Upacara Piodalan Pura di Bali, Cek Jadwal & Lokasi!

Aa1jbai1 2
Aa1jbai1 2



bali.

, DENPASAR – Hari ini, Selasa (3/3), berdasarkan kalender Bali, masuk Anggara Wage Ugu.

Hari ini juga bertepatan dengan Purnama Kesanga, yang menjadi momen penting bagi masyarakat Bali dalam menjalankan ritual keagamaan.

Beberapa pura dan merajan di Bali menggelar upacara piodalan atau Dewa Yadnya. Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk pembersihan spiritual di setiap Parahyangan.

Menurut beberapa literatur, piodalan merupakan perayaan hari jadi tempat suci. Bagi masyarakat Bali, upacara ini menjadi kewajiban untuk membayar utang kepada Ida Hyang Widi Wasa beserta seluruh manifestasinya yang bersemayam di Pura Kahyangan Desa.

Piodalan yang dilakukan di Pura Kahyangan Desa biasanya digelar setiap enam bulan sekali, namun ada juga yang diselenggarakan setiap tahun. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan sejahtera.

Dalam lontar Sundari Gama, tertulis bahwa siapa pun yang tidak memelihara dan melaksanakan kewajibannya di Pura Puseh, maka masyarakat akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sandang dan pangan.

Bagi krama yang tulus menjalankan kewajibannya kepada Ida Hyang Widi Wasa, kehidupan akan berjalan rukun dan damai.

Berikut adalah jadwal dan lokasi piodalan di Bali pada hari Selasa (3/3) saat Anggara Wage Ugu:

  1. Pura Penataran sasih di Pejeng, Gianyar.
  2. Pura Bukit Mentik Gunung Lebah Desa Batur Kintamani.

Upacara piodalan ini tidak hanya menjadi ritual agama, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan antara dunia fisik dan spiritual.

Selain itu, piodalan juga menjadi ajang untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan antara sesama krama. Dengan melakukan ritual ini, masyarakat Bali menunjukkan rasa syukur dan penghormatan terhadap kekuatan gaib yang mereka percayai.

Ritual ini juga menjadi bentuk penghargaan terhadap para leluhur dan dewa-dewi yang dianggap sebagai pelindung dan penjaga kesejahteraan masyarakat.

Pemeliharaan dan pelaksanaan kewajiban di pura-pura tersebut sangat penting agar hubungan antara manusia dan alam semesta tetap terjalin dengan baik.

Masyarakat Bali percaya bahwa jika semua kewajiban agama dilaksanakan dengan benar, maka keberkahan akan datang secara alami.

Dengan demikian, piodalan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi bentuk kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga nilai-nilai keagamaan dan budaya yang telah turun temurun.

Pos terkait