Umrah dan Haji Terancam, Sektor Otomotif Jabar Terganggu Karena Ketegangan Iran-AS

6cd9f6b0 Fb85 11ee Ab52 7392f61be309.jpg 2
6cd9f6b0 Fb85 11ee Ab52 7392f61be309.jpg 2

Dampak Konflik Global terhadap Neraca Perdagangan Jawa Barat

Ketegangan geopolitik global kembali menjadi perhatian masyarakat, terutama karena potensi dampaknya terhadap ekonomi Indonesia. Jawa Barat, yang memiliki kontribusi signifikan dalam ekspor manufaktur, dikhawatirkan akan merasakan tekanan akibat eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, memberikan analisis mendalam mengenai risiko yang mungkin terjadi. Menurutnya, meskipun nilai perdagangan langsung antara Indonesia dan Iran relatif kecil, efek berantai dari konflik ini bisa sangat besar.

“Kalau kita lihat dampak langsung dari perdagangan, ekspor Indonesia ke Iran itu kurang lebih 249 juta dolar tahun lalu. Dan perdagangan Indonesia dengan Iran menyumbang surplus sekitar 240 juta dolar lebih,” ujar Acuviarta.

Ekspor tersebut mencakup beberapa komoditas seperti kendaraan bermotor, buah-buahan, dan minyak nabati. Komoditas-komoditas ini sangat penting bagi kawasan industri di Jawa Barat, sehingga gangguan pada jalur ekspor dapat memengaruhi kinerja industri secara keseluruhan.

Dampak Terhadap Jalur Logistik dan Pelayanan Ibadah

Eskalasi konflik tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga pada kawasan Jazirah Arab seperti Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Aksi balasan yang menyasar wilayah-wilayah ini berpotensi mengganggu lalu lintas perdagangan dan jasa.

“Kalau ini terus berlarut-larut, potensi ancaman gangguan terhadap umrah bahkan haji juga ada. Ini dampak eskalasinya bisa sangat besar,” tambah Acuviarta.

Bagi Jawa Barat, yang memiliki basis industri ekspor dan pelaku usaha perjalanan umrah-haji cukup banyak, gangguan jalur penerbangan dan distribusi bisa menjadi tekanan tambahan. Selain itu, ketidakpastian global membuat investor mengalihkan dana ke aset aman seperti emas dan dolar AS.

Kenaikan Harga Emas dan Pelemahan Rupiah

Dalam rangka pengamanan aset, bisa saja terjadi kenaikan harga emas karena ketidakpastian global. Tekanan terhadap rupiah juga tak terhindarkan karena Indonesia masih mengimpor minyak. Gangguan rantai pasok energi di Timur Tengah akan berdampak langsung pada nilai tukar.

“Nilai tukar kita ada potensi terkoreksi. Kenapa? Karena ada gangguan rantai pasok minyak, kita kan impor minyak juga. Termasuk gangguan terhadap kinerja ekspor kita,” jelasnya.

Strategi Pemerintah untuk Menghadapi Krisis

Acuviarta mendorong pemerintah mencari alternatif pasokan migas dan membuka pasar ekspor baru untuk mengantisipasi gangguan di kawasan tersebut. Ia menekankan pentingnya respons dinamis terhadap kondisi jangka pendek.

“Kita harus dinamis merespons kondisi jangka pendek ini. Harapan kita tidak berlanjut. Karena eskalasi kerugiannya bisa sangat besar. Bisa ke neraca perdagangan, investasi, nilai tukar, harga minyak, sampai harga emas,” pungkasnya.




Pos terkait