Tujuan Operasi Epic Fury Terungkap, Trump Minta Perubahan Rezim Iran

107492997 054794500 1 1
107492997 054794500 1 1

Presiden AS Mengungkap Tujuan Operasi Militer ‘Epic Fury’ terhadap Iran

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara terbuka mengungkapkan tujuan dari operasi militer bertajuk ‘Epic Fury’ yang diluncurkan terhadap Iran. Dalam pidato yang diunggah di media sosial Truth Social pada Senin (2/3/2026), Trump menyatakan bahwa operasi tersebut diperkirakan akan berlangsung selama empat minggu.

“Prosesnya selalu memakan waktu empat minggu. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat minggu,” ujarnya. Ia menambahkan, “Prosesnya selalu sekitar empat minggu, jadi meskipun negara ini kuat dan luas, akan memakan waktu empat minggu atau kurang.”

Lima Tujuan Utama Operasi ‘Epic Fury’

Dalam pidatonya, Trump menjelaskan lima tujuan utama di balik operasi ‘Epic Fury’. Pertama, melindungi rakyat Amerika dari ancaman nyata yang berasal dari rezim Iran. “Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman nyata dari rezim Iran,” tegasnya.

Kedua, menghancurkan kemampuan militer Iran, khususnya sektor persenjataan strategis. “Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka ke tanah. Semuanya akan dilenyapkan sepenuhnya. Kami akan memusnahkan angkatan laut mereka,” ujar Trump.

Ketiga, memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir. “Ini adalah pesan yang sangat sederhana: mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata Trump.

Keempat, menghentikan kelompok proksi yang disebutnya sebagai ancaman stabilitas kawasan. “Kami akan memastikan bahwa proksi teroris di kawasan tersebut tidak lagi dapat mengguncang stabilitas kawasan atau dunia dan menyerang pasukan kami,” ucapnya.

Kelima, yang paling menyita perhatian, adalah seruan perubahan rezim. “Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian untuk diambil. Ini mungkin akan menjadi satu-satunya kesempatan kalian selama beberapa generasi,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa operasi militer tidak hanya menyasar isu keamanan dan nuklir, tetapi juga menyentuh aspek politik dalam negeri Iran.

Khamenei Gugur dalam Serangan Gabungan AS dan Israel

Sebelumnya, serangan gabungan antara AS dan Israel dilaporkan menewarkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kabar wafatnya Khamenei disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), serta kantor berita resmi Islamic Republic News Agency (IRNA), pada Minggu pagi (1/3/2026) waktu setempat.

Dalam siarannya, pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan libur nasional tujuh hari. “Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, gugur sebagai syahid setelah serangan yang dilakukan oleh rezim Zionis dan Amerika Serikat pada Sabtu pagi,” demikian laporan IRNA.

Hingga kini, situasi di kawasan Timur Tengah masih berkembang dan memicu kekhawatiran komunitas internasional akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan pernyataan resmi terbaru terkait isi pidato Trump tersebut.

Perjalanan Diplomasi dan Peluang Perundingan

Trump mengaku tetap membuka peluang perundingan, namun menilai Iran terlambat mengambil langkah diplomasi. “Mereka ingin bicara, tapi aku sudah bilang seharusnya kalian bicara minggu lalu, bukan minggu ini,” pungkasnya.




Pos terkait