Alun-Alun Kidul Surakarta, Tempat Ngabuburit yang Penuh Tradisi dan Kebersamaan
Di tengah suasana senja yang semakin menggugah perasaan, warga kota Surakarta mulai bergerak menuju satu titik yang menjadi pusat kegiatan selama bulan Ramadhan. Di Alun-Alun Kidul Surakarta, ruang terbuka yang menjadi tempat ngabuburit masyarakat sekitar, suasana mulai hidup dengan berbagai aktivitas yang menarik perhatian.
Di sisi selatan alun-alun, terdapat deretan “Kebo Bule” yang biasa dikirab oleh Keraton Kasunanan setiap malam sakral 1 Suro. Malam ini adalah momen pergantian tahun baru Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Lokasi ini berada di Jalan Gading, Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, yang hanya beberapa menit dari pusat kota. Aksesnya mudah dijangkau, baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Berbagai kantong parkir tersedia di sekitar area, memudahkan pengunjung yang datang sejak pukul 15.00 WIB.
Semakin sore, semakin ramai suasana di Alun-Alun Kidul. Keluarga datang bersama anak-anak, remaja berkumpul dengan teman sebaya, sementara sebagian lainnya hanya berjalan santai menikmati angin sore. Di tengah hamparan rumput yang luas, satu ikon selalu mencuri perhatian: Kerbau Bule Kyai Slamet, hewan pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta.
Kerbau-kerbau berkulit putih pucat kemerahan (warna khas akibat kelainan genetik) ditempatkan di kandang sisi barat daya alun-alun. Bukan sekadar tontonan, keberadaan mereka menjadi pengalaman interaktif bagi pengunjung. Anak-anak tampak antusias membeli seikat kangkung dari pedagang sekitar kandang. Dengan harga sekitar Rp3.000, mereka dapat merasakan sensasi memberi makan langsung sang kerbau bule.
Icha, salah seorang pengunjung, mengaku kerap datang bersama keponakannya. Baginya, suasana di Alun-Alun Kidul menghadirkan kesederhanaan yang menyenangkan. “Anak-anak dapat belajar berinteraksi dengan hewan, sementara orang dewasa menikmati momen kebersamaan yang jarang ditemui di tengah kesibukan harian,” ujar Icha.
Tak jauh dari kandang kerbau, warna-warni layang-layang menghiasi langit sore. Angin yang berembus stabil menjadikan alun-alun sebagai arena ideal untuk permainan nostalgia ini. Anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa tampak larut dalam keseruan menerbangkan layang-layang. Tawa dan sorak kecil terdengar setiap kali benang ditarik atau layangan berhasil melesat tinggi.
Hafidz, satu di antara pemain layangan, datang sejak pukul 16.00 WIB bersama teman-temannya. Biasanya, ia pulang setelah azan Magrib berkumandang. Baginya, ngabuburit bukan hanya tentang menunggu waktu berbuka, tetapi juga tentang merawat kedekatan dan kebersamaan.
Menjelang Magrib, aroma gorengan mulai menguar dari sisi barat dan timur kawasan. Deretan pedagang menjajakan aneka takjil, mulai dari makanan tradisional, minuman segar, hingga hidangan berat untuk berbuka. Pengunjung tak perlu beranjak jauh; cukup berjalan beberapa langkah untuk memilih menu berbuka sesuai selera.
Sebagian memilih duduk di tepi lapangan, menikmati langit yang perlahan berubah jingga. Anak-anak masih berlari kecil, layang-layang tetap menari di udara, sementara Kebo Bule sesekali menggerakkan kepalanya menerima suapan kangkung terakhir sore itu.
Di tengah kota yang terus bergerak, Alun-Alun Kidul Surakarta menghadirkan wajah Ramadhan yang hangat dan membumi. Di sini, ngabuburit bukan sekadar menunggu waktu, melainkan merayakan kebersamaan, dalam ruang terbuka yang memadukan tradisi, hiburan, dan cita rasa kuliner dalam satu tarikan napas senja.





