Ukraina Serang Gudang Senjata Rusia dengan Rudal Flamingo di Volgograd

Aa1wi0mc
Aa1wi0mc



Militer Ukraina mengklaim telah menggunakan rudal jelajah FP-5 “Flamingo” untuk menyerang salah satu gudang amunisi terbesar milik militer Rusia di wilayah Volgograd, sekitar 450 kilometer dari garis depan. Informasi ini dikonfirmasi oleh Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina.

Serangan tersebut dilaporkan terjadi pada sebuah depot militer yang terletak di dekat desa Kotluban. Fasilitas ini dikaitkan dengan Direktorat Utama Rudal dan Artileri (GRAU) Kementerian Pertahanan Federasi Rusia. Menurut laporan Kyiv, rudal-rudal tersebut berhasil menghancurkan gudang senjata yang menjadi bagian dari unit 57229/51.

Staf Umum Ukraina menyebutkan bahwa ledakan kuat tercatat di lokasi tersebut, disusul oleh detonasi sekunder. Hal ini mengindikasikan kemungkinan terbakarnya amunisi yang tersimpan di dalam gudang.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi adanya serangan, tetapi menyatakan bahwa lima rudal berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara mereka. Meski demikian, otoritas regional seperti gubernur wilayah Volgograd juga membenarkan bahwa gudang militer tersebut memang terkena serangan. Namun, dampak penuh dari serangan masih belum dirinci secara resmi oleh Moskow.

Banyak rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan peluncuran enam rudal FP-5 “Flamingo” menuju pangkalan amunisi dekat Kotluban. Materi tersebut dibagikan oleh akun @DenShtilierman di platform X.

Rudal Flamingo: Jangkauan Lebih Dari 3.000 KM

Konfirmasi publik pertama tentang penggunaan rudal jelajah Flamingo oleh Ukraina terjadi pada akhir Agustus 2025, ketika sebuah target Rusia dihancurkan menggunakan senjata baru tersebut.

Menurut informasi yang tersedia, rudal ini membawa hulu ledak penetrasi dengan berat sekitar 1.150 kg. Perusahaan pengembangnya sedang mengerjakan varian dengan berbagai jenis hulu ledak, guna memperluas kemampuan operasional senjata tersebut.

Jangkauan yang diumumkan untuk Flamingo melebihi 3.000 kilometer, sehingga secara signifikan meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh strategis Ukraina. Rudal ini dibuat dari material komposit, mampu mencapai kecepatan maksimum hingga 950 km/jam dan, menurut Kyiv, memiliki perlindungan terhadap sistem peperangan elektronik Rusia.

Selain gudang senjata di Volgograd, rudal Flamingo juga dilaporkan digunakan untuk menyerang lapangan pelatihan Kapustin Yar, yang menurut otoritas Ukraina menjadi lokasi peluncuran rudal Oreshnik ke wilayah Ukraina.

Teknologi dan Kemampuan Rudal Flamingo

Rudal FP-5 “Flamingo” merupakan senjata jarak jauh yang dirancang untuk menargetkan instalasi kritis milik musuh. Dengan jangkauan yang sangat luas, senjata ini memberikan Ukraina kemampuan untuk menyerang sasaran di dalam wilayah Rusia tanpa perlu mendekati garis depan.

Kemampuan teknis rudal ini termasuk kemampuan untuk melampaui sistem pertahanan udara, serta kemampuan untuk menghancurkan struktur yang kuat. Selain itu, rudal ini juga dilengkapi dengan sistem navigasi canggih yang memungkinkannya menjangkau sasaran dengan akurasi tinggi.

Beberapa analisis menyebutkan bahwa penggunaan rudal Flamingo bisa menjadi tanda perubahan dalam dinamika perang, karena kemampuan serangan jarak jauh ini memungkinkan Ukraina untuk mengganggu pasokan logistik dan infrastruktur militer Rusia.

Dampak Serangan terhadap Operasi Militer Rusia

Serangan terhadap gudang senjata di Volgograd diprediksi akan memiliki dampak signifikan terhadap operasi militer Rusia. Gudang ini diperkirakan menyimpan amunisi penting yang digunakan untuk mendukung operasi di front barat.

Dengan kerusakan yang diduga terjadi, pasokan amunisi bagi pasukan Rusia bisa terganggu, terutama jika gudang tersebut menjadi salah satu pusat distribusi utama. Ini bisa memengaruhi kemampuan Rusia untuk menjaga posisi mereka di medan perang.

Namun, Rusia tetap mempertahankan klaim bahwa mereka berhasil menembak jatuh sebagian besar rudal yang dilepaskan. Meskipun begitu, dampak fisik dari serangan tetap menjadi pertanyaan besar yang masih harus dijawab oleh otoritas Moskow.

Pos terkait