Turun 22%, Bagaimana Perkembangan Harga Bitcoin di Kuartal I 2026?

Aa1vybok 1
Aa1vybok 1

Pergerakan Harga Bitcoin di Awal Tahun 2026



Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi signifikan pada dua bulan pertama tahun 2026. Berdasarkan data dari Coin Market Cap, harga BTC pada pukul 13.31 WIB, Minggu (22/2/2026), berada di level US$ 68.093, turun sebesar 22,06% secara year to date (ytd). Hal ini menunjukkan adanya tekanan yang cukup besar terhadap aset kripto utama tersebut.

Sentimen Pasar dan Indikator Psikologis

Menurut analisis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menyatakan bahwa risiko volatilitas Bitcoin di kuartal I-2026 masih tinggi. Hal ini dapat dilihat dari indikator psikologis seperti Fear & Greed Index yang berada di area extreme fear, serta peningkatan tren pencarian Google dengan kata kunci seperti “Bitcoin going to zero”.

“Lonjakan pencarian bernada negatif biasanya muncul saat pasar sedang dalam fase ketakutan yang dalam,” ujar Fyqieh. Menurutnya, pergerakan Bitcoin ke depan sangat dipengaruhi oleh kombinasi tekanan makro jangka pendek dan katalis struktural jangka panjang.

Pengaruh Kebijakan Moneter AS

Fyqieh menjelaskan bahwa sentimen utama saat ini berasal dari kebijakan moneter AS. Jika figur The Fed yang cenderung hawkish memperkuat ekspektasi suku bunga “lebih tinggi lebih lama”, maka dolar dan real yield berpotensi tetap kuat. Kondisi ini biasanya menekan aset berisiko seperti Bitcoin, sehingga momentum kenaikan dalam waktu dekat cenderung tertahan.

Regulasi sebagai Katalis Positif

Di sisi lain, regulasi mulai menjadi perhatian karena berpotensi menjadi katalis positif. Misalnya, wacana CLARITY Act dapat memberi kepastian hukum yang lebih jelas bagi industri kripto di AS dan membuka jalan bagi adopsi institusional yang lebih besar. Namun, efek regulasi ini tidak instan dan lebih terasa sebagai dukungan jangka menengah.

Divergensi Antara Holder

Dari sisi sentimen pasar dan data on-chain, terlihat adanya divergensi antar kelompok holder. Wallet kecil (0,1–1 BTC) cenderung bertambah, menandakan ritel masih melakukan akumulasi ketika harga melemah. Sebaliknya, kelompok 1–10 BTC justru berkurang dan berada di level rendah, yang mengindikasikan belum adanya keyakinan kuat dari holder “kelas menengah” yang biasanya membantu mendorong tren naik lebih berkelanjutan.

Divergensi ini sering berujung pada fase konsolidasi: akumulasi ritel bisa membentuk semacam “lantai” harga, tetapi tanpa partisipasi yang lebih kuat dari kelompok 1–10 BTC, potensi kenaikan tajam cenderung terbatas dan harga lebih mungkin bergerak dalam rentang (range-bound) sambil menunggu pemicu baru.

Dinamika Pemilu Paruh Waktu di AS

Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin melihat tahun 2026 sebagai tahun pemilu paruh waktu (midterm) di AS yang berpotensi memperpanjang volatilitas. Secara historis, tahun midterm kerap diwarnai koreksi rata-rata sekitar 18% pada S&P 500 sebelum akhirnya mengalami pemulihan setelah pemilu. Dinamika ini dapat turut memengaruhi aset berisiko secara global, termasuk kripto.

Indikator Fundamental dan Pertumbuhan Adopsi

Meski demikian, Fahmi menilai sejumlah indikator fundamental industri tetap menunjukkan penguatan. Contohnya, BlackRock telah memperbarui proposal ETF Ethereum spot untuk menyertakan fitur staking, yang berpotensi membuka akses imbal hasil bagi investor tradisional melalui infrastruktur teregulasi. Di sisi lain, pertumbuhan adopsi Real World Assets (RWA), khususnya di jaringan Ethereum, terus berkembang dan berpotensi meningkatkan permintaan aset kripto secara struktural.

Selektivitas dalam Fase Konsolidasi

Fahmi menambahkan bahwa dalam fase seperti ini, selektivitas menjadi faktor kunci. Aset dengan likuiditas besar, distribusi volume yang sehat, dan dukungan fundamental yang jelas memiliki peluang bertahan lebih tinggi. Fase konsolidasi panjang sering kali menjadi periode pembentukan fondasi sebelum siklus berikutnya.

Proyeksi Harga Bitcoin di Kuartal I-2026

Dengan tekanan harga yang masih berlangsung dan dinamika makro global yang belum sepenuhnya stabil, Fahmi menilai pergerakan Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan sentimen global terhadap aset berisiko.

Fyqieh memproyeksikan dalam skenario yang lebih optimistis, harga Bitcoin pada kuartal I – 2026 berpeluang bergerak naik secara bertahap jika sentimen pasar membaik, arah regulasi semakin jelas, dan likuiditas mulai kembali masuk ke aset berisiko. Dengan kombinasi faktor tersebut, area US$ 70.000–US$ 75.000 bisa menjadi target pengujian ulang yang realistis, terutama jika tekanan makro mulai mereda dan minat institusional kembali menguat.

Pos terkait