Operasi Militer terhadap Iran
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengklaim bahwa operasi tempur terhadap Iran akan terus berlanjut hingga tujuan yang ditetapkan tercapai. Meskipun serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel telah menewaskan beberapa tokoh penting di Iran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, Trump tetap bersikeras bahwa pihaknya tidak akan menghentikan tindakan militer.
Menurut pernyataan Trump, operasi militer sedang berlangsung dengan kekuatan penuh dan akan terus berlanjut hingga semua tujuan tercapai. Ia juga menyatakan bahwa dirinya siap berbicara dengan Iran, meskipun saat ini belum ada bukti yang jelas bahwa Iran sedang mengembangkan rudal jarak jauh atau senjata nuklir. Iran sendiri telah lama membantah klaim tersebut, sementara para ahli menilai bahwa jika memang sedang mengembangkan senjata nuklir, prosesnya masih membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Trump juga merujuk pada tiga personel militer AS yang tewas dalam serangan balasan dari Iran. Ia menekankan bahwa tindakan militer yang dilakukan oleh AS dan Israel berjalan lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan sebelumnya. Serangan hari Sabtu (28/2/2026) yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi Iran menjadi salah satu titik kritis dalam konflik ini.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menegaskan bahwa serangan ke jantung Teheran akan terus meningkat. Dalam pernyataannya, ia menyebut hari-hari ini sebagai “hari yang menyakitkan” bagi Israel, namun berjanji untuk menghancurkan pemerintah Iran secara meyakinkan. Netanyahu menyatakan bahwa kombinasi kekuatan militer yang dimiliki Israel memungkinkan mereka melakukan serangan terhadap rezim teror secara tegas.
Namun, pihak Iran memberikan klaim berbeda. Melalui kantor berita Tasnim, IRGC menyebut bahwa serangan presisi mereka ke Tel Aviv dan Haifa telah memaksa para pejabat senior Israel, termasuk Netanyahu, bersembunyi di bunker-bunker bawah tanah. Iran juga mengklaim bahwa serangan mereka merupakan balasan atas agresi dua hari terakhir yang menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk 145 anak-anak akibat serangan di sebuah sekolah dasar di Provinsi Hormozgan.
Konflik ini terjadi di tengah pembicaraan nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington di Jenewa yang dimediasi oleh Oman. Meskipun pembicaraan pada Kamis lalu sempat menunjukkan “kemajuan signifikan”, upaya diplomasi tersebut kini terancam buntu akibat intensitas tindakan militer di lapangan. Serangan-serangan yang terjadi juga mulai mengganggu jalur pengiriman minyak dan pusat penerbangan regional.
Tantangan dalam Negosiasi Nuklir
Negosiasi nuklir antara Iran dan AS terancam gagal akibat eskalasi militer yang terjadi belakangan ini. Meskipun kedua pihak sebelumnya berupaya mencapai kesepakatan, situasi yang muncul akibat serangan dan balasan serangan membuat komunikasi semakin sulit. Iran menolak untuk kembali berunding selama operasi militer terus berlangsung, sementara AS dan Israel tetap bersikeras bahwa tindakan mereka adalah bagian dari strategi yang diperlukan untuk menjaga keamanan negara.
Pihak Iran juga menuduh AS dan Israel melakukan serangan yang tidak proporsional dan melanggar prinsip-prinsip internasional. Namun, pihak AS dan Israel berargumen bahwa tindakan mereka adalah bentuk pertahanan diri terhadap ancaman yang terus-menerus datang dari Iran.
Dengan situasi yang semakin memburuk, dunia internasional mulai khawatir tentang potensi konflik yang lebih besar. Banyak ahli memperingatkan bahwa jika konflik ini tidak segera diatasi, dampaknya bisa sangat luas, termasuk gangguan terhadap stabilitas ekonomi global dan risiko kemanusiaan yang besar.





